Cari

Memuat...

Jumat, 07 Maret 2014

ISPA dan Katarak, Penyakit yang Sering Ditemukan di Indonesia


Kupang Tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terkait kesehatan masih terbilang rendah terutama wilayah perbatasan ataupun pinggiran. Alhasil, penyakit yang ditemukan pun beragam. Setelah melakukan ekspedisi ke 16 provinsi Tim Ekspedisi Kemanusiaan Kelompok Marjinal (EKKM) 2014 Kementerian Sosial Republik Indonesia menemukan berbagai penyakit yang menyerang anak-anak dan lansia.

"Setiap daerah itu selalu ditemukan masalah sosial dan gangguan kesehatan. Seperti di Aceh misalnya masih banyak yang mengalami penyakit dalam. Buleleng dan Lampung banyak Lansia yang katarak," kata Ketua Tim Ekspedisi sekaligus Direktur Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Orang Dengan Kecacatan, Nahar, SH, Msi, Jumat (28/2/2014).

Salah satu relawan yang terlibat dalam ekspedisi ini mengatakan gangguan ISPA  (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan katarak masih banyak ditemukan di daerah perbatasan.

"Setelah berkeliling 16 provinsi masalah ISPA yang paling sering ditemui selain itu katarak juga banyak dialami lansia di daerah-daerah. Sakit tulang belakang juga banyak dikeluhkan masyarakat terutama daerah yang masih banyak profesi meladangnya," kata drg. Anita dari Lembaga Sosial Suara Kebenaran Internasional, Medan.

Untuk mengatasi hal ini, tim ekspedisi yang sudah menyambangi lintas Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur memberikan bantuan seperti alat bersih dan sehat dan beberaoa kebutuhan lainnya.

"Bakti sosial ini masuk ke dalam ruang lingkup kegiatan ekspedisi EKKM 2014, untuk anak-anak kami memberikan alat bersih dan sehat, vitamin untuk perkembangan otak, buku cerita dan lansia diberikan kacamata, alat bersih dan sehat serta kebutuhan lainnya. Selain itu Orang Dengan Kecacatan (ODK) juga diberikan bantuan, ada juga pelayanan kesehatan," kata drg. Anita.
(Mia/Mel)
Sumber: Liputan6.com

 Health News Mon, 03 Mar 2014 08:42:00 WIB 
http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed|0|0|5|8989

--------------------------------------------------------0--------------------------------------------------------------

Rabu, 05 Maret 2014

Usia Penderita Katarak di Indonesia Lebih Muda

Jakarta -  Gangguan penglihatan yang disebabkan oleh katarak umumnya berkaitan dengan proses degeneratif atau penuaan. Namun, berbeda dengan negara maju yang umumnya dialami usia lanjut, di Indonesia usia
penderita katarak jauh lebih muda.
Ketua Seksi Penanggulangan Buta Katarak Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (SPBK-Perdami), Yeni Dwi Lestari, mengatakan di negara maju penderita katarak berusia 50-60 tahun ke atas, sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia sudah dimulai dari usia 40 tahun.
Hal ini, kata dia, dipicu oleh semakin tingginya penderita Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis. Penderita kencing manis lebih berisiko tinggi dibanding orang normal.
"Artinya, semakin tinggi penderita kencing manis, semakin tinggi pula kasus katarak," kata Yeni seusai acara penyerahan donasi oleh Presiden Direktur Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaadmadja, berupa dana
sebesar Rp 385 juta untuk pembelian alat operasi katarak kepada SPBK-Perdami, di Jakarta, Selasa (25/2).
Yeni mengatakan, katarak merupakan kekeruhan lensa mata yang menyebabkan gangguan penglihatan. Jika sudah parah, selaput katarak dapat menghalangi masuk cahaya secara total, sehingga mengakibatkan kebutaan.
Di Indonesia, katarak merupakan sumber kebutaan yang paling umum. Setiap tahunnya terdapat 210.000 penderita katarak baru yang muncul.
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita katarak tertinggi di ASEAN, yaitu 1,5% dari seluruh penderita katarak di dunia. Angka kebutaan di Indonesia pun diperkirakan 1,5% dari seluruh penduduk, di mana sebagian besar atau 50% di antaranya disebabkan oleh katarak.
"Ini berkaitan dengan proses penuaan, karena di Indonesia usia harapan hidup semakin tinggi," katanya.
Para penderita katarak kebanyakan menyebar di daerah pesisir karena terpapar sinar matahari berlebihan, dan daerah terpencil karena akses terhadap layanan kesehatan kurang. Terutama di wilayah timur Indonesia
yang kondisi fasilitas kesehatan kurang memadai. Kondisi ini menyebabkan kesadaran dan kemampuan untuk mencegah maupun mengobati katarak masih terbatas. Ketika sudah mengalami kebutaan baru masyarakat mencari pengobatan.
Kasusnya pun cenderung meningkat. Penelitian yang dilakukan Perdami menunjukkan beberapa daerah di Sulawesi dan Jawa Barat mengalami kenaikan. Karenanya, ia menganjurkan masyarakat untuk mencegah risiko
terkena katarak di usia lebih awal, yaitu dengan kurangi terpapar sinar matahari dan perbaiki gaya hidup untuk mengindari kencing manis. Kalaupun sudah parah segera lakukan operasi.
Menurutnya, penanganan kebutaan di Indonesia belum jadi program prioritas Kementerian Kesehatan. Sampai sekarang belum ada subdit atau unit khusus mengatasi penyakit mata ini. Padahal setiap orang tua berisiko katarak. Namun yang perlu dicegah adalah kebutaan akibat katarak, yaitu dengan cara operasi.
Untuk mengobati kebutaan, penderita harus melakukan pembedahan untuk mengeluarkan lensa yang keruh tersebut, dan kemudian menggantinya dengan lensa tanam buatan.
"Operasi katarak dapat dilakukan dengan mikroskop dan mesin fako-emulsifikasi, yang memanfaatkan getaran ultrasonik untuk menghancurkan selaput katarak," ungkapnya
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaadmadja mengatakan, kebutuhan akan peralatan operasi katarak dengan harga terjangkau sangat diperlukan. Banyaknya kebutuhan ini mendorong BCA untuk memberikan donasi, berupa dana tunai guna membeli peralatan operasi, yaitu mikroskop dan mesin fako-emulsifikasi. Donasi ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan sekaligus dalam rangkaian kegiatan HUT ke-57 BCA tahun ini.
"Teknologi canggih ini diharapkan dapat memudahkan tenaga medis dan relawan untuk melakukan operasi katarak," Jahja.
Pasalnya, kata dia, minimnya peralatan operasi selama ini menjadi kesulitan organisasi profesi memberikan layanan operasi gratis kepada masyarakat. Alat ini sangat membantu Perdami memberikan layanan lebih luas ke semua daerah.

Selasa, 04 Maret 2014

Obat Terbatas, Pasien Terpaksa Bayar Klaim


Bengkulu : Kisruh tentang mekanisme tranfusi darah di RSUD M Yunus Bengkulu rupanya merembet ke permasalahan lain. Yaitu keterbatasan obat dan lensa pasien yang melakukan operasi katarak.
Para pasien BPJS yang dioperasi mata untuk mengangkat katarak di bola matanya harus membeli lensa tersebut dan beberapa jenis obat dengan biaya sendiri.
“Kami menerima permintaan klaim pembelian Intra Okuler Lens (IOL) dari pasien yang membeli sendiri. Padahal uang untuk itu sudah include dengan klaim biaya operasi sesuai ddengan INACBG sebesar Rp9 juta untuk satu kali operasi katarak,” jelas koordinator BPJS RSUD M Yunus Drg Jahrotin.
Selain ketidaktersediaan lensa IOL, RSUD M Yunus juga tidak menyediakan beberapa jenis obat termasuk obat tetes mata dan benang jahit operasi.
“Dalam aturan, semua obat disiapkan pihak rumah sakit dan kami membayar sesuai dengan topup biaya tindakan. Padahal klaim tagihan BPJS rumah sakit ini pada bulan Januari 2014 saja sudah mencapai Rp4,5 miliar,” lanjutnya.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD M Yunus Dr Syafriadi mengakui memang pihaknya tidak mampu menyediakan Lensa IOL dan beberapa jenis obat tersebut karena keterbatasan dana.
“Item klaim pembelian IOL kami tidak tahu. Yang jelas klaim kami satu paket tindakan operasi dan obat. Kami pun terpaksa membeli obat dengan harga regular sebab belum ada kesimpulan untuk membeli obat murah, jika dipaksakan kami akan bangkrut,” tegas Syafriadi.
Menurut dia, anggaran yang disiapkan oleh BPJS masih kurang dan harus ditinjau kembali. Memang ada beberapa unit tagihan yang dinaikkan, namun beberapa item tagihan justru sangat rendah.
Sumber: Liputan6.com
Health News Mon, 24 Feb 2014 16:04:00 WIB
Oleh Yuliardi Hardjo Putra

http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed|0|0|5|8985

 --------------------------------------------------------0------------------------------------------------------------


Kamis, 20 Februari 2014

Radiasi Percepat Timbulnya Katarak

JAKARTA, KOMPAS — Selain dipengaruhi faktor usia, katarak juga dipengaruhi paparan sinar ultraviolet yang berlebihan. Indonesia yang berada di daerah tropis dengan sinar matahari berlimpah, penduduknya harus lebih waspada terhadap kemungkinan terkena katarak.

”Pergunakan kacamata secara tepat untuk mencegah paparan ultraviolet yang berlebih,” kata dr Darwan M Purba, Direktur Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center (JEC) Kedoya, Sabtu (15/2), di Jakarta.

Katarak menyumbang 70 persen dari total 3,6 juta kasus kebutaan di Indonesia. ”Karena itu, katarak harus mendapat perhatian lebih” kata Darwan.

Katarak (endophthalmitis) merupakan infeksi mikroba berupa peradangan berat pada seluruh jaringan intraokular. Infeksi ini biasanya disertai rasa nyeri, kemerahan pada konjungtiva, serta bisa menyebabkan kebutaan. Jumlah penderita katarak di Indonesia terbesar ketiga di dunia, serta urutan pertama untuk kawasan Asia Tenggara.

Menurut dr Setiyo Budi Riyanto, spesialis mata yang juga Direktur Medik JEC Kedoya, katarak paling banyak ditemukan pada orang berusia lanjut, terutama di atas 50 tahun. Katarak tidak bisa ditangani dengan obat, tetapi harus ditangani melalui operasi. Kacamata hanya berfungsi mengurangi sementara kaburnya penglihatan.

Operasi katarak menggunakan pisau merupakan metode umum untuk memecahkan atau menghilangkan kekeruhan pada lensa. Namun, sejak dua tahun terakhir, RS JEC Kedoya telah melakukan metode operasi tanpa pisau atau bledeless laser cataract surgery dengan keberhasilan nol persen infeksi. ”JEC Kedoya telah melakukan 5.455 operasi katarak dari 2012-2014 dan tak ada infeksi pascaoperasi,” kata Darwan.

Pada operasi katarak dengan cara lama, kornea dibuka dan dilakukan pembedahan sepanjang 5-7 milimeter. Sementara pada operasi ini hanya membuka 1,4–2,2 milimeter. Dengan demikian, masa penyembuhan jauh lebih cepat. (A10)

Sumber :
Editor :
Asep Candra
 http://health.kompas.com/read/2014/02/17/0928180/Radiasi.Percepat.Timbulnya.Katarak

---------------------------------------------------------and-----------------------------------------------------------






OPERASI KATARAK MURAH 
Cukup dengan Rp.3.750.000/mata,
untuk keterangan lebih lanjut dapat hubungi :

www.katarak-info.blogspot.com
www.operasikatarak.blogspot.com
Philips: 0855 789 10 25

Ravael: 0813 190 429 60




Rabu, 19 Februari 2014

Jauhi Rokok untuk Tekan Potensi Katarak

SATU lagi alasan mengapa kebiasaan merokok perlu mengurangi kebiasaan merokok sekarang juga. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa menghentikan kebiasaan yang satu ini juga dapat mengurangi risiko terkena katarak.
Katarak? Ya. Katarak merupakan sebuah kondisi medis ketika lensa mata menjadi semakin keruh yang ditandai dengan penglihatan buram. Katarak diyakini menjadi penyebab utama munculnya gangguan penglihatan atau kebutaan (lebih dari 50 persen) atau prevalensinya 0,76 persen.
Para peneliti di Swedia menemukan, risiko katarak pada pria paruh baya yang merokok sedikitnya 15 batang per hari dapat menurun jika mereka berhenti melakukannya. "Berhenti merokok dapat mengurangi risiko katarak. Sebab merokok juga terkait dengan penyakit mata lain, maka strategi untuk mencegah dan mempromosikan stop merokok menjadi sangat penting," kata Dr. Birgitta Ejdervik Lindblad, salah seorang peneliti tentang efek rokok terhadap kesehatan mata seperti dilansir laman Autismandipad, Minggu (16/1).
Penelitian yang telah dipublikasikan dalam JAMA Ophthalmology ini melibatkan sekelompok pria penduduk Swedia berusia 45-79 tahun. Para peneliti memeriksa ada atau tidaknya hubungan antara berhenti merokok dengan lebih dari 5.700 kasus katarak selama 12 tahun terakhir.
Hasilnya ditemukan bahwa pria yang merokok lebih dari 15 batang rokok sehari memiliki risiko 42 persen lebih tinggi mengalami katarak dibandingkan pria yang tidak pernah merokok. Oleh karena itu, berhenti merokok dianggap dapat mengurangi risiko tersebut.
Katarak bisa muncul karena berbagai sebab. Misalnya kontak dalam waktu lama dengan cahaya ultra violet, radiasi, serta efek dari penyakit seperti diabetes dan hipertensi, usia lanjut, atau trauma.
Faktor-faktor genetik juga mungkin berperan memicu katarak pada usia yang lebih dini. Pada tahap tertentu, tak ada jalan lain untuk menyembuhkan katarak selain operasi.(fny/jpnn)

Sumber : 
http://www.jpnn.com/read/2014/02/17/216987/Jauhi-Rokok-untuk-Tekan-Potensi-Katarak- 










OPERASI KATARAK MURAH
Cukup dengan Rp.3.750.000/mata,
untuk keterangan lebih lanjut dapat hubungi :


www.katarak-info.blogspot.com
www.operasikatarak.blogspot.com
Philips: 0855 789 10 25

Ravael: 0813 190 429 60



Senin, 17 Februari 2014

Infeksi Usai Operasi Katarak Bisa 0% dengan Prosedur Tanpa Pisau Bedah Ini

Jakarta, Ketika mengalami katarak, sebagian orang terkadang lebih memilih membiarkan kondisi matanya tidak bisa melihat dengan jelas sebab takut dioperasi atau khawatir mengalami infeksi. Memang, dulu prosedur operasi katarak bersifat manual dan lebih rentan infeksi.

Kini, sudah ada terobosan baru berupa Bladeless Laser Cataract Surgery yakni operasi tanpa pisau dengan luka sayat hanya sepanjang 1,4-2,2 mm disertai satu jahitan atau tidak sama sekali. Bius yang digunakan adalah bius tetes. Di Indonesia, prosedur ini sudah diterapkan salah satunya di Jakarta Eye Center (JEC).

"Femtosecond Laser Cataract Surgery gampangnya kalau operasi femco yang motong bukan tangan dokter dengan pisau bedah tapi komputer, tidak pakai pisau bedah dan dengan laser," jelas dr. Darwan M. Purba, SpM selaku Presiden Direktur JEC Korporat di sela-sela 'Jakarta Eye Center International Meeting (JECIM) 2014' di The Ritz Carlton, Jakarta, dan ditulis pada Minggu (16/2/2014).

"Guidance-nya pakai mouse, diatur sentralisasinya posisi di tengah. Dilakukan secara streaming. Kalau sudah pas di-setting, diatur ketebalan kornea dan ketebalan kataraknya. Jadi semua ukuran terhitung lalu kantong lensa dibuka pakai sinar laser dan kataraknya tinggal ambil dengan semacam pencungkil yang disebut spatula," papar dokter spesialis mata lain dari JEC, dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM(K).

Keuntungan menggunakan Femtosecond Laser Cataract Surgery di antaranya minim sekali risiko infeksi pasca-operasi atau post-operative endophthalmitis. Ini merupakan infeksi yang berisiko terjadi pada seluruh operasi yang menembus mata bagian dalam. Infeksi yang terjadi berupa peradangan berat pada seluruh jaringan intraokular yang mengenai dua dinding bola mata yaitu retina dan koroid.

"Matanya jadi merah karena meradang, terus penglihatannya kabur. Ini besifat emergency karena kalau nggak segera diatasi dengan operasi bisa sebabkan kebutaan," kata dr Purba.

Pada operasi manual, digunakan pisau yang membuka kantung kornea lalu meninggalkan luka 10-15 mm dan membutuhkan 5-7 jahitan. Bius yang digunakan pun bius suntik. Baru di tahun 1990-an berkembang ultrasound technology yakni prosedur operasi katarak tanpa pisau melainkan menggunakan gelombang suara.

Bius yang digunakan adalah jenis tetes, lalu nantinya gelombang suara akan menghancurkan katarak yang kemudian diambil. Prosedur ini meninggalkan luka sepanjang 1,4 mm-2,2 dan membutuhkan satu jahitan atau tidak sama sekali.

"Jadi bisa dibilang Femtosecond Laser Cataract Surgery ini yang paling mutakhir. Selama dua tahun berturut-turut JEC@Kedoya berhasil melakukannya sehingga zero infection setelah operasi Katarak. Ini membuktikan kalau Indonesia juga nggak kalah sama negara lain," papar dr Budi.

Untuk biaya operasi ini, dibutuhkan sekitar Rp 22.500.000 untuk satu mata. Tarif ini memang dua kali lipat dari tarif operasi katarak biasa.

(rdn/vit)
 SUMBER :
 http://health.detik.com/read/2014/02/16/083047/2498685/763/infeksi-usai-operasi-katarak-bisa-0-dengan-prosedur-tanpa-pisau-bedah-ini?991104topnews

Minggu, 16 Februari 2014

Pasti Terjadi, Tapi Munculnya Katarak Bisa Diperlambat

Jakarta, Katarak merupakan kelainan degeneratif di mana seiring bertambahnya usia, kornea mata yang awalnya jernih menjadi keruh. Meski begitu, katarak masih bisa dihindari dalam artian waktu terjadinya dapat diperlambat.

"Semua orang pasti kena katarak, hanya gradasinya saja yang berbeda. Kita mencegahnya supaya katarak nggak cepat muncul dengan cara hindari sinar ultraviolet dengan mengurangi paparan sinar matahari," jelas dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM(K).

Apalagi, Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang wilayahnya banyak mendapat sinar matahari. Sehingga, tingginya sinar matahari membuat banyaknya penderita katarak di Indonesia. Meskipun di dunia India-lah negara dengan jumlah pasien katarak tertinggi sedangkan Indonesia menempati posisi ketiga.

Di Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi pertama jumlah penderita katarak. Hal itudisampaikan dr Budi dalam 'Jakarta Eye Center International Meeting (JECIM) 2014' di The Ritz Carlton, Jakarta, Sabtu (15/2/2014).

Pernyataan serupa diutarakan dr. Darwan M. Purba, SpM selaku Presiden Direktur JEC Korporat bahwa katarak tidak bisa dihindari hanya ditunda saja kejadiannya. Bahkan, dr Purba mengatakan ia sering berkelakar pada pasiennya tentang bagaimana menghindari katarak.

"Kalau orang sudah umur 50 tahun ke atas kan sudah ada uban, ada cucu, dan ada katarak juga. Itu sudah satu paket, jangan mau cucu sama ubannya tapi nggak mau terima kataraknya. Siap nggak siap katarak harus dihadapi," kisah dr Purba sambil tertawa.

Meskipun kasus terbanyak katarak adalah katarak senilis yang terjadi pada manula di atas 50 tahun, terdapat pula beberapa jenis katarak di antaranya katarak sejak lahir, katarak komplikata (karena komplikasi penyakit lain) dan katarak traumata.

"Ini sudah kontrak alam. Cuma, kalau umur pasiennya ada pergeseran, dulu orang jarang baca bahkan mungkin buta huruf karena untuk kerja mencangkul aja cukup. Kalau sekarang dia smsan, karena kemajuan teknologi pernglihatannya lebih tajam. Sekarang umur 50 udah susah baca, nonton tv nggak nyaman, lihat arloji nggak," kata dr Purba.

(rdn/vit)
Sumber : 
http://health.detik.com/read/2014/02/15/142846/2498453/763/pasti-terjadi-tapi-munculnya-katarak-bisa-diperlambat?991104topnews


Minggu, 09 Februari 2014

70% Kebutaan di Indonesia Disebabkan Katarak

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebanyak 70 persen dari 3,6 juta angka kebutaan di Indonesia dimulai dari katarak. Katarak adalah kondisi kekeruhan pada lensa mata dengan berbagai tingkatan dan pemicu.

"Penderita katarak mengalami gangguan penglihatan atau buta dan itu akan menurunkan kualitas hidup, karena mau tak mau mereka harus bergantung pada orang lain," kata SHarita Siregar, Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Ulang Tahun ke-30 Jakarta Eye Centre (JEC), pada konferensi pers JEC Gelar 400 Operasi Katarak Gratis di JEC Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu (8/2).

Padahal, menurut Sharita, 3/4 dari total kebutaan bisa disembuhkan, termasuk yang diakibatkan katarak. "Alasan itu pula yang menguatkan komitmen JEC untuk membantu penderita katarak mendapatkan kembali kemandirian dan masa produktif mereka," terang Sharita.

Dalam rangka ulang tahun ke-30, JEC menggelar Operasi Katarak Gratis untuk 400 penderita katarak di Indonesia. Bekerja sama dengan Gerakan Matahati sebagai mitra JEC dalam memberantas buta katarak di Indonesia, kegiatan ini juga mendukung visi pemerintah mewujudkan 2020 bebas katarak.

SUMBER :
 http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2014/02/08/6/214281/70-Kebutaan-di-Indonesia-Disebabkan-Katarak


GOOD JOB!!!

Jumat, 07 Februari 2014

112 Warga Mukomuko Derita Katarak Berat

REPUBLIKA.CO.ID, MUKOMUKO, BENGKULU -- Dinas Kesehatan Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, menemukan sedikitnya 112 orang warga setempat menderita penyakit mata katarak berat.

"Petugas puskesmas telah melakukan screning atau pemeriksaan sebanyak 262 warga yang mengalami penyakit mata katarak, sebanyak 112 orang, diantara penderita berat," kata Kabid Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Mukomuko, Junharto, di Mukomuko, Ahad (2/2).

Hal itu menanggapi jumlah final peserta operasi mata katarak gratis saat Hari Ulang Tahun daerah itu ke-11, di Mukomuko, Ahad. Ia mengatakan, dari hasil screning penyakit mata katarak yang di derita oleh sebanyak 112 orang ini, hampir semua bagian mata tertutup warna putih.

Menurut dia, warga dengan penyakit mata katarak berat ini susah untuk melihat benda-benda yang berada di dekatnya, apalagi benda yang sangat jauh. Lalu, mereka ini direkomendasikan untuk menjadi sasaran kegiatan operasi mata katarak gratis di daerah itu.

Ia menerangkan, sampai saat ini sebanyak 454 orang penderita mata katarak berat yang telah menjalani operasi gratis yang digelar dua kali di daerah itu yakni tahun 2012 dan 2013.

"Kegiatan ini digelar oleh Komda Lansia dan PKK, selanjutnya kegiatan ini diusulkan jadi program pemerintah setempat agar pelaksanaanya setiap tahun," ujarnya lagi.

SUMBER:
http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/02/02/n0d95d-112-warga-mukomuko-derita-katarak-berat

Rabu, 29 Januari 2014

Alami Katarak? Segera Operasi Agar Tak Terjadi Kebutaan

Liputan6.com, Jakarta : Seiring bertambahnya usia seseorang, semakin parah pula kondisi matanya. Tak jarang di usia yang relatif tua, banyak orang yang menderita penyakit katarak.

Bila katarak ini terjadi pada Anda atau keluarga terdekat Anda, segeralah untuk melakukan pengobatan. Sebab, saat ini katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan di Indonesia. Anda pasti tidak mau 'kan, kalau ini sampai terjadi pada diri Anda?

Dalam acara bertajuk 'SOHO #BetterU: Lima Penyakit Mata Tersering di Masyarakat Indonesia & Hari Penglihatan Sedunia', di Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, ditulis Kamis (10/10/2013) Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, SpM mengatakan, bahwa lebih dari 80 persen penyebab kebutaan dapat dicegah atau diobati, termasuk katarak ini.

"Katarak bisa diobati. Katarak juga dapat disembuhkan dengan cara operasi. Jangan takut merasakan sakit ketika operasi katarak, karena memang operasi katarak tidak sakit sama sekali," kata Nila.
Meskipun penyakit katarak ini dapat diobati, sayangnya masih terjadi penumpukkan penderita (backlog) katarak yang cukup tinggi.

Menurut Nila F. Moeloek hal ini terjadi karena beberapa hal, yaitu masih kurangnya pengetahuan masyarakat, tingginya biaya operasi, keterbatasan tenaga, dan fasilitas pelayanan kesehatan mata.
Lebih lanjut wanita berambut panjang itu mengatakan, katarak merupakan penyakit mata yang disebabkan karena lensa mata yang keruh, sehingga masuknya cahaya pada retina terhalang.

Maka itu, mengapa operasi katarak ini sangat penting karena akan mengangkat lensa berkabut yang sudah tua, dan menggantinya dengan implantasi lensa yang baru.
Masih dalam kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Mata dan Direktur Jakarta Eye Center, Dr. Johan Hutahuruk, MD mengatakan, bahwa katarak ini masuk ke dalam daftar lima penyakit mata yang paling sering terjadi di kalangan masyarakat Indonesia.

"Katarak umumnya disebabkan karena proses penuaan, tapi paparan sinar ultraviolet, penggunaan obat-obatan seperti steroid dan diabetes, juga dapat meningkatkan faktor risiko katarak," ujar Johan.
(Adt/Igw)

sumber
http://health.liputan6.com/read/716284/alami-katarak-segera-operasi-agar-tak-terjadi-kebutaan/?related=pbr&channel=h