Cari

Selasa, 25 September 2012

Angka Kebutaan di Indonesia 3,67 Juta Orang, Mayoritas Katarak


Angka Kebutaan di Indonesia 3,67 Juta Orang, Mayoritas Katarak
WAKIL Bupati Karawang, dr. Cellica Nurrachadiana menyaksikan warga kurang mampu yang sedang menjalani oprasi katarak di balai Kesehatan Mata Cikampek, Sabtu (25/2). Pada kesemaptan tersebut 150 penderita katarak warga tidak mampu memperoleh operasi grtasi dari perusahaan jamu terkemuka di Indonesia.*
KARAWANG, (PRLM).- Kebutaan akibat katarak paling banyak diderita warga Indonesia saat ini. Mereka tidak mampu menyembuhkan penyakit tersebut karena kesadaran mereka untuk memeriksakan mata masih redah.
Kondisi tersebut diperparah oleh masih tingginya biaya operasi katarak. Padahal sebagian besar penderita katarak di Indonesia merupakan warga kurang mampu.
Demikian dikatakan Ketua Persatuan Dokter Ahli Mata Indonesia (Perdami) Pusat, Prof. DR dr Nila Djuwita F Moloek ketika memberikan sambutan dalam acara bakti sosial operasi katarak gratis di Balai Kesehatan Mata Cikampek, Sabtu (25/2/12).
Acara itu digagas sebuah perusahaan d ternama di Indonesia yang bekerjasama dengan Perdami, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), serta PKK Karawang.
Hadir dalam acara itu Bupati Karawang H. Ade Swara, Wakil Bupati dr. Cellica Nurrachadiana, Ketua DPP IWAPI Ir. Nita, Ketua Umum KOWANi, Dr. Dewi Motik, dan jajaran Direksi PT Sidomuncul.
“Angka kebutaan di Indonesia tercatat ada 3,67 juta orang dan 76% di antaranya disebabkan oleh katarak,” ujar Nila Djuwita F Moloek.
Menurut dia kasus kebutaan di Indonesia 90 persen di antaranya masih bisa disembuhkan. Namun karena kesadaran masyarakat untuk berobat masih rendah kebutaan itu akhirnya terbawa hingga penderitanya meninggal dunia.
Dikatakan juga semakin tinggi usia seseorang, semakin rentan pula mereka terkena katarak. Sebab, katarak pada umumnya diderita olah orang berusia lanjut.
“Setiap menit diperkirakan terdapat 12 orang menjadi buta di dunia dan 4 orang di antaranya berasal dari Asia Tenggara," kata Nila.
Di tempat yang sama Dirut Pusat Mata Nasional, dr. Kautsar mengatakan, pada kesempatan itu sebanyak 150 penderita katarak dari kalangan warga kurang mampu mendapat kesempatan menjalani oprasi gratis di Balai Kesehatan Mata Cikampek. Sehari sebelumnya 410 warga yang mengeluhkan sakit mata mengikuti proses screening di tempat yang sama.
Namun dari hasil screening itu hanya 150 warga yang bisa menjalani operasi katarak. Selebihnya diketahui memiliki penykait hypertensi, kadar gula tinggi, dan penyakit mata yang bukan katarak.”Pascaoperasi penglihatan mereka diharapkan kembali normal,’ kata dr. Kautsar.
Sementara itu, Bupati Karawang H. Ade Swara berharap kegiatan serupa diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain yang ada di Kabupaten Karawang. Bupati meyakini hingga saat ini masih banyak warga yang mengharapkan uluran tangan para dermawan guna memulihkan kondisi kesehatannya. (A-106/A-88)***

 

OPERASI KATARAK MURAH 
Cukup dengan Rp.3.750.000/mata,untuk keterangan lebih lanjut dapat hubungi :
Philips: 0855 789 10 25 
Ravael: 0813 190 429 60

Kamis, 20 September 2012

Operasi Katarak Mahal, Penderita Melonjak



Operasi Katarak Mahal, Penderita Melonjak
Minggu, 15/04/2012 - 16:32 

YOGYAKARTA, (PRLM).- Penderita katarak akan terus melonjak sejalan kenaikan angka harapan hidup. Penderita penyakit mata ini potensial buta karena operasi yang direkomendasikan dokter banyak tak dilaksanakan dengan alasan biaya operasi mahal.
Ahli penyakit mata Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. dr.Suhardjo menyatakan biaya operasi katarak di rumah sakit di Yogyakarta Rp 7 juta. "Ini cukup mahal," kata dia, Minggu (15/4).
Semakin mahal biaya operasi akan makin sedikit yang dioperasi, menurut ketua Ikatan Dokter Mata Indonesia Provinsi Yogyakarta, ini akan menambah jumlah penderita katarak.
Penderita katarak diperkirakan 1 persen dari jumlah penduduk. Kenaikan jumlah penderita per tahun 0,1 persen. Lonjakan penderita katarak empat kali lipat diperkirakan terjadi 2025 sejalan naiknya angka harapan hidup. Karena itu pemerintah menargetkan penurangan 0,5 jumlah penderita katarak pada 2020.
Di sela-sela operasi katarak gratis, dia menyatakan ikatan dokter mata mewajibkan setiap anggota mengoperasi (gratis) dua penderita katarak per minggu pada 2000 dan 10 penderita katarak per minggu mulai 2010.
"Saya saja (sebagai profesor, red) tak sampai mengoperasi 10 pasien katarak per minggu. Maknanya, angka operasi katarak rendah, maka terjadi penumpukan. Mungkin karena kemiskinan (para penderita). Maka harus ada kegiatan sosial, dan katarak harus operasi," ujarnya.
Menurut dia operasi katarak di tanah air kalah banyak dibanding Banglades misalnya. Karena itu operasi gratis katarak harusa digalakkan. Operasi massal ini kualitasnya tak lebih jelek dari operasai berbayar seperti menggunakan laser, tanpa jahit.
Dokter ahli spesialis anak Prof. Partini menyatakan angka katarak bawaan makin banyak menimpa bayi. Dia merekomendasikan pasien agar anaknya dioperasi katarak pada usia 4-6 bulan jika anak tumbuh sehat karena potensi berhasil tak buta sangat tinggi. Bupati Sleman Sri Purnomo menayatakan usia harapan hidup tertinggi di Indonesia ada di Sleman, rata-rata usia hidup 75,6 tahun atau lebih tinggi dari raya-rata harapan hidup tingkat Provinsi DI Yogyakarta 74 tahun.
Harapan hidup yang panjang potensi mendatangkan masalah kesehatan tinggi. Karena itu pemerintah daerah menggalakkan program usia tua yang sehat di antaranya operasi katarak gratis kerjasama dengan RS Akademik UGM. (A-84/A-147)***

OPERASI KATARAK MURAH 
Cukup dengan Rp.3.750.000/mata,untuk keterangan lebih lanjut dapat hubungi :Philips: 0855 789 10 25 
Ravael: 0813 190 429 60

Selasa, 18 September 2012

Operasi katarak



Tim Dokter Mata Australia Bantu Warga Sumba Barat

MELBOURNE, KOMPAS.com -- Sekelompok dokter mata Australia yang tergabung dalam Tim Sumba Eye Program (SEP) baru tiba kembali di Melbourne, setelah selama seminggu melakukan kegiatan tahunan di Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Para dokter ini melakukan program pemeriksaan mata, operasi dan tindakan mata lainnya bagi warga yang tidak mampu di daerah tersebut selama satu minggu, 3-7 September.
Program ini dikoordasi oleh Mark Ellis, seorang ahli mata yang sehari-hari bekerja di Melbourne. SEP sudah berlangsung sejak tahun 2007 dimana setiap tahun para dokter mata dari Australia menghabiskan waktu selama sepekan melayani pasien. Tahun ini mereka melayani 97 pasien.
Menurut laporan koresponden Kompas di Australia, L Sastra Wijaya, sejauh ini tim telah melakukan 416 operasi, termasuk 336 ekstraksi katarak, dan 51 pembuangan Pterygium. Tim optometri telah menskrining 3.453 orang untuk penyakit mata secara umum dan memberi resep kepada 2.062 untuk memakai kacamata. Para pasien ini juga mendapatkan kacamata dari Tim SEP.
Setelah sukses dengan tindakan amal tersebut, tim SEP ini memastikan akan kembali tahun depan. "Mereka sudah terpikat dengan Sumba. SEP juga dirancang berkelanjutan dengan harapan akan terjadi tranformasi keahlian kepada tenaga medik di Sumba." kata Iip Yahya dari majalah online Forum Indonesia-Australia yang mendampingi tim.
Keperluan pengobatan mata bagi warga di Sumba masih besar karena di Rumah Sakit Umum Daerah Waikubabak belum ada klinik mata, karena rumah sakit tersebtu tergolong rumah sakit tipe C, dan diperkirakan sampai lima tahun ke depan, belum akan ada klinik mata.
Menurut Ellis, Sumba memang dipilih bagi kegiatan mereka, karena belum adanya klinik mata di pulau tersebut. "Mereka yang mampu bisa menjalani pengobatan di Bali tetapi orang-orang miskin terancam kebutaan," kata Ellis kepada Kompas.
Ellis mengatakan, mereka akan berusaha melakukan program ini enam bulan sekali. "The Royal Australasian College of Surgeons (RACS) meminta saya ke Sumba di tahun 2007. Saya sendiri sudah terlibat dengan East Timor Eye Program sejak tahun 2003, dan kami setiap tahun mengunjungi Maliana sejak tahun 2007. Kami berada di Maliana bulan April lalu," tutur Ellis.
Selama kegiatan mereka di Sumba, para dokter dari Australia ini didampingi oleh penerjemah lokal yang juga kemudian diajari keterampilan memeriksa mata pasien. 

Penulis :  
L Sastra Wijaya | Selasa, 11 September 2012 | 12:11 WIB

Editor :
Nasru Alam Aziz

Sumber:
http://regional.kompas.com/read/2012/09/11/12115762/Tim.Dokter.Mata.Australia.Bantu.Warga.Sumba.Barat
 


OPERASI KATARAK MURAH Cukup dengan Rp.3.750.000/mata,
untuk keterangan lebih lanjut dapat hubungi :
Philips: 0855 789 10 25                        Ravael: 0813 190 429 60

Senin, 17 September 2012

Jual Batik, KBRI di China Kumpulkan Rp60 Juta untuk Pasien Katarak



Jual Batik, KBRI di China Kumpulkan Rp60 Juta untuk Pasien Katarak
Beijing, (Analisa). KBRI China memajang batik, kebaya, dan kerajinan tangan dalam bazar amal tahunan di Beijing. Sebagian hasil penjualan disumbangkan untuk pasien katarak. Total sumbangan yang terkumpul dari Indonesia sebanyak Rp60 juta.
Bazar bertema "Love Knows No Borders" itu digelar di Chaoyang Park, Beijing, Sabtu (15/9). Istri Menlu China Yang Jiechi, Le Aimei, inisiatornya. Sedangkan peserta bazar berasal dari kalangan diplomatik, organisasi internasional dan perusahaan-perusahaan di China.

Dengan semangat membantu sesama, Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Beijing dipimpin Dubes RI untuk China, Enni Cotan, kembali ikut serta memeriahkan acara bazar yang digelar sejak empat tahun terakhir ini. Berbagai ragam batik, kebaya, dan kerajinan tangan mendapat perhatian luar biasa dari pengunjung. Sebagian hasil penjualan dan sumbangan pihak lain diserahkan ke panitia sebagai amal dari Indonesia.

"Jumlah sumbangan mencapai 40.500 RMB atau setara dengan Rp60 juta. Ini merupakan bentuk kepedulian Indonesia terhadap masyarakat China," kata Sekretaris Bidang Sosial Budaya KBRI Beijing, Dyah R. Andrini, dalam rilis yang diterima detikcom, Minggu (16/9).

Tahun lalu, ratusan pesepeda asal Indonesia yang datang untuk mengikuti kegiatan Biking with the Ambassador di Beijing, turut menyumbangkan dana pribadi bagi pasien Lifeline Express Hospital Eye-Train (Rumah Sakit (RS) Mata Keliling). Sumbangan ini sangat dihargai oleh Madame Le Aimei yang secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada Enni Cotan sebagai wakil Indonesia.

Hasil sumbangan yang terkumpul dalam bazar amal tahun ini akan disalurkan oleh Pemerintah RRC untuk mendukung Lifeline Express Hospital Eye-Train di China. Selain itu, sebagian sumbangan juga akan disalurkan kepada para korban bencana gempa dan tanah longsor yang terjadi beberapa minggu lalu di perbatasan Provinsi Yunnan dan Provinsi Guizhou, China.

Rumah Sakit Mata Keliling didirikan atas kerjasama Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perkeretaapian sejak tahun 1997. Seluruh biaya operasionalnya didapatkan melalui donasi publik. Saat ini, empat RS Mata Keliling yang beroperasi di China dan melayani 12 ribu pasien katarak setiap tahunnya.

Pada tahun 2010 lalu, bazar menghasilkan sumbangan 1,4 juta RMB. Jumlah itu melonjak pada tahun 2011 hingga 3,0 juta RMB. Diharapkan pada tahun 2012, bazar amal dapat menghasilkan lebih banyak dana untuk mendukung RS Mata Keliling di China agar bisa memberikan layanan kepada lebih dari empat juta penderita katarak di negeri ini. (dtc)




OPERASI KATARAK MURAH 

Cukup dengan Rp.3.750.000/mata
untuk keterangan lebih lanjut dapat hubungi : 

Philips: 0855 789 10 25 
 

Ravael: 0813 190 429 60