Cari

Memuat...

Jumat, 07 November 2014

Mengenal Katarak Lebih Dekat

Oleh: dr.Dyana Novia
Mata adalah cerminan hati. Tak jarang ada keluarga kita mengalami yang namanya katarak. Katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan di dunia dan penyakit pada mata yang paling sering ditemukan. Di Amerika Serikat, katarak menjadi urutan ketiga dalam menyebabkan kebutaan, hal ini sebenarnya dapat dicegah.
Katarak adalah suatu kondisi di mana terjadinya kekeruhan pada lensa. Hal ini dapat melibatkan kekeruhan lokal ataupun difus yang mengakibatkan lensa menjadi tidak transparan. Lensa mata manusia adalah objek di depan mata yang kecil, berbentuk konveks dan bening seperti gelas yang secara normal dapat dilewati oleh cahaya menuju bagian belakang mata.
Jika terjadi katarak, cahaya tidak dapat menembus lensa mata dan terjadilah gangguan penglihatan. Katarak dapat terjadi pada satu ataupun kedua mata, dan tidak harus terjadi pada saat yang bersamaan.
Usia tua adalah penyebab paling sering. Paparan terhadap sinar UV pada cahaya matahari dapat mempercepat terjadinya katarak. Katarak lebih gampang terjadi pada penderita kencing manis, perokok, peminum alkohol, adanya penyakit pada mata, dan pernah terjadi luka pada mata. Gangguan penglihatan merupakan gejala paling sering.
Keluhan-keluhan lain misalnya kesulitan membaca, penglihatan kabur, kesulitan mengenali muka, kesulitan menonton TV, bermasalah dengan mengendarai mobil terutama pada malam hari, kesulitan melihat pada cahaya terang atau perasaan silau, dan juga seringnya melihat lingkaran hitam di sekitar cahaya. Gejala-gejala seperti rasa nyeri, rasa tidak nyaman, merah, gatal ataupun berair tidak ditemukan pada katarak. Katarak juga dapat terjadi pada semua usia, tetapi paling sering pada usia tua.
Tidak ada terapi obat-obatan ataupun herbal untuk katarak. Kadang-kadang, penggunaan kacamata dapat membantu. Pembedahan adalah satu-satunya terapi yang efektif dan dengan operasi akan menghasilkan kesembuhan pada 95 % kasus. Jika penglihatan kabur sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, maka disarankan untuk dioperasi.
Rasa silau juga menjadi indikasi untuk dioperasi terutama pada penderita yang perlu mengendarai pada malam hari. Pada keadaan-keadaan tertentu seperti terjadinya glaukoma, infeksi mata, lensa bergeser, benda asing dalam lensa, penyakit lensa akibat kencing manis (diabetes), dan terlepasnya retina. Operasi juga dapat dilakukan untuk indikasi kosmetika.
Setelah operasi, pasien dianjurkan untuk menghindari membasuh kepala selama 1 minggu, mengangkat benda berat selama lebih kurang 3 bulan dan menghindari olahraga yang berhubungan dengan kontak tubuh selama lebih kurang 1 tahun. Kacamata hitam, terutama yang dapat menyaring cahaya UV, memberikan perlindungan terhadap terjadinya katarak. Selain itu, disarankan untuk tidak merokok dan mengkonsumsi makanan sehat.
sumber:
http://analisadaily.com/news/read/mengenal-katarak-lebih-dekat/75830/2014/10/27


Rabu, 05 November 2014

Penyebaran Dokter Spesialis Mata dan Jiwa Tidak Merata

Jakarta, HanTer - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan bahwa jumlah dokter spesialis mata dan jiwa perlu diperbanyak untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di Tanah Air.

"Dokter spesialis mata dan jiwa masih langka ditemukan di wilayah tertentu di Indonesia karena penyebarannya tidak merata. Beberapa wilayah tidak memiliki dokter maupun rumah sakit yang khusus menangani penyakit itu," kata Ketua IDI Zaenal Adibin di Jakarta, Selasa (28/10).

Dia mengemukakan jumlah dokter umum di Indonesia mencapai 110.776 orang, sedangkan dokter spesialis 19.367 orang.

Selama ini dokter spesialis yang selalu digadang-gadangkan hanya empat, yakni spesialis anak, penyakit dalam, kandungan dan bedah.

Padahal kebutuhan pelayanan kesehatan untuk masyarakat tidak hanya sebatas itu. Kebutuhan terhadap dokter spesialis lainnya, seperti mata dan jiwa itu berdasarkan pengalaman pelayananan kesehatan yang dilakukan di berbagai daerah.

Permasalahan serius muncul untuk mencetak lebih banyak dokter spesialis, meski sumber daya manusia di Indonesia cukup memadai. Permasalahan itu terkait dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menjadi dokter spesialis.

"Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan peranan pemerintah. Namun kami ingatkan sekali lagi, penyebaran dokter spesialis harus merata, tidak boleh hanya berpusat di wilayah tertentu seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya," ujarnya.

Jumlah masyarakat Indonesia yang mengalami penyakit mata, seperti katarak semakin meningkat, termasuk sakit jiwa akibat depresi dan lainnya.

"Pelayanan kesehatan tidak dapat dilakukan secara maksimal bila jumlah dokter spesialis tidak memadai," ujarnya.

Menurut dia, peranan dokter spesialis sangat besar mendorong kualitas hajat hidup masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai contoh, nelayan yang memiliki penyakit katarak tidak dapat mencari ikan bila tidak dapat melihat.

Pengobatan gratis untuk penyakit katarak maupun pengobatan yang relatif murah akan membantu nelayan tersebut. Penglihatan nelayan itu akan memberi manfaat bagi masyarakat sebab ikan-ikan yang dimakan setiap hari merupakan hasil kerja keras nelayan.

"Banyak nelayan yang kami temukan menderita penyakit katarak. Mereka perlu mendapatkan pengobatan," ujarnya.
 
(Zahroni)
sumber:
http://www.harianterbit.com/read/2014/10/28/10374/0/29/Penyebaran-Dokter-Spesialis-Mata-dan-Jiwa-Tidak-Merata

Senin, 03 November 2014

Angka Kebutaan di Indonesia Masih Relatif Tinggi

TRIBUNNEWS.COM.YOGYAKARTA,  - Angka kebutaan di Indonesia masih relatif tinggi. Hasil riset kesehatan dasar 2013, angka kebutaan di Indonesia mencapai 0.6 persen, dan 35 persen di antaranya kebutaan permanen. Dengan angka tersebut, kesehatan mata di Indonesia masih merupakan masalah sosial yang membutuhkan penanganan dari semua pihak. 

"Angka kebutaan di Indonesia masih lebih tinggi dari Singapura dan Thailand yang sudah di bawah 0,5 persen. Tapi jika dibanding tahun 1990-an, dengan angka kebutaan mencapai 1,47 persen, kita sudah menurun sangat signifikan,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM, Prof dr Suhardjo SU SpM(K), Selasa ( 28/10/2014). 

Lebih lanjut Suhardjo menuturkan, penyebab kebutaan terbanyak berturut-turut adalah katarak, kebutaan kornea, glaukoma dan retinopati. Untuk menurunkan angka kebutaan, lanjut Suharjo, pelayanan pemeriksaan kesehatan mata sebaiknya ada di tingkat pusat pelayanan primer, yakni puskesmas. Hal ini juga sejalan dengan berlakunya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). 

"Sayangnya, gagasan itu belum bisa dilaksanakan karena puskesmas belum siap. Ketersediaan paramedis mata yang terampil belum ada. Paramedis yang ada saat ini masih umum. Oleh karena itu, ke depan dibutuhkan pengembangan profesi paramedis khusus mata yang nantinya akan ditempatkan di pusat pelayanan primer," imbuhnya. 

Selain masalah ketersediaan tenaga paramedis, menurut Suharjo, persoalan pembiayaan juga merupakan masalah dalam upaya menekan angka kebutaan di Indonesia. 

"Saat ini, tarif pengobatan mata dalam BPJS relatif rendah. Semua pembiayaan kebanyakan disamaratakan. Padahal untuk beberapa kasus, butuh peralatan dan obat-obatan yang tidak murah," paparnya. 

Berbagai persoalan kesehatan mata tersebut akan dibahas dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-39 Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia yang akan diselenggarakan di Yogyakarta pada 1 November 2014 mendatang.
sumber:
http://www.tribunnews.com/regional/2014/10/29/angka-kebutaan-di-indonesia-masih-relatif-tinggi


Sabtu, 01 November 2014

Mengenal Glaukoma, Penyebab Kebutaan Mata Permanen

MediaPangandaran.com – Mata merupakan salah satu organ yang berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang sehingga pemeliharaan kesehatan mata harus menjadi salah satu prioritas kesehatan bagi suatu individu. Gangguan penglihatan terutama yang sudah jatuh dalam kategori buta akan menjadi beban hidup bukan hanya untuk penderitanya tetapi juga terhadap orang-orang di sekitarnya.
Salah satu penyebab kebutaan adalah akibat glaukoma yang merupakan penyebab kebutaan terbanyak kedua setelah katarak di dunia maupun di Indonesia. Berbeda dengan katarak yang merupakan penyebab kebutaan yang masih dapat diobati dengan tindakan operasi, glaukoma merupakan penyebab kebutaan yang menetap. Untuk itu penting untuk mengetahui apa itu glaukoma.
Glaukoma merupakan suatu kumpulan gejala penyakit dengan karakteristik terdapat kerusakan saraf mata pusat yang berhubungan dengan terjadinya penyempitan lapang pandang dan hilangnya fungsi penglihatan. Glaukoma dapat merupakan penyakit turunan dan tidak menular. Biasanya mengenai kedua mata dengan stadium yang berbeda. Umumnya terjadi pada semua usia termasuk bayi. Peningkatan tekanan bola mata merupakan faktor risiko utama pada terjadinya glaukoma.
Secara normal, di dalam bola mata terdapat cairan yang bertugas untuk memberikan nutrisi bagi organ yang terdapat di dalam bola mata dan berkontribusi memberikan volume/tekanan pada bola mata. Cairan tersebut diproduksi dan dikeluarkan kembali dalam siklus yang seimbang sehingga tekanan bola mata terjaga dalam nilai normal (16,3 mmHg).
Pada glaukoma terjadi ketidakseimbangan siklus aliran cairan tersebut yang menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan bola mata. Peningkatan tekanan bola mata tersebut mengakibatkan terjadinya penekanan pada saraf mata pusat yang akhirnya dapat menyebabkan kerusakan saraf mata pusat secara perlahan.
Kerusakan saraf mata pusat menjadikan terjadinya penyempitan lapang pandang. Penyempitan lapang pandang ini terjadi secara perlahan, sedikit demi sedikit sampai akhirnya penderita hanya seperti melihat dari lubang kunci bahkan sampai menimbulkan kebutaan.
Penderita glaukoma biasanya tanpa gejala pada tahap awal. Bila sudah tahap lanjut, biasanya penderita sering menabrak benda di sekitarnya, bila berjalan mudah tersandung, dan kesulitan mengendarai kendaraan sendiri akibat terganggunya lapang pandang.
Terdapat empat jenis glaukoma dengan gejala yang berbeda yaitu glaukoma kronis (tanpa gejala), glaukoma dengan serangan akut, glaukoma kongenital, dan glaukoma sekunder (akibat penyakit mata lain atau penyakit sistemik).
 Deteksi dini pada glaukoma merupakan kunci untuk pencegahan kebutaan yang disebabkan oleh glaukoma. Pengontrolan keadaan glaukoma sedini mungkin diharapkan dapat mempertahankan fungsi penglihatan dalam jangka waktu yang lebih panjang dan diharapkan penderita tidak jatuh pada kebutaan. Disarankan pada orang-orang yang berusia 40 tahun ke atas atau memiliki faktor risiko untuk dapat melakukan pemeriksaan mata secara rutin, minimal satu tahun sekali.
sumber:http://mediapangandaran.com/mengenal-glaukoma-penyebab-kebutaan-mata-permanen/4549/


Rabu, 29 Oktober 2014

STORY: Buta Selama 12 Tahun, Pria Ini Akhirnya Sembuh jadiLifejadiStory

Ada yang berkata kalau buta karena penyakit tak bisa disembuhkan. Namun ternyata pernyataan itu salah, dan buktinya ada pada kisah pria yang satu ini.
Katarak membuat penglihatan Winesi March (69 tahun) terganggu selama 12 tahun. Sejak 2 tahun lalu, Winesi benar-benar kehilangan penglihatannya. Dia tidak bisa bekerja atau melihat wajah istrinya lagi. Namun dengan bantuan operasi, kini dia bisa melihat kembali wajah istri yang begitu dicintainya.
Dilansir dari Daily Mail, Kamis (23/10/2014), Winesi benar-benar bahagia dan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu. Senyum terus terlihat dari Winesi saat dokter membuka perban di matanya. Inilah momen saat Winesi melihat kembali wajah istrinya, wajah yang tidak bisa dia lihat dengan sempurna selama 12 tahun ini. Winesi langsung menari-nari gembira setelah memeluk istrinya dan bisa melihat cucunya yang berusia 18 bulan.
“Saya sangat senang bisa melihat istri saya lagi. Saya berkata, ah.. seperti inikah rasanya bisa melihat lagi.” ujar Winesi dengan wajar berbinar.
Operasi katarak dilakukan Winesi di Queen Elizabeth Hospital, Blantyre, Malawi. Operasi ini hanya membutuhkan waktu 6 menit dan biaya yang sangat murah. Namun selama bertahun-tahun, Winesi dan keluarganya yang tinggal di pedesaan tidak tahu bahwa masalah di matanya bisa diatasi dengan operasi. Hingga akhirnya kampanye operasi katarak membuat keluarga Winesi membawanya ke rumah sakit.
“Saya tidak pernah bermimpi hal ini dapat terjadi,” ujar istri Winesi. “Tidak ada informasi di daerah kami tentang perawatan mata,” lanjutnya.
Winesi sendiri bercerita bahwa dia sangat tersiksa saat penglihatannya bermasalah, namun dia masih bisa bekerja sebagai petani. Namun sejak penglihatannya sudah hilang total sejak 2 tahun lalu, Winesi tidak bisa bekerja bahkan harus dibantu saat makan dan ke toilet. Dia juga sangat khawatir tidak ada yang melindungi istrinya. Maka saat tahu kondisi matanya bisa pulih dengan operasi, Winesi memberanikan diri untuk menjalani prosedur ini.
“Sekarang saya bisa melihat lagi dan bisa kembali mengurus pertanian. Saya ingin kembali bekerja dan mulai memasak lagi, melakukan segala hal,” ujar Winesi.
Dengan kondisi sehat seperti sekarang, Winesi tak lagi sedih karena merasa menjadi beban bagi istrinya. Sekarang dia bisa melihat kembali wajah wanita yang begitu dicintai, bisa melihat dan bermain dengan cucunya. Dan yang pasti, Winesi begitu bersyukur diberi kesempatan melihat kembali.
Bagi Anda yang masih memiliki anggota tubuh normal, jagalah dengan baik, jangan sampai Anda menyesal dan baru tersadar kemudian setelah Anda kehilangan salah satu anggota tubuh Anda. Selain itu Anda juga harus lebih bersyukur dengan apa yang Anda miliki sekarang. (tom)
sumber
http://jadiberita.com/46158/story-buta-selama-12-tahun-pria-ini-akhirnya-sembuh.html

Senin, 27 Oktober 2014

Terlalu sering menggunakan Tetes mata

Mata adalah organ penglihatan manusia yang rentan rusak, namun keberadaannya sangat vital. Merawat mata secara benar akan membuat organ penglihatan tersebut lebih sehat, dan terhindar dari gangguan berbagai penyakit. Sayangnya, tak semua orang paham cara membuat mata tetap terjaga kesehatannya.
Beberapa hal yang dianggap wajar sering dilakukan, padahal dapat membuat kondisi mata jadi rentan mengalami gangguan. Ini seperti dibahas oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Jatim, tepat pada World Sight Day 9 Oktober lalu.
Penyakit mata yang sering dialami oleh masyarakat adalah katarak, miopia, serta diabetes mata, demikian berdasarkan catatan dari Poli Mata RSUD dr Soetomo. Dr Delfitri Lutfi SpM juga mendukung data tersebut dengan menyatakan, “Paling tinggi itu katarak. Dari tahun ke tahun selalu nomor 1.”
Penyebab dari penyakit mata katarak ini antara lain adalah usia senja, biasanya terjadi di 50 tahun ke atas. Selain itu juga efek sinar ultraviolet yang mengenai mata secara langsung. Kebiasaan memakai tetes mata terlalu sering juga dapat memicu katarak, tambah dokter Delfitri.
Orang sering memakai tetes mata saat mata mengalami kering, merah, atau iritasi ringan. Seharusnya hal tersebut tak dilakukan sebab obat tetes mata harus diberikan dengan resep dokter. Alasannya, dalam obat tetes mata ada kandungan steroid yang jika berikan berlebihan akan memicu resiko kebutaan.
Dilansir oleh JPNN, alasan steroid sebaiknya tak dipakai berlebihan juga karena ada kandungan gula yang ada dalam steroid pada obat tetes mata. Ini akan mengganggu produksi cairan mata. Padahal cairan mata sangat penting bagi kesehatan mata.
Akibatnya lensa mata bisa keruh dan menimbulkan lapisan katarak. Proses ini memang berlangsung lama dan butuh waktu. Namun mencegah memang lebih baik dari pada mengobati.
sumber
http://sidomi.com/333465/pakai-tetes-mata-terlalu-sering-bikin-katarak/


Jumat, 24 Oktober 2014

Angka Kebutaan Tinggi, Indonesia Bentuk Asosiasi Dokter Mata

Angka kebutaan di Indonesia masih cukup tinggi. Sebagian besar kebutaan disebabkan oleh katarak yang tidak hanya menyerang orang lanjut usia atau dewasa, namun juga anak-anak. Selain menghambat aktivitas, kebutaan juga menjadi salah satu penyebab kemiskinan.

Angka kebutaan di Indonesia masih cukup tinggi, khususnya di Jawa Barat. Salah satu upaya memberantas kebutaan itu, Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung pun membentuk Asosiasi Dokter Mata Indonesia, bersamaan dengan peringatan World Sight Day 2014, yang jatuh pada 9 Oktober kemarin.
Direktur Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung, Hikmat Wangsaatmadja, SpM, Mkes, MM mengatakan, secara nasional jumlah kebutaan mencapai 1,5% dari total penduduk. Namun di Jawa Barat angka kebutaan ini di bawah rata-rata nasional, yakni 1,1% atau sekitar 480.000 orang. Jumlah pengidap di atas satu persen ini dapat dikatakan tinggi.
Padahal sebenarnya kasus kebutaan merupakan hal yang bisa dicegah. Presentase kesembuhannya bahkan bisa mencapai 60% sampai 80%. Sehingga menurut Hikmat, kasus tingginya angka kebutaan ini bukan lagi hanya masalah kesehatan tapi sudah mencakup masalah sosial.
“Masih banyak ketidaktahuan dari yang sakitnya untuk datang memeriksakan diri, untuk datang mau berobat. Kita berantas kebutaan ini untuk menghilangkan kemiskinan, karena orang buta tidak sekolah. Tidak bekerja ya miskin,” kata dr. Hikmat Wangsaatmadja.
Penyebab tertinggi kebutaan di Indonesia adalah katarak. Penyebab kebutaan lainnya yaitu infeksi, kelainan refraksi, gangguan retina, dan glaucoma. Pada umumnya kelainan mata terjadi dengan sendirinya. Meskipun ada faktor lain seperti genetik, makanan, dan lainnya. Misalnya katarak. Kini katarak tidak hanya menyerang orang lanjut usia dan orang dewasa, namun juga anak-anak, bahkan bayi juga bisa terserang katarak. Namun katarak masih bisa disembuhkan. Hanya saja pemahaman sebagian besar masyarakat mengenai penyakit katarak ini masih sangat minim.
“Kurang dari tiga meter untuk melihat kurang itu sebetulnya sudah masuk kriteria buta menurut WHO. Jadi bukan hanya yang gelap sama sekali, bukan itu. Tapi yang penglihatannya kurang dari tiga meter itu sudah bisa dikatakan buta.” kata dr. Mayasari Wahyu Kuntorini, SpM, Dokter Spesialis Mata.
Seorang penderita katarak, yang juga seorang buruh tani asal Majalaya, Kabupaten Bandung, Yani mengatakan, sebelumnya ia tidak tahu jika katarak bisa disembuhkan. Namun setelah mendapat penyuluhan dari relawan penyuluh Pusat Mata Nasional, Yani akhirnya menjalani operasi katarak di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung secara gratis.
“Dulu waktu sebelum umur 30-an kenanya (katarak), masih agak muda lah. Pertamanya (mata) yang kanan kena katarak, yang kirinya menyusul, kata Yani.
Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo terus berupaya mendidik warga untuk melakukan tindakan preventif dan memberikan penyadaran mengenai kebutaan. Selain itu, para petugas kesehatan di level yang bersentuhan dengan masyarakat, seperti puskesmas juga harus melakukan penyuluhan. Karena masalah kebutaan sudah masuk ke dalam ranah masalah sosial, sehingga harus dibentuk suatu komisi kebutaan.
Pentukan asosiasi mata ini diikuti oleh delapan rumah sakit mata di Indonesia, yaitu dari Jakarta, Surabaya, Bali, Yogyakarta, Bandung, dan Makassar. Asosiasi ini akan fokus mengatasi kebutaan yang terjadi di Indonesia.

sumber: http://www.voaindonesia.com/content/angka-kebutaan-tinggi-indonesia-bentuk-asosiasi-dr-mata-/2479486.html

6 Kelainan Mata yang Kerap Dialami Anak

SRIPOKU.COM - Tanda-tanda mata bermasalah pada anak sudah bisa dikenali sejak dini. Contohnya bila setiap menonton teve anak harus mendekat karena kurang terlihat, suka melihat dengan kepala miring atau memicingkan mata, atau ketika sudah sekolah, ia tidak bisa duduk di bangku belakang dan sering maju ke depan untuk melihat ke papan tulis.
“Ada anak yang penglihatannya kabur tapi takut memberi tahu orangtua karena orangtua suka mengancam. Akibatnya, anak juga jadi takut ke dokter,” kata dr. Florence M. Manurung, Sp.M, dari Jakarta Eye Center @Kedoya, Jakarta.
Sebagai orangtua, Anda juga perlu mengenali  beberapa kelainan mata yang kerap dialami anak :
1. Retinopathy of Prematurity  (RoP)
RoP adalah kelainan saraf mata karena kelahiran prematur. Bayi yang lahir prematur, pertumbuhan pembuluh darah retinanya belum sempurna. “Bisa terjadi komplikasi berupa perdarahan ke dalam rongga mata atau retina. Yang paling ditakutkan adalah kebutaan. Tapi, tidak semua bayi prematur terkena RoP.”
Untuk mencegah RoP, bisa dilakukan deteksi dini dengan alat-alat khusus. Pada RoP yang sangat berat bisa dilakukan tindakan bedah retina.
2. Kelainan Refraksi  
Kelainan refraksi adalah penurunan ketajaman penglihatan yang dapat dikoreksi dengan kaca mata. Bisa berupa mata minus, mata plus, maupun silindris. Kelainan refraksi bisa terjadi akibat faktor genetis maupun faktor lingkungan. Misalnya anak yang terlalu banyak membaca, menonton TV, bermain game, sehingga bentuk bola mata berubah. Gejala ini, banyak ditemukan pada anak usia Sekolah Dasar, yaitu 6 - 12 tahun.
Tanda-tanda kelainan refraksi mirip dengan mata malas, misalnya setiap kali menonton TV anak harus mendekat, suka melihat dengan kepala miring atau memicingkan mata, atau ketika sudah sekolah, ia tidak bisa duduk di bangku belakang.
3. Mata Malas ( ambliopia )
Sering juga disebut lazy eye , mata malas adalah gangguan mata berupa penurunan tajam penglihatan akibat adanya gangguan perkembangan penglihatan selama masa kanak-kanak. Gangguan ini umumnya mengenai salah satu mata saja, namun kadang-kadang ditemukan juga pada kedua mata. Penyebab mata malas bermacam-macam, mulai dari kelainan refraksi, mata juling, dan lainnya. Namun harus dibedakan antara mata juling dengan mata malas. Mata juling berkaitan dengan posisi yang salah, sementara mata malas lebih karena fungsi yang berkurang.
Untuk mengatasi mata malas, anak harus menggunakan matanya yang malas dengan terapi oklusi (patching ), yaitu menutup mata yang penglihatannya baik atau dengan tetes atropin pada mata yang baik.
Florence menegaskan, “Mata malas bisa disembuhkan dan bukan penyakit mata akibat keturunan. Namun pada anak dengan keluhan ini, sebisa mungkin harus diperbaiki sebelum anak berusia 4 tahun karena di usia itu otak masih fleksibel.”
4. Tumor Mata ( Retinoblastoma )
Sering juga disebut cat’s eye , retinoblastoma adalah penyakit tumor ganas primer pada anak yang tumbuh dengan cepat berasal dari sel retina mata. Penyakit ini tidak hanya dapat mengakibatkan kebutaan, melainkan juga kematian. Bila ditangani dengan tepat pada stadium dini, angka penyembuhan kanker ini dapat mencapai 95 - 98 persen dan penderita dapat mencapai usia dewasa.
Disebut cat’s eye (mata kucing) karena gejala atau tanda yang muncul di antaranya bola mata berwarna putih mengilat, sehingga kerap juga dikira katarak. Tindakan yang dilakukan adalah mengangkat bola mata.
5. Katarak
Ternyata, tak cuma orang dewasa yang bisa terkena katarak. Anak-anak pun bisa. Penyakit katarak terjadi karena kekeruhan lensa mata. Bisa terjadi mulai dari proses dalam kandungan, misalnya karena infeksi atau malnutrisi pada usia kanak-kanak. Katarak pada anak harus segera ditangani agar-anak dapat melihat dengan normal.
6. Glaukoma Kongenital
Disebut juga dengan buftalmos , yang berasal dari kata “buftal ” atau mata sapi. Gejalanya antara lain bola mata membesar. “Orang menganggap anaknya lucu seperti boneka karena matanya yang lebar, padahal bisa jadi itu karena ada kelainan glaukoma kongenital,” kata Florence. Ini terjadi karena aliran cairan mata di dalam tidak lancar dan mampet sehingga bola mata membesar. Jika dibiarkan tanpa tindakan, saraf ke otak bisa rusak akibat tekanan yang tinggi. Keluhan ini akan diatasi dengan operasi membuka saluran.
Selain kelainan-kelainan di atas, ada beberapa gangguan pada mata yang juga kerap menyerang anak antara lain konjungtivitis (mata merah), low vision , dan mata juling (strabismus ).
Hasto Prianggoro
sumber:
http://palembang.tribunnews.com/2014/10/24/6-kelainan-mata-yang-kerap-dialami-anak

Minggu, 07 September 2014

Mengenal Penyakit Katarak

Katarak biasanya tumbuh secara perlahan dan tidak menyebabkan rasa sakit. Pada tahap awal kondisi ini hanya akan mempengaruhi sebagian kecil bagian dari lensa mata anda dan mungkin saja tidak akan mempengaruhi pandangan anda. Saat katarak tumbuh lebih besar maka noda putih akan mulai menutupi lensa mata dan mengganggu masuknya cahaya ke mata.
  1. Pandangan mata yang kabur, suram atau seperti ada bayangan awan atau asap.
  2. Sulit melihat pada malam hari
  3. Sensitif pada cahaya
  4. Terdapat lingkaran cahaya saat memandang sinar
  5. Membutuhkan cahaya terang untuk membaca atau ketika beraktifitas
  6. Sering mengganti kacamata atau lensa kontak karena ketidaknyamanan tersebut
  7. Warna memudar atau cenderung menguning saat melihat
  8. Pandangan ganda jika melihat dengan satu mata
Beberapa faktor menyebabkan terkena katarak antara lain :

  • Usia
  • Diabetes
  • Sejarah keluarga dengan katarak
  • Pernah mengalami cedera atau radang pada mata
  • Pernah mengalami operasi mata
  • Penggunaan corticosteroids dalam jangka waktu lama
  • Terkena sinar matahari secara berlebihan
  • Terkena radiasi ion
  • Merokok

Minggu, 31 Agustus 2014

Enam Cara Alami Atasi Katarak

VIVAlife - Penyakit katarak banyak disebabkan oleh faktor usia, atau turunan genetika. Banyak penderita katarak tidak menyadari, jika mereka mengalami gejala, atau menderita katarak. 
Hal ini biasanya dipicu, karena gejala katarak yang sulit dikenali, namun lalu lama kelamaan penglihatan mata akan terasa mulai kabur. Di sinilah, baru para penderita baru menyadari jika mereka mengidap katarak.
Gejala awal katarak yang banyak disepelekan oleh banyak orang adalah rasa gatal di mata, mata sering berair, dan pada malam hari mata tidak mampu melihat langsung silau cahaya.
Salah satu cara yang banyak diambil dalam pengobatan katarak adalah melalui jalur operasi. Namun, bagi Anda yang takut berkunjung ke ruang bedah, Anda dapat mengobati katarak dengan cara alamiah, seperti dilansir dari laman Style Craze di bawah ini:
Jus wortel
Memliki kandungan vitamin A yang tinggi, wortel memang dikenal sebagai obat ampuh untuk urusan kesehatan mata, tak terkecuali untuk masalah katarak. Anda cukup mengonsumsi satu gelas jus wortel setiap hari dan Anda bisa melihat gejala katarak perlahan berkurang. 
Adas manis
Cara lain untuk mengobati katarak adalah dengan mengkonsumsi Adas manis. Dengan mengonsumsi minimal enam gram adas manis setiap dua hari sekali, Anda akan merasakan adanya perubahan pada mata Anda.
Bawang putih
Mengonsumsi bawang putih mentah akan membantu mengurangi derita katarak. Hal ini, karena bawang putih mengandung bahan antioksidan dan antibiotik yang sangat baik dalam menyembuhkan penyakit. Cukup konsumsi 2-3 siung bawang putih setiap hari untuk mengurangi dan menyembuhkan katarak secara perlahan.
Jus labu kuning
Jus labu bisa juga dijadikan obat katarak. Kandungannya yang kaya akan vitamin A sangat baik untuk mata. Anda mungkin memerlukan blender dan banyak air untuk menjadikan labu benar-benar halus. Caranya yaitu dengan mengkonsumsinya setiap hari secara rutin sebanyak satu gelas.
Meneteskan madu
Menesteskan madu ke dalam mata juga bisa menjadi solusi lainnya. Teknik ini telah digunakan sejak lama oleh masyarakat Mesir Kuno. Madu mengandung antioksidan tinggi serta dapat mencegah terjadinya infeksi.
Bayam
Dengan mengonsumsi bayam, bukan hanya tubuh saja yang ternutrisi, tetapi juga mata. Ini karena bayam banyak mengandung karotenoid ,sehingga dapat membantu penyembuhan penyakit katarak. Cukup dua porsi per hari akan membantu penyembuhan penyakit. (asp)