Cari

Memuat...

Selasa, 19 Agustus 2014

Peringati HUT Kemerdekaan RI Pemkot Gelar Operasi Katarak Gratis

SRIPOKU.COM, PAGARALAM -- Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-69, Pemerintah Kota (Pemkot) Pagaralam menggelar sejumlah kegiatan termasuk kegiatan bakti sosial. Sebanyak 75 masyarakat miskin mendapatkan layanan operasi katarak gratis hasil kerja sama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pagaralam, RSUD Besemah dan RS Khusus Mata Provinsi Sumsel.
Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Kesehatan (Yankes) RSUD Besemah, Khas Monalisa mengatakan, saat ini sudah ada 75 masyarakat yang mendaftar untuk mendapatkan pelayanan operasi katarak gratis. Operasi katarak diperuntukan bagi masyarakat kurang mampu.
"Sudah ada sekitar 75 penderita Katarak yang mendaftar untuk dioeprasi gratis. Dari jumlah tersebut akan kita data sebelum nantinya operasi dilakukan," ujarnya, kepada Sripoku.com, Selasa (12/8/2014).
Untuk operasi katarak dilakukan tim dari Rumah Sakit Khusus Mata Provinsi Sumsel. Untuk menangani seluruh pasien katarak, diterjunkan tiga tim medis yang setiap tim terdiri dari satu orang dokter.
"Ada tiga tim yang diturunkan Rumah Sakit Khusus Mata Provinsi Sumsel. Diharapkan, dalam waktu yang ada ini seluruh pendaftar bisa mendapatkan pelayanan ini," jelasnya.
Sebelum melakukan operasi, agar memenuhi prosedur pihaknya terlebih dahulu melakukan pemeriksaan kesehatan, persetujuan warga dan syarat-syarat lainnya. Dengan begitu, pelayanan kesehatan gratis ini bisa dimanfaatkan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.

Sumber ;
http://palembang.tribunnews.com/2014/08/12/peringati-hut-kemerdekaan-ri-pemkot-gelar-operasi-katarak-gratis

Punya Hipertensi & Diabetes, Urungkan Dulu Niat Operasi Katarak

KATARAK identik dialami oleh para lanjut usia (lansia) dimana fungsi mata tak lagi sempurna. Katarak adalah lensa mata yang menjadi keruh sehingga cahaya tidak dapat menembusnya, bervariasi sesuai tingkatannya dari sedikit sampai keburaman total.

Dalam perkembangannya, katarak yang terkait usia penderita dapat menyebabkan pengerasan lensa. Ini menyebabkan penderitanya mengalami miopi, berwarna kuning menjadi coklat/putih secara bertahap dan keburaman lensa dapat mengurangi persepsi akan warna biru.

Karenanya, puluhan lansia di Depok, Jawa Barat, terlihat ikut serta mengikuti kegiatan bakti sosial yang digelar Kodim 05/08 Depok beserta Kodam Jaya. Karena nyaris tak bisa melihat lagi, mereka pun harus digendong mendaftar pengobatan dan operasi katarak. Salah satunya Nurani (69) warga Limo, Depok, yang menunggu giliran untuk dioperasi. (Baca: 2030, Jumlah Penderita Diabetes Dunia Diperkirakan Capai 552 Juta)

"Saya sudah enggak bisa baca tulisan kalau kecil-kecil walaupun dekat, apalagi jauh. Sudah enam bulanan ini dua-duanya begitu," katanya di lokasi kegiatan bakti sosial, Sabtu (21/6/2014).

Namun, sejumlah pasien terpaksa batal mengikuti operasi sebab saat diukur, tensi darahnya cukup tinggi dan mempunyai masalah penyakit gula atau diabetes. Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail yang menghadiri acara tersebut menjelaskan bahwa para pasien katarak memang tidak diperbolehkan operasi jika mengalami penyakit degeneratif, seperti darah tinggi dan diabetes.

"Perlu diketahui, Kodim 05/08 senantiasa bekerja harmonis, kompak, dan kuat melakukan kegiatan yang terkait aksi bakti sosial, karya bakti bersama sinergi dengan pemerintah. Untuk pasien katarak tentu harus diseleksi, tekanan darah tinggi, sudah terlalu diabet, maka dokter pasti tidak berani, berisiko, sebab proses luka tak cepat sembuh," ungkap Nur Mahmudi.

Ia mengklaim bahwa sebagai Kota Ramah Lansia, Depok juga berupaya memfasilitasi pasien katarak dengan Dinas Kesehatan. Katarak umumnya diderita lanjut usia sehingga harus diberikan semangat memotivasi sebagai Kota Ramah Lansia dengan menjaring pasien di Posbindu dan Puskesmas. (Baca: Deteksi Dini Sejak Awal Cegah Diabetes)

"Ada 111 pasien hari ini yang menjalani operasi katarak, dari 265 yang diseleksi, yang layak 111 warga," jelasnya.

Pangdam Jaya Mayjen TNI Mulyono mengatakan, program pembangunan juga harus menyentuh aspek kehidupan masyarakat. Masih ada kelompok masyarakat tertentu dengan penghasilan cukup rendah, yang membutuhkan perhatian dan pelayanan sosial, salah satunya kesehatan. (Baca: Ini Fakta Diabetes yang Perlu Anda Tahu)

"Tak sedikit menunda kesehatan dirinya, karena keterbatasan biaya. Donor darah 375 pasien, khitanan 174 pasien, pengobatan katarak 111 pasien, pengobatan umum 665 pasien, dan santunan yatim 100 orang," tutupnya. (ftr)

sumber: http://health.okezone.com/read/2014/06/21/482/1002191/punya-hipertensi-diabetes-urungkan-dulu-niat-operasi-katarak

 

Minggu, 17 Agustus 2014

Katarak Tak Hanya Mengintai Lansia

KOMPAS.com - Setahun lalu, Badrudin (35) terkejut ketika ia memeriksakan mata ke dokter. Dalam usia tergolong produktif, ia telah dinyatakan menderita katarak. Selama ini penyakit yang membuat lensa mata keruh dan bisa mengakibatkan kehilangan penglihatan itu rata-rata terjadi pada orang yang telah berusia 60 tahun ke atas.

Dokter pun heran dan mengira saya pernah kecelakaan pada mata atau operasi mata. Saya jawab tak pernah. Lalu, dokter bertanya, apakah saya punya diabetes. Lagi-lagi saya jawab tidak,” kata Badrudin.

Badrudin lalu diminta memeriksa kadar gula dalam darah. Hasilnya, kadar gula darah Badrudin mencapai 280 miligram per desiliter (mg/dl), padahal kadar normal dalam kondisi puasa kurang dari 100 mg/dl. Karyawan distributor lensa kacamata itu dinyatakan menderita diabetes.

Menurut Direktur Utama Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center (JEC) Kedoya dokter Darwan M Purba, Sabtu (9/8), di Jakarta, katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi buram. Karena cahaya sulit menembus lensa dan mencapai retina, bayangan yang ditangkap retina menjadi kabur.

Gejala umum katarak adalah lensa mata memburam mirip kaca susu dan penderita seperti terganggu kabut ketika melihat obyek. Penderita juga lebih peka terhadap cahaya, membutuhkan cahaya terang untuk bisa membaca, dan penglihatan pada satu mata kadang jadi dua (ganda).

Kasus katarak kebanyakan akibat proses degeneratif (kemunduran), seiring usia yang kian lanjut. Gangguan mata itu umumnya menyerang orang berusia 60 tahun ke atas sehingga dianggap sebagai proses alami yang tak bisa dihindari.

Diabetes

Selain usia, ada beberapa faktor yang mempercepat timbulnya katarak, antara lain pemakaian steroid, dampak operasi mata, dan kecelakaan pada mata. Adapun diabetes merupakan faktor risiko paling umum yang mempercepat katarak. ”Dari pengamatan kami, penderita diabetes lebih cepat mengalami katarak dibandingkan yang tak punya diabetes,” kata Purba.

Selain itu, paparan sinar ultraviolet meningkatkan risiko terkena katarak, terutama jika mata tanpa pelindung terpapar sinar matahari cukup lama. Karena itu, nelayan adalah pekerjaan berisiko tinggi kena katarak. ”Nelayan terpapar sinar matahari dari pagi hingga sore saat melaut. Akibatnya, banyak nelayan katarak pada usia 35 tahun,” ujarnya.

Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi katarak semua umur 1,8 persen. Terkait usia, Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) pada 2013 mencatat, prevalensi kebutaan akibat katarak kian tinggi pada kelompok usia lebih tua. Pada kelompok usia 45-59 tahun, prevalensi kebutaan akibat katarak 20 kasus per 1.000 orang. Adapun pada kelompok usia lebih dari 60 tahun 50 kasus per 1.000 orang.

Beragam teknologi

Sejauh ini, operasi mata merupakan satu-satunya jalan untuk sembuh dari katarak. Selama ini, operasi katarak terbukti hanya memiliki risiko komplikasi 1 persen meski dengan bedah pisau. Namun, jika takut dengan pisau bedah, penderita kini punya pilihan untuk menghindarinya dengan teknologi laser.

Teknologi operasi katarak terus berkembang. Teknologi pertama adalah operasi katarak manual, terdiri dari bedah ekstraksi katarak intrakapsul (ICCE) dan bedah ekstraksi katarak ekstrakapsul (ECCE). Pada ICCE, dokter mengeluarkan lensa mata pasien tanpa memberi lensa tanam untuk pengganti sehingga pasien terbantu melihat dengan memakai kacamata.

Dengan metode ECCE, lensa tanam dimasukkan ke kapsul mata guna mengganti lensa yang katarak. Pada kedua metode itu, sayatan kornea dibuat sekitar 1 sentimeter, menyesuaikan dengan ukuran lensa, dan perlu beberapa jahitan.
Minimal invasif

Kemudian, muncul teknologi fakoemulsifikasi. Dokter spesialis mata subspesialis katarak, lasik, dan kornea JEC Kedoya, Ucok P Pasaribu, Selasa (12/8), mengatakan, fakoemulsifikasi tetap memakai pisau untuk menyayat kornea. Bedanya, sayatan jauh lebih kecil dibandingkan operasi manual, yakni 1,8-2 milimeter.

”Sayatan lebih kecil karena lensa mata tak dikeluarkan utuh. Lensa yang katarak dihancurkan lebih dulu dengan jarum tip yang terhubung ke mesin fakoemulsifikasi,” kata Ucok. Mesin itu memakai tenaga ultrasonik dengan frekuensi tinggi. Dengan teknologi itu, risiko infeksi akibat sayatan besar bisa diminimalkan, luka sayatan tak perlu dijahit.

Kini, bedah katarak bisa dibuat tanpa pisau, yakni operasi katarak dengan laser tanpa pisau bedah (bladeless laser cataract surgery). Menurut Ucok, laser untuk menyayat kornea itu berbasis teknologi Femtosecond (diaplikasikan dalam hitungan sepersejuta miliar detik).

Selain untuk menyayat, sinar laser untuk memotong lensa sebelum dihancurkan mesin fakoemulsifikasi. ”Metode ini jauh lebih aman karena dibantu sistem komputerisasi sehingga sayatan lebih presisi sesuai yang diprogramkan di komputer. Risiko infeksi pun amat kecil,” katanya.

Dengan metode tanpa pisau, dokter membuat program rencana sayatan di komputer. Dengan bantuan laser, pinggir kornea disayat selebar lebih kurang 2 mm dan memotong kapsul lensa mata (kapsulotomi). Lalu, lensa mata keruh dipotong dengan laser. Lensa yang terpotong dihancurkan dengan jarum tip yang terhubung ke mesin fakoemulsifikasi.

Hadirnya sejumlah teknologi bedah memberikan pilihan bagi pasien katarak. Apalagi kini usia penderita kian muda. (A03)
sumber: http://health.kompas.com/read/2014/08/13/162038923/Katarak.Tak.Hanya.Mengintai.Lansia.
 

Kamis, 14 Agustus 2014

Data Penderita Katarak

MUSI RAWAS - Dinas Kesehatan (Dinkes) Mura tahun ini tengah melakukan penjaringan terhadap masyarakat penderita penyakit katarak di sejumlah wilayah. Kegiatan tersebut merupakan program Pemprov Sumsel dalam upaya mengentaskan atau bebas penyakit katarak.

Kepala Dinkes Mura, Tjahyo Kuntjoro melalui Kasi Pelayanan Dasar dan Rujukan, Renaldi Oktavianus menjelaskan kegiatan tersebut sudah berjalan sejak lima tahun terakhir. Bahkan untuk penderita katarak yang telah ditangani atau dioperasi sejak 2011 hingga 2013 jumlahnya sudah mencapai 400 orang. 

"Sudah 400 penderita katarak yang kita operasi. Rata-rata mereka yang ditangani usianya sudah lanjut yakni 50 ke atas. Adapula usia produktif 20-40 tahun," kata Renaldi, Kamis (3/7).

Menurutnya, untuk tahun ini pihaknya akan terus melanjutkan program operasi katarak. Dimana sejak Januari yang ditargetkan hingga Desember, pihaknya tengah melakukan penjaringan berkoordinasi dengan petugas Puskesmas. Dan kapan pelaksanaan dilakukan, pihaknya belum mengetahui waktunya.

"Untuk sekarang kita belum ada rekap. Dan untuk kegiatannya, kita tunggu jadwalnya, tapi penjaringan sudah kita lakukan sejak Januari kemarin hingga dengan Desember," jelasnya. (wek)

sumber : http://sumeks.co.id/gelora/sfc/agnd/18025-data-penderita-katarak

Rabu, 06 Agustus 2014

Menkes: Setiap Tahun Diperlukan Operasi Katarak Bagi 240 Ribu Pasien

Jakarta - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan kasus katarak di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan peningkatan umur harapan hidup masyarakat sehingga jumlah lanjut usia dan risiko penyakit degeneratif juga meningkat, termasuk katarak.

"Diperkirakan setiap tahun diperlukan operasi katarak terhadap 240 ribu orang," kata Nafsiah dalam sambutan Bakti Sosial di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (20/6/2014).

Saat ini, lanjutnya, pelayanan operasi katarak yang ada di Indonesia mampu menjangkau sekitar 170 ribu orang. Dikaitkan dengan kebutuhan untuk operasi katarak bagi 240 ribu orang, ada kesenjangan hingga 70 ribu orang.

Kesenjangan ini, katanya, disebabkan luasnya wilayah dan kondisi geografis Indonesia dan masih terbatasnya pemahaman sebagian penduduk Indonesia bahwa ada kebutaan yang dapat diobati.

"Masalah kesehatan mata lain yang masih menjadi tantangan adalah kelaianan refraksi atau penurunan ketajaman penglihatan," sambungnya.

Kelainan refraksi ini dapat ditemukan pada semua kelompok usia. Pada usia anak sekolah, kelainan refraksi sangat mempengaruhi kemampuan mereka untuk membaca dan menyerap materi pelajatan.

"Kelainan refraksi ini dapat diatasi dengan memberikan kacamata koreksi sehingga fungsi penglihatan kembali normal," Sementara bibir sumbing merupakan salah satu jenis cacat bawaan. Nafsiah mengatakan, presentase kasus bibir sumbing pada balita berusia 2-5 tahun menurut hasil Riskesdas 2013 adalah 0,08 persen.

"Operasi bibir bagi balita yang mengalami cacat bawaan ini tentu akan sangat membantu mereka untuk dapat berbicara dengan baik dan memperbaiki struktur wajah atau kecantikan atau kegantengannya begitulah," paparnya.

Guna mengatasi masalah katarak, kelainan refraksi dan bibir sumbing ini, pemerintah meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu, termasuk pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Oleh karena itu, kegiatan bakti sosial yang dilakukan Polda Metro Jaya dengan melakukan operasi katarak, bibir sumbing dan pemberian kacamata minus ini tentu sangat membantu masyarakat dan ini kita apresiasi sekali," pungkasnya.

Jumat, 01 Agustus 2014

7 Penyebab teratas munculnya penyakit katarak

Merdeka.com - Mata merupakan jendela Anda dalam melihat dunia. Walaupun begitu, terkadang Anda tidak pernah menyadari pentingnya funsgi mata hingga Anda mengalami gangguan kesehatan mata.

Ada banyak masalah yang mampu mempengaruhi kualitas penglihatan Anda. salah satu masalah yang paling umum adalah katarak. katarak terjadi ketika protein yang ada di dalam mata Anda menghalangi pandangan Anda. Bahkan katarak dapat menjadi salah satu penyebab umum kebutaan.

Berikut adalah penyebab teratas munculnya katarak seperti dilansir dari boldsky.com.

Usia
Usia adalah salah satu penyebab utama munculnya katarak. Protein lensa Anda akan semakin menurun ketika usia Anda bertambah. Selain faktor tersebut, faktor lingkungan juga dapat menyebabkan katarak.

Trauma
Trauma akan mengakibatkan pembengkakan, penebalan, dan munculnya warna putih di serat lensa. Warna putih yang terbentuk pada akhirnya dapat menyebabkan katarak.

Genetika
Genetika juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kataraka. Sebab kelainan kromosom mampu mempengaruhi kualitas lensa mata Anda.

Penyakit kulit
Beberapa penyakit kulit tertentu mampu mempengaruhi kesehatan lensa mata Anda sepertii dermatitis atopik, ichthyosis, pemfigus, dan eksim.

Infeksi
Jenis infeksi tertentu seperti kusta, toksoplasmosis, dan cysticercosis dapat memicu timbulnya katarak. Oleh karena itu apabila Anda mengalaminya, sebaiknya segera obati penyakit tersebut sebelum infeksi penyakit ini menyebar.

Diabetes
Diabetes kerap kali dituding menjadi penyakit yang dapat menyebabkan katarak. Sebab enzim aldosa reduktase yang ada di dalam tubuh penderita diabetes mampu memicu timbulnya penyakit katarak.

Penggunaan obat tertentu
Ada beberapa jenis obat tertentu yang mampu mempengaruhi penglihatan mata Anda. Obat-obatan seperti kortikosteroid terbukti mampu menyebabkan timbulnya katarak.

Itulah beberapa penyebab munculnya penyakit katarak. Mengetahui penyebab munculnya penyakit ini dapat menjadi cara untuk mencegah penyakit katarak sebelum bertambah parah.

sumber :  http://www.merdeka.com/sehat/7-penyebab-teratas-munculnya-penyakit-katarak.html

Rabu, 30 Juli 2014

Bisa Bikin Bayi Cacat, Ibu Hamil Dilarang Dekat-dekat Pasien Campak Jerman

Jakarta, Sama halnya dengan tokso, rubella juga merupakan bagian dari infeksi TORCH yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil. Bagaimana tidak, risiko kecacatan bagi bayi yang ibunya terkena virus rubella bisa dikatakan mengkhawatirkan.

Menurut Prof dr Sunartini Hapsara, Sp.A (K), Ph.D., rubella atau biasa disebut dengan campak jerman ini cukup dikenal di masyarakat karena dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi, terutama katarak, tuli dan kelainan jantung.

"Bahkan gejala ini sudah bisa dilihat persis setelah si bayi lahir. Bila ada katarak, entah pada salah satu mata atau keduanya; kelainan jantung atau mikrosepali (ukuran kepala yang lebih kecil dari bayi normal), itu berarti si anak tertular virus rubella dari ibunya," tegasnya dalam Seminar Sehari 'Yuk Kenali Ciri-ciri Gangguan TORCH pada Anak' di RS Akademik UGM Yogyakarta dan ditulis Selasa (1/4/2014). Seminar ini terselenggara berkat kerja sama RS Akademik UGM dengan komunitas Rumah Ramah Rubella.

Dan kemampuan virus rubella ini ternyata juga tergolong istimewa karena dapat menembus barrier plasenta (yang seharusnya tak dapat sembarang ditembus oleh virus atau bakteri tertentu) sehingga langsung bisa mempengaruhi janin.

"Apalagi bila terinfeksinya di minggu-minggu awal kehamilan, kelainan yang disebabkan bisa mayor atau besar. Kalaupun baru terinfeksi di minggu-minggu terakhir, janin tetap utuh namun fungsi organ si bayi akan berkurang seperti jantung bocor atau tak bisa mendengar," imbuh Prof Sunartini.

Tercatat 85-90 persen kasus rubella kongenital (bawaan lahir) terjadi pada bayi yang tertular virus campak jerman pada trimester pertama kehamilan. Namun untuk kelainan bawaan akibat rubella, Prof Sunartini menuturkan keempat infeksi TORCH memiliki kelainan bawaan yang hampir sama, yaitu katarak, gangguan pendengaran, kelainan jantung dan mikrosefali. "Kadang bayi lahir tanpa gejala atau asimtomatik, baru belakangan gejala muncul," sambungnya.

Tak ingin ini terjadi, lakukan tes TORCH sebelum menikah. Di samping itu pemberian vaksin MMR (campak, rubella dan mumps), terutama bila sudah memasuki usia subur misal selepas SMA atau paling lambat tiga bulan sebelum hamil.

"Ibu hamil sangat disarankan menghindari kontak dengan anak atau ibu yang menderita campak jerman karena dapat menular. Kalau di luar negeri gitu orang yang menderita rubella akan membatasi kontaknya dengan ibu hamil, kalau di sini jarang ada yang mau mengaku," keluh Prof Sunartini.

(lil/vit)
sumber
http://health.detik.com/read/2014/04/01/200335/2542561/1299/bisa-bikin-bayi-cacat-ibu-hamil-dilarang-dekat-dekat-pasien-campak-jerman?991104topnews

Senin, 30 Juni 2014

Sering Terpapar Matahari, Nelayan Rawan Derita Katarak

[BATAM] Nelayan di Provinsi Kepulauan Riau rawan terkena derita katarak, karena frekuensi terpapar sinar matahari yang tinggi, kata Manajemen Seksi Penanggulangan Buta Katarak Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia Riko Yuniandri di Batam, Sabtu.

"Paparan sinar matahari yang tinggi merupakan salah satu pemicu katarak," kata Riko Yuniandri disela-sela operasi katarak mata gratis di Batam, Sabtu.

Katarak merupakan penyakit yang sulit dihindari, karena merupakan proses penuaan tubuh. Namun, untuk meminimalkan atau memperlambat prosesnya, maka masyarakat harus menghindari paparan matahari langsung.

Ia mengatakan Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita katarak tertinggi kedua di ASEAN. Jumlah penderitanya mencapai 1,5 persen total pnduduk, atau sekitar 2 juta jiwa.

Seksi Penanggulangan Buta Katarak Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (SPBK Perdami) menghitung, setiap tahun jumlah warga yang terancam kebutaan akibat katarak bertambah 240.000 jiwa.

"Dan sebagian besar penderita katarak adalah berada di daerah miskin dengan konsidi sosial yang lemah sehingga tidak memungkinkan penderitanya melakukan operasi," kata dia.

Di tempat yang sama, Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani mengatakan sekitar tiga persen penduduknya menderita katarak, dan sebagian besarnya adalah nelayan.

"Paling banyak yang menderita katarak adalah nelayan, karena mereka sering terkena sinar matahari," kata Gubernur. [Ant/N-6]

SUMBER :
http://www.suarapembaruan.com/home/sering-terpapar-matahari-nelayan-rawan-derita-katarak/56124

Jumat, 27 Juni 2014

70 Persen Kebutaan karena Katarak

Mataram (ANTARA News) - Hasil survei The Fred Hollows Fondation (FHF), menyebutkan kebutaan karena katarak yang diderita masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 70 persen.

"Itu hasil survei FHF yang disampaikan Pak Iskandar, Manager Program FHF untuk Indonesia," kata Wakil Gubernur NTB H Muh Amin, di Mataram, Rabu.

Pada Selasa (3/6), Iskandar dan Kordinator Program NTB Dedy Haryadi, mendampingi Koordinator Program FHF untuk Asia Tenggara Barnaby Coddy, menemui Wakil Gubernur NTB, guna menyampaikan program pencegahan dan pengobatan penyakit mata bagi penderita katarak dan gloukoma di NTB.  FHF merupakan yayasan yang dibentuk dari kerja sama Pemerintah Australia dengan Indonesia.

Pada kesempatan itu Iskandar mengungkapkan hasil survei, pengobatan dan sosialisasi kepada masyarakat NTB terkait penyakit mata seperti katarak dan glaukoma.

Kegiatan survei itu dilakukan sejak April--Mei 2014, di beberapa kabupaten/kota di wilayah NTB, sebagai lokasi pelaksanaan program pencegahan dan pengobatan penyakit mata bagi penderita katarak dan gloukoma. NTB merupakan lokasi ketiga, setelah sebelumnya dilaksanakan di Sulawesi dan Jawa Barat, dan telah disepakati untuk dilanjutkan pada tahun anggaran 2015.

Dari hasil survei dan pelaksanaan kegiatan itu, diketahui 4,5 persen masyarakat NTB mengalami kebutaan dan setiap tahunnya jumlah itu bertambah, sedangkan kebutaan karena katarak mencapai 70 persen.

"Hasil survei FHF itu cukup mengejutkan, dan tentu harus disikapi secara baik dan terarah," ujar Amin.

Pihak FHF juga mengungkapkan temuan adanya banyak masyarakat yang tidak menyadari betapa pentingnya memeriksa mata terutama bagi penderita katarak yang takut berobat karena biaya tinggi.

Untuk itu, FHF berharap adanya kesadaran masyarakat yang menderita katarak agar mau menjalani operasi, dan hal itu perlu didukung berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.

"Tentu pemerintah daerah perlu mendorong semua pihak terkait untuk membantu penderita katarak agar mau melakukan operasi dan pengobatan lebih lanjut," ujar Amin. (*)

Selasa, 24 Juni 2014

Katarak Juga Bisa Dialami Anak

KOMPAS.com – Katarak, timbulnya selaput keruh pada lensa mata yang ditandai dengan gejala pandangan kabur, acap terjadi pada orang yang sudah berumur. Tapi jangan salah, katarak bisa terjadi pada anak-anak, bahkan di dalam kandungan, dari ibu yang terkena virus.

Apa sebenarnya katarak? Katarak adalah gangguan pada indera penglihatan yang ditandai dengan keausan pada lensa mata. Lensa menjadi berselaput (keruh). Akibatnya, cahaya yang masuk ke dalam mata sulit mencapai retina sehingga terpencar dan pandangan menjadi kabur.

Pada tahap awal, karena tidak menimbulkan rasa sakit, seseorang seringkali tidak menyadari dirinya menderita katarak. Tapi, katarak  yang dibiarkan terus berkembang hingga bertahun-tahun membuat lensa mata menjadi semakin keruh.  Biasanya menimpa kedua mata meskipun tidak langsung sekaligus.

Apa saja gejala yang diderita? Penglihatan kabur seperti ada kabut yang mengalangi, penglihatan terganggu di saat gelap atau terang sekali, mata terlalu peka terhadap cahaya, lensa mata berubah menjadi buram, saat membaca perlu cahaya yang lebih terang, dan pandangan menjadi ganda.

Sebenarnya apa yang menjadi penyebabnya? Pertambahan usia, biasanya terjadi pada usia 60 tahun ke atas. Katarak juga bisa terjadi pada anak-anak, bahkan bayi yang ketika masih di dalam kandungan, ibunya terinfeksi virus. Mata sering terkena paparan sinar matahari tanpa perlindungan, trauma pada mata yang mengenai lensa, faktor genetik (turunan), gangguan metabolisme tubuh seperti diabetes, dan penggunaan obat-obatan seperti kortikosteroid dalam jangka panjang.

Ini, yang bisa kita lakukan untuk menangani katarak. Melakukan pemeriksaan mata secara teratur, banyak mengonsumsi sayuran dan buah yang kaya vitamin A, C, dan E. Mengatur pencahayaan lampu untuk memperjelas penglihatan, dan kalau terasa mengganggu, hindari mengemudi pada malam hari.

Segera hubungi dokter bila mendapati gejala-gejala seperti tadi, dan dokter akan melakukan hal-hal berikut ini. Memeriksa kondisi mata dengan biomikroskop yang diletakkan langsung di depan mata kita, katarak taraf awal akan diobati dengan obat tetes yang sifatnya tidak menyembuhkan tetapi memperlambat proses perkembangannya.

Bila katarak sudah mengganggu, dilakukan pembedahan. Dalam tindakan ini, lensa yang keruh diangkat lalu sebagai pengganti ditanamkan lensa intraokuler. Lamanya pembedahan biasanya tidak sampai satu jam. Setelah operasi, penglihatan berangsur-angsur akan semakin tajam. Tapi, pascaoperasi penderita perlu menjaga matanya agar tidak terkena infeksi.

Katarak yang dibiarkan tanpa perawatan bisa menyebabkan komplikasi seperti glaukoma atau uveitis yang berakibat kebutaan. (Intisari Extra)

Sumber :
Editor :
Lusia Kus Anna

http://health.kompas.com/read/2014/06/10/1448083/Katarak.Juga.Bisa.Dialami.Anak?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp