Cari

Jumat, 16 November 2012

MENDITEKSI KATARAK PADA BAYI



Cukup Semenit, Deteksi Katarak pada Bayi

Penulis : dr. Akbar Fahmi | Rabu, 14 November 2012 | 11:02 WIB
http://health.kompas.com/read/2012/11/14/11022180/Cukup.Semenit.Deteksi.Katarak.pada.Bayi?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khewp
Dibaca: 1195
Komentar: 
|
Share:
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Carissa, bayi usia 12 bulan penderita katarak sejak lahir (kongenital), hadir dalam peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2012 di Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/10). Carissa dan saudara kembarnya menderita katarak sejak lahir dan harus menggunakan kacamata plus 10 sebagai alat bantu penglihatan setelah lensa mata kedua bayi itu diangkat pada usia 8 bulan. Katarak kongenital merupakan jenis katarak bawaan sejak lahir akibat keturunan (genetika), infeksi, trauma (benturan), diabetes, masalah metabolisme, serta inflamasi (peradangan).
TERKAIT:
KOMPAS.com - Seorang Ibu datang ke Poliklinik Mata dengan raut muka lelah. Digendongnya seorang anak perempuan yamg tertidur lunglai diselimuti selendang batik bermotif kijang. Umur anak ini kira-kira 2 tahun. Matanya terpejam, mulutnya terbuka dengan lidah terjulur. Kedua telinganya tidak tumbuh, ukurannya sangat kecil seukuran kacang kulit. Kepalanya membesar dan rambutnya bercabang berwana merah pucat. Badannya kurus, kedua tangan dan kakinya lemas.

Kenapa Ibu adiknya?”

“Mata **** anak saya putih dok?”

“Maksudnya Ibu, putih seperti apa?”

“Manik mata **** tidak seperti kakak atau anak-anak yang lainnya, warna manik mata **** tidak hitam, tapi warnanya putih seperti susu”

“Owh, boleh saya lihat?”

Ibu itu lantas mempersilahkan saya memeriksa mata ****, dan gadis kecil ini pun terbangun.

KATARAK!!!! pekikku dalam hati. Baru pertama kali ini aku menemui kasus katarak pada anak kecil. Biasanya kasus katarak di RS ku jumpai pada kakek-nenek.

Setelah gadis ini terbangun, barulah tampak jelas semuanya. Manik matanya memang berwarna putih susu, tidak gelap. Bola mata gadis kecil ini selalu bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri, tidak fokus. Mata kanannya juga sedikit juling.

“Dulu waktu hamil ibu pernah sakit?”

“Ndak sih dok, tapi waktu hamil 3 bulan kakak **** sakit cacar. Saya takutnya saya tertular kakak ****.”

“Kakaknya adik dirawat di rumah atau opname bu waktu itu?”

“Dirawat di rumah dok, tidak ada biaya”

Waspadai katarak pada bayi Anda
Katarak pada bayi (katarak kongenital) memang penyakit yang jarang ditemukan, hanya 0.4 persen dari seluruh kelahiran hidup. Katarak adalah kekeruhan pada lensa. Bila kekeruhan itu ditemukan sejak lahir, maka disebut katarak kongenital (kongenital=bawaan). Sebagian besar katarak diderita oleh pasien berusia lebih dari 60 tahun.
Meski jumlah penderitanya sedikit, penyakit ini tidak bisa diremehkan begitu saja karena dapat mengakibatkan kebutaan permanen pada buah hati kita. Seorang bayi yang menderita katarak dan tidak segera dioperasi maka akan mengakibatkan munculnya gejala Ambliopia. Sederhananya, jika orang sampai ambliopia, pakai kacamata apapun penglihatan tidak bisa kembali normal. Kabar buruknya adalah kasus terlambat deteksi masih sangat tinggi di Indonesia.

Penyebab katarak kongenital dapat bermacam-macam. Biasanya terjadi infeksi pada 3 bulan pertama kehamilan. Infeksi Rubella (dengan gejala seperti cacar), Toxoplasma, Cytomegalovirus sering menjadi penyebab katarak kongenital. Keturunan (genetik), masalah metabolisme, diabetes, trauma (benturan), inflamasi atau reaksi obat adalah beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan katarak kongenital.

Infeksi rubella pada umur kehamilan tiga bulan perlu diwaspadai. Ada 3 penyakit bayi yang disebabkan infeksi rubella pada masa itu: buta, tuli, jantung. Salah satu gejala yang muncul pada mata adalah katarak kongenital. Bila dicurigai terkena infeksi rubella pada 3 bulan pertama kehamilan, segera lakukan deteksi pada dokter ahli untuk memeriksa apakah ada gejala penyakit tersebut.

Kebutaan bukan hanya penyakit fisik, tetapi juga sosial. Di indonesia setidaknya ada 3 juta orang buta. Sebagian besar dari mereka tidak memiliki kemampuan untuk hidup mandiri. Keterbatasan fisik mereka membuat upaya mencari pekerjaan sangat sulit. Ada sih beberapa pasien buta yang sukses jadi penyanyi atau pemain piano. Tetapi proporsi pasien buta yang tidak punya pekerjaan jauh lebih banyak. Banyak dari mereka yang menggantungkan hidup dari mengemis atau menjadi pengamen.

Kabar baiknya adalah kebutaan pada katarak kongenital sangat mungkin dicegah. Deteksi dini pada bayi dan operasi katarak sedini mungkin adalah solusinya. Apa hal sederhana yang mungkin kita kerjakan? Peduli pada bayi kita.

Berdasar pengalaman seorang senior, sebagian besar Ibu pasien dengan katarak kongenital adalah ibu yang kurang aware dengan kondisi bayinya. Sebagian besar dari mereka mengetahui kekurangan anaknya justru dari orang lain, entah itu saudara atau tetangga. Kepedulian ibu pada sang buah hati akan menentukan perjalanan hidupnya 65 tahun mendatang.

Satu menit = investasi 60 tahun

Sebenarnya kita dapat mengenali tanda-tanda katarak pada bayi lewat tiga langkah sederhana:

1. Beri bayi mainan warna-warni yang mencolok

2. Gerak-gerakkan mainan tersebut ke berbagai arah

3. Perhatikan respon bayi

Bayi yang normal akan merespon rangsangan ini. Biasanya matanya akan mengikuti gerakan mainan tersebut atau bahkan tangannya akan mencoba meraihnya. Bayi yang katarak menunjukkan perilaku sebaliknya, responnya sangat lemah atau bahkan tidak ada respon sama sekali. Bayi katarak terkesan tidak tertarik dengan mainan warna-warni tersebut, karena memang pandangannya terganggu. Bila ternyata bayi ini tidak ada respon, maka segera konsultasikan ke dokter mata di kota anda.

Tiga langkah tersebut sangat sederhana, mudah, murah dan cepat. Anda membutuhkan waktu tidak lebih dari satu menit untuk melakukannya. Bayangkan, satu menit investasi waktu anda akan menentukan 60 tahun masa depannya. Be aware, everyone have a right to sight.

Salam sehat lahir batin. 

Editor :
Asep Candra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar