Cari

Kamis, 04 April 2013

Makin Tua, Harus Waspada Aksi si “Pencuri Penglihatan”

“Musuh” utama mata adalah glaukoma dan katarak. Dua penyakit ini sama-sama menyebabkan kebutaan. Namun, glaukoma lebih ditakuti, karena menyebabkan buta permanen. Warga Singapura, kini mewaspadai serangan sang “pencuri penglihatan” ini. Kapan giliran warga Indonesia mulai peduli?

 
M IBRAHIM, Singapura
 
Hasil riset Singapore National Eye Center (SNEC), pada 2012 lalu glaukoma benar-benar meneror lansia. Di Negeri Singa, 40 persen kasus kebutaan disebabkan penyakit ini. Tak heran, warga Singapura pun makin rutin periksa mata. Apalagi secara global, aksi glaukoma cukup fantastis, menyebabkan 5,1 juta orang buta permanen, dari 38 juta kasus orang buta di dunia.

Sebagai gambaran, glaukoma adalah gangguan penglihatan akibat meningkatnya tekanan bola mata. Ini disebabkan ketidakseimbangan antara produksi cairan dan pembuangan cairan dalam bola mata. Apabila tidak segera ditangani, tekanan yang tinggi dalam bola mata bisa merusak jaringan-jaringan saraf halus yang ada di retina dan di belakang bola mata.

Akibatnya, glaukoma yang dikenal sebagai “pencuri penglihatan” ini bisa menyebabkan buta permanen. Berbeda dengan katarak yang kebutaannya masih bisa diobati dengan operasi atau obat terapi mata alami.

Nah, dari berbagai kasus di seluruh dunia, lebih 50 persen penderitanya tak sadar. Mereka baru berobat ketika penglihatannya sudah parah.

Karena itu, mereka yang punya risiko kena glaukoma, harus waspada. Terutama yang lansia. Supaya bisa terhindar atau minimal mendeteksi sejak dini, seseorang yang keluarganya memiliki riwayat glaukoma, wajib rutin memeriksakan kondisi matanya. Begitu juga yang menderita diabetes, hipertensi, migrain atau penyempitan pembuluh otak (sirkulasi darah buruk), atau yang menggunakan steroid dalam jangka waktu lama. Ciri-ciri paling mudah mengetahui gejalanya, yakni ketika tekanan bola mata tinggi, atau mata cepat lelah.

“Glaukoma tidak dapat disembuhkan, namun kebutaan dapat dicegah jika didiagnosa dan diobati sejak dini,” jelas Head and Senior Consultant Glaucoma Service SNEC, Dr Ho Ching Lin.

Katanya, saat ini warga Singapura mulai “melek” dengan penyakit ini. Apalagi kata perempuan berusia 41 tahun ini, “pencuri penglihatan” tidak ditandai peringatan awal. Artinya, cara paling efektif mengetahuinya, dengan pengujian mata secara berkala.

Dijelaskannya, glaukoma biasanya disebabkan tekanan cairan pada bola mata yang terlalu tinggi yang tidak dapat ditoleransi oleh saraf optis.

“Saraf optis membawa denyut visual dari mata ke otak. Penumpukan tekanan ini terjadi karena ketidakseimbangan antara produksi dan pengurasan cairan di dalam bola mata,” urainya.

Ada beberapa jenis glaukoma, lanjut perempuan murah senyum ini. Salah satunya, adalah sudut-terbuka primer. Jenis ini terjadi pada lansia atau warga paruh baya. Glaukoma tersebut berkembang secara perlahan dan tidak menimbulkan sakit, sehingga pasien tidak mengetahui ketika penglihatannya memburuk.

“Penglihatan sisi atau periferi dan malam akan terpengaruh, sebelum mengenai penglihatan pusat untuk membaca,” tutur Senior Clinical Lecturer, National University of Singapore ini.

Di Singapura, sekitar 3 persen lansia di atas 50 tahun menderita glaukoma. Persentase ini meningkat seiring bertambahnya usia. Dan hampir 10 persen diderita mereka yang berusia di atas 70 tahun.

“Tapi tak perlu ragu, bila menderita penyakit ini, kami bisa membantu,” ujarnya.

KATARAK JUGA GANAS

Penyakit Katarak cukup terkenal di Indonesia. Profesor Chee Soon Phaik, Head Cataract Service NSEC menerangkan, tidak ada tindakan pencegahan yang terbukti secara ilmiah bisa mengurangi risiko katarak. Namun demikian, kiat-kiat tertentu dapat membantu mencegah, seperti melakukan pemeriksaan mata secara rutin.

Katarak tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan,” tuturnya, mempaparkan proses pembedahan penyakit katarak di SNEC terletak di 11 Third Hospital Avenue, Singapore 16875.

Perempuan berambut panjang ini menguraikan, pembedahan dibutuhkan ketika kondisi mata mulai mengganggu kegiatan sehari-hari.

“Pembedahan (katarak) ini tidak sakit, aman, dan efektif. Selama prosedur, lensa mata yang berkabut ini dibuang dan diganti dengan lensa tanam yang jernih,” ungkapnya.

Kendati demikian, dia mengingatkan pada warga, jangan tunda untuk melakukan pemeriksaan mata. Karena kultur di Indonesia, memeriksakan kondisi mata ke dokter, adalah hal yang tak lazim. Padahal, saraf-saraf di organ vital ini sangat kompleks, sakit sedikit dan dibiarkan, bisa menyebabkan kebutaan.

Untuk diketahui, sejak dibuka tahun 1990, SNEC telah berkembang dengan sembilan sub-spesialisasi. Antara lain katarak dan ophthalmologi komprehensif, penyakit kornea dan mata eksternal, glaukoma. Juga neuro-ophthalmologi, inflamasi okuler dan imunologi, okuloplastik dan plastik mata estetik. Selain itu, termasuk ophthalmologi dan strabismus anak-anak, pembedahan refraktik dan viteo-retina.

Rumah sakit dari grup SingHealth ini juga terlibat aktif dalam uji klinis dan penelitian mengenai penyebab dan pengobatan kondisi mata yang utama, seperti rabun jauh/miopia dan glaukoma.

Ribuan dokter ahli pengobatan dan perawatan mata atau ophthalmologist dari negara-negara tetangga dan luar Asia, telah mengikuti pelatihan pengajaran dan pertemuan internasional yang diselenggarakan oleh SNEC guna memajukan pelayanan dan ilmu kedokteran mata. (*/che/k1)
 
Sumber :
http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/13927/makin-tua-harus-waspada-aksi-si-pencuri-penglihatan.html
 
 
 
 
 
 
 
 
 
OPERASI KATARAK MURAH
Cukup dengan Rp.3.750.000/mata,untuk keterangan lebih lanjut dapat hubungi :
 

Philips: 0855 789 10 25
Ravael: 0813 190 429 60

Tidak ada komentar:

Posting Komentar