Cari

Memuat...

Jumat, 02 Desember 2016

Duh, Masyarakat Indonesia Rawan Terserang Katarak

Duh, Masyarakat Indonesia Rawan Terserang Katarak

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Dengan negara yang terletak di kawasan tropis dekat katulistiwa, masyarakat Indonesia ternyata rentan terkena gangguan mata katarak, demikian diutarakan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek.
"Di negara tropis itu paparan sinar ultraviolet lebih tinggi daripada di negara nontropis. Sinar ultraviolet memicu katarak," ujarnya di kantor Kemenkes Jakarta, Jumat (7/10/2016) menyangkut Hari Penglihatan Sedunia 2016.
Menkes mengklaim jika tingkat kerawanan itu meningkat karena ozon di mantel bumi, yang bertindak sebagai filter sinar ultraviolet, semakin berlubang karena efek rumah kaca. Hasilnya, sinar ultraviolet makin banyak masuk bumi, terutama di kawasan tropis macam Indonesia.
Dengan latar belakang sebagai dokter spesialis mata, Menkes menyebut jika fakta itu sudah dibuktikan dengan data penderita katarak yang lebih tinggi di negara tropis ketimbang negara nontropis seperti  Eropa dan Amerika Serikat.
Menurut Menkes,  usia penderita katarak di Indonesia umumnya dimulai pada 56 tahun, beda dengan negara nontropis di mana penderita katarak banyak diidap pada usia 70 tahun.
Penyakit katarak sendiri merupakan gangguan di mana pada lensa mata muncul bagian keruh yang biasanya tampak cukup bening tetapi mengaburkan penglihatan. Seiring pertambahan usia, umumnya lensa mata perlahan-lahan akan keruh serta berkabut. (*)

sumber:
http://www.timesindonesia.co.id/read/134239/20161008/052228/duh-masyarakat-indonesia-rawan-terserang-katarak/



Pandangan Berkabut, Bisa Jadi Mata Anda Terkena Penyakit Katarak, Segera Periksakan Diri

Pandangan Berkabut, Bisa Jadi Mata Anda Terkena Penyakit Katarak, Segera Periksakan Diri

Mata merupakan satu diantara organ penting bagi manusia. Lewat mata, manusia menyerap informasi visual yang digunakan untuk beraktivitas sehari-hari.
Namun seiring bertambahnya usia, mata bisa mengalami beberapa gangguan. Salah satunya adalah katarak.
Penyakit katarak yang tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan kebutaan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui penyebab dan gejalanya sebelum terlambat.
Hal tersebut disampaikan oleh dr. Novanita Shirley Satolom, Sp.M dari Siloam Hospitals Manado Sabtu (8/10).
Dia menjelaskan bahwa katarak merupakan penyakit mata yang ditandai dengan terjadinya kekeruhan pada lensa mataseseorang, sehingga cahaya dari luar tidak dapat menembusnya.
Kekeruhan pada lensa mata tersebut bervariasi sesuai tingkatannya, ada yang tidak terlalu buram hingga buram total.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang terkena katarak. Menurut dr. Novanita, penyebab yang paling umum adalah faktor penuaan yang biasanya terjadi pada usia di atas 60 tahun.
Selain karena usia, adapula faktor penyebab lainnya seperti faktor genetik, terpapar sinar ultraviolet dalam waktu lama, pernah mengalami cedera pada mata, mengonsumsi obat kortikosteroid dalam waktu lama, pernah mendapatkan perawatan medis dengan radiasi, hingga penderita penyakit diabetes melitus dan hipertensi yang berisiko dua kali lebih besar terkena katarak.
“Gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan mengonsumsi alkohol juga bisa meningkatkan risiko seseorang terkena katarak. Asap rokok menghasilkan radikal bebas yang dapat merusak antioksidan di mata, begitu pula dengan minuman beralkohol yang sifatnya memproduksi radikal bebas,” papar dr. Novanita.
Baca selanjutnya......... 
Sumber : http://manado.tribunnews.com/2016/10/09/pandangan-berkabut-bisa-jadi-mata-anda-terkena-penyakit-katarak-segera-periksakan-diri

Senin, 28 November 2016

Ingat, Cegah Kebutaan Tak Bisa Dilakukan Dokter Saja

Ingat, Cegah Kebutaan Tak Bisa Dilakukan Dokter Saja

Data tentang jumlah pengidap kebutaan di Indonesia diakui masih simpang siur. Prof dr Suhardjo, SU, SpM(K) dari Fakultas Kedokteran UGM-RSUP Dr Sardjito mengatakan angkanya berkisar antara 0,4 - 0,5 persen dari keseluruhan populasi.

"Ada juga yang mengatakan 1 persen, artinya 1 dari 100 orang di Indonesia mengalami kebutaan," jelasnya kepada wartawan di Poli Mata RSUP Dr Sardjito baru-baru ini.

Meskipun kecil, arti dari persentase ini tak bisa diremehkan. Menurut perhitungan Prof Suhardjo, bila jumlah penduduk Indonesia saat ini berkisar 255 juta orang, 0,4 persen berarti 4,2 juta orang mengalami kebutaan. Padahal angka ini masih belum pasti.

Bahkan di beberapa daerah prevalensi kebutaannya lebih tinggi, terutama di daerah perifer atau pinggiran. Seperti terungkap dalam hasil Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi katarak (penyebab utama kebutaan di Indonesia) pada seumur umur adalah 1,8 persen.

Prevalensi katarak tertinggi di Sulawesi Utara (3,7 persen), diikuti oleh Jambi (2,8 persen) dan Bali (2,7 persen). Sedangkan prevalensi katarak terendah ditemukan di DKI Jakarta (0,9 persen), diikuti oleh Sulawesi Barat (1,1 persen).

"Di Jawa Barat juga masih ada, rata-rata masih di atas 1 persen, kecuali DKI tadi," imbuhnya.

Padahal ahli oftalmologi tersebut mengatakan, jikalau telah mencapai angka di atas 1 persen, itu berarti penanganan kebutaan tak lagi bisa bergantung pada peranan dokter mata saja, tetapi juga peranan sektor lain seperti sosial.

Aplagi Prof Suhardjo menyebut faktor risiko kebutaan tidak semata karena gangguan kesehatan. "Orang miskin itu peluang sakit matanya juga besar, mau berobat juga mahal. Jadi bisa dikatakan kemiskinan menyebabkan kebutaan, begitu juga sebaliknya," katanya.


Ditemui dalam kesempatan yang sama, dr Agus Supartoto, SpM(K) dari Persatuan Dokter Mata Indonesia cabang DI Yogyakarta menyampaikan, oleh karena itu upaya pencegahan terhadap kebutaan harus dinomorsatukan. Sebab sebagian besar persoalan di balik kebutaan sebenarnya tak jauh-jauh dari kurangnya pemahaman terhadap gangguan mata dan juga faktor teknis.

"Di daerah pelosok seperti Wonosari (Gunung Kidul), mereka masih terhambat pada transportasi dan pengetahuan. Ini terbukti ketika baksos, kami menemukan sudah banyak yang tidak bisa dioperasi," keluhnya.

Di daerah yang jauh dari perkotaan, dr Agus juga menemukan banyak kasus kesalahan diagnosis, padahal bila ternyata pasien mengalami glaukoma atau gangguan mata yang berat, ini tentu sudah sulit untuk dipulihkan kembali.

Badan Internasional untuk Pencegahan Kebutaan menyebut, 80 persen kasus kebutaan di dunia dapat dihindari jika masyarakat mendapatkan layanan mata yang komprehensif, dan kunci untuk memelihara kesehatan mata adalah dengan deteksi dini secara teratur.

Sumber : http://health.detik.com/read/2016/10/13/103546/3319591/763/ingat-cegah-kebutaan-tak-bisa-dilakukan-dokter-saja 



OPERASI KATARAK MURAH

Cukup dengan Rp.3.750.000/mata,

 untuk keterangan lebih lanjut dapat hubungi :

Philips: 0855 789 10 25

Ravael: 0813 190 429 60


Sabtu, 26 November 2016

WASPADA!! Usia Ini Jika Terlambat Periksa Bisa Buta

WASPADA!! Usia Ini Jika Terlambat Periksa Bisa Buta

PROKAL.COBALIKPAPAN – Para lansia sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan mata. Sebab, memasuki usia 50 tahun ke atas rentan mengalami katarak. Penyakit ini tak bisa diobati, tapi harus diangkat. Jika terlambat bisa menimbulkan kebutaan.
Sebagai bentuk perhatiannya, Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan selalu menggelar operasi katarak gratis. Kepala DKK Balikpapan Ballerina mengatakan, katarak tak dapat dihindari. Karena merupakan penyakit faktor usia.
“Katarak tak bisa diobati. Satu-satunya cara dengan pengangkatan lapisan katarak pada lensa. Serta menanam lensa sintesis untuk membantu melihat dengan jelas. Sehingga risiko terganggunya produktivitas karena kebutaan bisa dihindari,” jelasnya.
DKK memberikan pelayanan operasi katarak gratis saban tahun. Dengan syarat,  masyarakat telah melalui screening mata di puskesmas atau dokter mata. Tiap tahun, DKK melakukan operasi katarak gratis bagi 100 orang. Dengan dana APBD sebesar Rp 200 juta dan bantuan dari persatuan dokter mata Indonesia serta BPJS.
"Angka kejadian katarak 0,78 persen. Dengan program operasi kami harap bisa menekan angka penderita," ucapnya.
Ia juga mengimbau, bila mata mulai merasa kabur, segera memeriksakan diri di Puskesmas terdekat. "Kami juga punya program pemeriksaan mata gratis untuk deteksi dini. Serta pemberian kacamata bagi masyarakat yang menderita refraksi (menurunnya akomodasi lensa mata)," tutupnya. (*/ane/rsh/k9)
sumber : http://kaltim.prokal.co/read/news/280866-terlambat-periksa-bisa-buta.html




OPERASI KATARAK MURAH
Cukup dengan Rp.3.750.000/mata,
 untuk keterangan lebih lanjut dapat hubungi :
Philips: 0855 789 10 25
Ravael: 0813 190 429 60

Kamis, 24 November 2016

285 Juta Orang di Dunia Alami Kebutaan

285 Juta Orang di Dunia Alami Kebutaan


Hingga saat ini data menunjukkan setidaknya 285 juta orang di dunia mengalami kebutaan dan sekitar 80 persen kasus tersebut dapat dihindari jika masyarakat mendapatkan layanan mata yang komprehensif.
"Menurut Badan Internasional untuk Pencegahan Kebutaan, 80 persen kasus-kasus kebutaan dapat dihindari jika masyarakat mendapatkan layanan mata yang komprehensif," ungkap Spesialis mata sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Suhardjo pada acara Hari Kesehatan Nasional ke-52, di Hotel Neo Yogyakarta, Rabu (2/11).
Ia mengatakan, katarak merupakan penyakit mata akibat terjadinya kekeruhan pada lensa mata, dan penyakit ini merupakan penyebab kebutaan terbanyak di negara-negara berkembang.
Suhardjo menuturkan, banyak faktor risiko penyebab terjadinya katarak, diantaranya usia, genetik, merokok, paparan ultraviolet, diabetes dan penggunaan stereoid.
Data Riskesdas tahun 2013 mencatat, prevalensi katarak pada semua umur adalah 1,8 persen. Prevalensi tertinggi di Sulawesi Utara 3,7 persen, disusul Jambi 2,8 persen dan Bali 2,7 persen. Sementara prevalensi katarak terendah ditemukan di DKI Jakarta 0,9 persen diikuti Sulawesi Barat 1,1 persen.
Menurut dia, sebagian besar penderita katarak di Indonesia belum menjalani operasi karena ketidaktahuan mengenai penyakit yang dideritanya dan ketidaktahuan jika buta katarak dapat dioperasi atau sebanyak 51,6 persen.
Selain itu, tambah dia, tidak sedikit dari mereka yang menderita katarak belum operasi karena tidak mampu membiayai sekitar 11,6 persen dan tidak berani sebanyak 8,1 persen.
"Mahal dan kurang edukasi yang menjadikan masyarakat takut. Padahal, tidak apa-apa karena bagaimanapun katarak tidak bisa diobati, hanya bisa dengan operasi," jelas Suhardjo.

Senin, 21 November 2016

Pasien Katarak Belum Operasi, Ini Alasannya

Pasien Katarak Belum Operasi, Ini Alasannya

Spesialis dokter mata, Prof. dr. Suhardjo menyebut menyatakan angka prevalensi katarak di DIY tiap tahun bertambah 0,1 persen dari jumlah penduduk.Suhardjo mengatakan sebagian besar penduduk dengan katarak di Indonesia belum menjalani operasi katarak karena faktor ketidak tahuan penderita soal penyakit katarak yang dideritanya. Alasan kedua, kata dia, penderita katarak belum dioperasi karena tidak dapat membiayai operasi, dan alasan lainnya tidak berani operasi.
“Biaya operasi katarak dengan jahitan umumnya Rp4-5 juta, kalau tanpa jahitan sampai Rp10 juta,” kata Suhardjo yang sehari-harinya prakter di Rumah Sakit Mata Dr.Yap dan juga pengurus Perdami Cabang DIY.
Suhardo menambahkan selain katarak yang perlu diwaspadai adalah Miopia atau kelainan refraksi dimana fokus bayangan terletak di depan retina atau lebih mata minus. Kelainan itu diakuinya sering dijumpai pada anak sehingga bisa mengganggu fokus belajar. Data Riskesda 2013, kelainan refraksi pada usia lebih dari enam tahun 9,2 persen.Penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran UGM pad 2015, pada anak usia 6-13 tahun menunjukan dari anak yang mengalami keluhan penglihatan di kelas 42,2 persen memiliki kelainan refraksi (penurunan tajam penglihatan) dan 32,8 persen terdiagnosa miopia.
“penanganan koreksi kecamata yang terlambat dan kurang tepat dapat mengakibatkan gangguan penglihatan permanen,” kata Suhardjo.
Menurut Suhardjo sebenarnya kepdulian pemerintah dalam mengatasi katarak sudah ada namun belum optimal. Karena itu perlu dibantu melalui kerja sosial pengobatan katarak gratis bagi warga yang kurang mampu.
Ketua Jogja Eye Help, Tri Kirana Muslidatun mengatakan operasi katarak gratis akan dilksanakan di Rumah Sakit Happy Land pada 12 November mendatang. Hanya, operasi katarak tahap ini dikhususnya bagi yang ber-KTP Jogja. Berikutnya juga akan dilesenggarakan di Bantul, dan kabupaten lainnya.
Untuk tahap pertama peserta dibatasi sampai 60 pasien karena menyesuaikan dengan tenaga medis. Sebelum operasi terlebih dahulu akan discrening pada 5 November. Ana-sapaan akrabnya menyatakn pihknya bersma Perdami dan Happy Land bertanggungjawab melakukan pengobatan katarak sampai sembuh, “Setelah dioperasi nanti akan kita cek terus perkembangannya,” kata Ana.
Ana meminta warga Jogja khususnya baik anak-anak mau pun lansia yang mengalami gangguan penglihatan bisa segera memeriksakan diri. Selain operasi gratis, pihaknya juga akan melakukan pemeriksaan mata pada anak usia SD-SMP ke sekolah-sekolah dan membagikan kacamata gratis bagi yang menderita mata minus.
sumber : 
http://www.harianjogja.com/baca/2016/11/03/kesehatan-mata-pasien-katarak-belum-operasi-ini-alasannya-765790




OPERASI KATARAK MURAH
Cukup dengan Rp.3.750.000/mata,
 untuk keterangan lebih lanjut dapat hubungi :
Philips: 0855 789 10 25
Ravael: 0813 190 429 60

Sabtu, 19 November 2016

Penderita Katarak di DIY Bertambah 3.000 Orang Per Tahun

Penderita Katarak di DIY Bertambah 3.000 Orang Per Tahun

YOGYAKARTA – Angka penderita katarak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tiap tahun bertambah 0,1 persen dari jumlah penduduk.
Menurut spesialis dokter mata, Prof. Suhardjo menyebut menyatakan angka prevalensi katarak di DIY tiap tahun bertambah 0,1 persen dari jumlah penduduk.
“Pada umumnya faktor penyebab katarak karena usia tua di atas usia 60, tapi bisa juga usia muda karena faktor diabetes,” kata spesialis dokter mata, Prof. Suhardjo, seperti dikutip dari Harianjogja.com, Kamis (3/11/2016).
Jika jumlah penduduk DIY berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2014 lalu sekira 3,594 juta, maka ada sekira 3.594 orang penderita katarak di DIY per tahunnya.
Menurut Suhardjo, angka prevalensi itu bisa bertambah dan menumpuk jika tidak dilakukan pengobatan. Meski demikian, angka prevalensi katarak di DIY itu masih lebih kecil dibanding daerah lainnya.
Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013 lalu, prevalensi katarak tertinggi ada di Sulawesi Utara mencapai 3,7 persen, diikuti Jambi 2,8 persen dan Bali 2,7 persen.

Rabu, 16 November 2016

Kurangi Konsumsi Gula Agar Terhindar dari Katarak

Gula tak pernah bisa terlepas masyarakat di Indonesia. Ternyata, konsumsi gula ini ikut berpengaruh terhadap timbulnya berbagai penyakit. Tak hanya diabetes, kebanyakan kadar gula di dalam tubuh bisa menyebabkan penyakit mata katarak.
Pengajar Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran UGM Prof Suharjo mengungkapkan, selain usia, penderita katarak di DIJ juga banyak disebabkan faktor penyakit diabetes. Pola hidup dengan banyak mengonsumsi gula menjadi penyebabnya.
”Biasanya, penderita katarak karena diabates terjadi pada usia 50 tahun,’’ ujarnya.
Dia menyebut, meski kerap menyerang saat usia menginjak kepala lima ke atas, katarak juga bisa terjadi bagi usia di bawahnya. Makanya, mengurangi konsumsi gula menjadi salah satu pilihan untuk mencegah terjadinya katarak. ”Tapi lebih kepada faktor keturunan atau genetika, penyakit, dan sinar ultra violet saja,” jelasnya.
katarak hanya bisa disembuhkan melalui operasi. Masyarakat juga tidak perlu khawatir dengan keberadaan operasi katarak. Sebab, sebagian besar operasi katarak berhasil asalkan pasien menuruti anjuran dokter. “Penyebab gagalnya operasi hanya karena infeksi. Namun hal itu kecil terjadi,” katanya.
Keberadaan operasi katarak bagi kalangan tidak mampu terbilang mahal. Untuk operasi dengan menggunakan jahitan biasa berkisar Rp 4 juta dan Rp 10 juta tanpa jahitan. “Maka dari itu, menjaga kesehatan sangat penting untuk mencegah terjadi katarak,” jelasnya.
Ketua Jogja Eye Help Tri Kirana Muslimatun mengungkapkan keberadaan lansia di Jogja mencapai 14 ribu jiwa. Sebagian besar belum memahami mengalami katarak.”Keluhan yang sering diutarakan oleh lansia mata blawur. Padahal itu bagian dari indikasi penderita katarak,” kata Tri yang juga ketua Komda Lansia Jogja
sumber :
http://www.radarjogja.co.id/kurangi-konsumsi-gula-agar-terhindar-dari-katarak/



OPERASI KATARAK MURAH
Cukup dengan Rp.3.750.000/mata,
 untuk keterangan lebih lanjut dapat hubungi :
Philips: 0855 789 10 25
Ravael: 0813 190 429 60

Senin, 14 November 2016

15 Dampak Rokok yang Jarang Dipublikasikan

RAKYATKU.COM - Banyak penelitian yang membeberkan dampak kesehatan akibat rokok. Dari situs Kementerian Kesehatan, masih ada beberapa dampak rokok yang jarang dipublikasikan.
Dampaknya bagi tubuh berlaku dari ujung rambut sampai kaki. Berikut daftarnya:
1. RAMBUT RONTOK. Rokok memperlemah sistem kekebalan, sehingga tubuh lebih rentan terhadap penyakit seperti lupus erythematosus yang menyebabkan rambut rontok, sariawan mulut, dan erupsi cutan (bintik merah) diwajah, kulit kepala dan tangan.
2. KATARAK. Merokok dipercaya dapat memperburuk kondisi mata. Katarak, yaitu memutihnya lensa mata yang menghalangi masuknya cahaya yang dapat menyebabkan kebuataan, 40% terjadi pada perokok. Rokok dapat menyebabkan katarak dengan cara mengiritasi mata dengan terlepasnya zat-zat kimia di paru-paru yang oleh aliran darah dibawa sampai kemata.
3. KULIT KERIPUT. Merokok dapat menyebabkan menuaan dini pada kulit karena rusaknya protein yang berguna untuk menjaga elastisitas kulit, terkikisnya vitamin A, dan terhambatnya aliran darah. Kulit perokok menjadi kering dan keriput terutama didaerah bibir dan mata.
4. KANKER KULIT. Merokok tidak menyebabkan melonoma, tetapi merokok dapat menyebabkan meningkatkan kemungkinan kematian akibat penyakit tersebut. Ditengarai bahwa perokok berisiko menderita cutaneus squamus cell kanker, sejenis kanker yang meninggalkan bercak pada kulit.
5. HILANGNYA PENDENGARAN. Karena tembakau menyebabkan timbulnya endapan pada dinding pembuluh darah sehingga menghambat laju aliran darah ke dalam telinga bagian dalam. Perokok dapat kehilangan lebih awal daripada orang yang tidak merokok atau lebih mudah kelihangan pendengaran karena infeksi pendengaran.
*lengkapnya baca dari sumber*
sumber : http://health.rakyatku.com/read/26805/2016/11/05/15-dampak-rokok-yang-jarang-dipublikasikan

Sabtu, 12 November 2016

Hindari Radiasi saat Usia Senja dengan Kacamata

PROKAL.COSEIRING dengan bertambahnya usia, kemampuan fungsi organ tubuh akan terus menurun. Tak terkecuali dengan mata. Untuk urusan mata, memang gaya hidup sangat berpengaruh dan tidak bisa dianggap remeh. Pada dasarnya tiap orang di atas 50 tahun berisiko menderita Age Macular Degeneration (AMD).
Kondisi ini susah dihindarkan karena hal ini alamiah. AMD merupakan gangguan mata akibat terjadinya penuaan sel-sel dalam retina yang progresif. Ada lapisan tipis dari jaringan yang terbentuk di dalam dinding belakang mata. Walhasil, penglihatan bisa rabun. Untuk masalah ini, risiko tiap orang ada dua. Pertama, akibat gaya hidup dan faktor genetis.
Meski begitu, ada beberapa hal yang bisa dibiasakan untuk mencegah masalah mata sejak dini. “Pada dasarnya, masalah mata itu, disebabkan faktor internal dan eksternal. Kondisi sehari-hari, pola makan, pemakaian benda-benda di mata juga sangat memengaruhi,” terang spesialis mata Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie (RSUD AWS) Samarinda dokter Baswara NEW.
Dia mencontohkan, hal yang kerap dilupakan orang adalah memakai kacamata saat berada di luar ruangan. Banyak yang abai dengan hal ini. Padahal, kacamata akan membantu melindungi mata dari radiasi ultraviolet matahari. Selain itu, gaya hidup sehat dengan banyak konsumsi sayur dan buah, jadi hal penting.
Sebab, makanan yang kaya akan karotenoid dan antioksidan seperti yang ada di wortel, tomat, atau labu bisa membantu memperlambat penurunan penglihatan. Sebab, kedua jenis zat ini membantu memperbarui sel-sel tubuh. Makanan rendah lemak juga direkomendasikan agar metabolisme lancar dan pembuluh darah prima.
“Selain itu, masyarakat harus segera menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Gangguan mata sedikit, jangan diabaikan. Segera periksakan ke dokter, agar penanganan bisa lebih baik,” imbuhnya.
Selain itu, banyak orang yang mengira masalah mata hanya akibat terlalu sering menatap layar komputer. Padahal, penyakit-penyakit metabolik seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol juga memengaruhi. Sebab, penyakit tersebut memengaruhi kinerja pembuluh darah. Sehingga, jika pembuluh darah rusak, maka organ mata yang notabene dialiri darah tersebut juga terpengaruh.
Penyakit yang tidak kalah sering menyerang dan menyebabkan kebutaan adalah katarak. Jadi, katarak merupakan kondisi pandangan mata kabur atau kurang jelas karena ada selaput yang menutupi mata.
Penyebab kondisi ini adalah faktor usia. Biasanya, seseorang yang berusia lanjut menderita katarak pada salah satu bagian mata. Kemudian disusul dengan bagian mata lain. Untuk penanganan katarak, biasanya dilakukan operasi bedah.
“Untuk operasi bedah katarak bisa dilakukan di Samarinda. Metodenya bermacam-macam. Bisa Phakic IOL atau Pseudofakia. Perbedaannya hanya ditambah lensa buatan atau ada yang diganti dengan lensa buatan baru,” jelas Baswara.
Lensa khusus yang ditanam ada dua jenis saat ini. Pertama adalah acrylic hydrophilic dan acrylic hydrophobic. Sementara itu, yang direkomendasikan adalah acrylic hydrophobic karena tingkat peradangan di dalam bola mata yang paling rendah.
Pentingnya mengonsumsi makanan bergizi untuk kesehatan mata, juga diamini ahli gizi Puskesmas Kelurahan Baqa Samarinda Seberang, Irna Yuliani. Makanan kaya  vitamin A akan membantu menunjang kesehatan mata. “Salah satu contohnya ya wortel,” ucapnya.
Meski begitu, tidak hanya wortel. Masih banyak sumber vitamin A lain. Agar tidak bosan, bisa memvariasikan konsumsinya. Sebab, vitamin A juga terkandung dalam buah, sayur maupun daging ikan. Misal, selada, mangga, labu, dan ikan laut.
Vitamin A bermanfaat bagi mata karena sifatnya yang memerangi masalah radikal bebas. Sehingga, meminimalisasi kerusakan di lensa maupun retina mata. 
sumber : http://kaltim.prokal.co/read/news/283007-hindari-radiasi-saat-usia-senja-dengan-kacamata/1