Cari

Sabtu, 31 Agustus 2013

PMI Operasi 15 Orang Penderita Katarak Gratis

PMI Operasi 15 Orang Penderita Katarak Gratis

PURWOKERTO, suaramerdeka.com - Menyambut Hari Ulang Tahun PMI ke 68 pada 17 september mendatang, PMI Kabupaten Banyumas bersama Purwokerto Katarak Center menyelenggarakan Operasi Katarak bagi warga kurang mampu secara gratis pada hari Senin (19/8) dan Kamis (22/8) di Klinik Purwokerto Katarak Center, Purwokerto. 
Kepala Markas PMI Kabupaten Banyumas Kusdiantoro mengatakan bahwa Program PMI ini merupakan bentuk program pelayanan dan pengembalian dana kepada masyarakat yang terhimpun melalui pelaksanaan Bulan Dana PMI tiap tahun. “Kebetulan Purwokerto Katarak Center memiliki program yang sama yaitu operasi katarak, jadi kita lakukan bersama-sama,” terangnya.
Kusdiantoro berharap operasi tersebut dapat membantu masyarakat agar terhindar dari kebutaan akibat katarak khususnya bagi warga yang kurang mampu dengan beberapa kendala yang ada pada mereka. “Setelah seleksi melalui beberapa tahapan, ada 15 orang dinyatakan lolos screaning sehingga dilakukan operasi katarak." jelasnya.
Selain operasi katarak nantinya PMI Kabupaten Banyumas akan mengadakan Upacara peringatan dan bakti sosial (baksos ). Baksos tersebut rencananya akan dilakukan di desa Kalitapen  kecamatan Purwojati pada tanggal 22 September 2013 mendatang.
( Rifki / CN34 / SMNetwork )

Sumber :http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_banyumas/2013/08/28/169800/PMI-Operasi-15-Orang-Penderita-Katarak-Gratis

Penderita Katarak Di Sanggau Capai 1,2 Persen

Penderita Katarak Di Sanggau Capai 1,2 Persen

SANGGAU--Data penderita penyakit katarak di Kabupaten Sanggau terbilang cukup tinggi yakni 1,2 persen dari jumlah penduduk 4-5 ratus ribu jiwa. Demikian disampaikan Wakil Bupati Sanggau, Paolus Hadi saat ditemui Selasa (20/8) pagi kemarin di RSUD Sanggau.
Paolus mengatakan, jika sampai tahun 2018 rutin dilaksanakan operasi katarak seperti ini, mungkin akan nampak angka penurunannya. Menurutnya, faktor kebiasaan dari masyarakat yang juga dari membakar lahan dan terkena asap dan polusi menjadi salah satu faktor penyebabnya selain faktor-faktor lainnya.

"Kalau setiap tahun bisa dilaksanakan pasti akan mengurangi angka yang tinggi ini. Operasi katarak ini sangat baik dan kita harapkan kegiatan ini memberi dampak yang sangat signifikan," ujarnya.

Ia juga mengharapkan agar ke depannya pelaksanaan operasi katarak tersebut dapat dilaksanakan dua kali dalam setahun. Upaya menggandeng pihak ketiga melalui program CSR menjadi salah satu solusi untuk saat ini. Namun, kedepannya pelayanan serupa bisa dilakukan oleh pemerintah setempat dengan dukungan anggaran dan tenaga medis yang memadai.

"Upaya pemkab melalui program spesialisasi ini ada semacam ikatan dinas. Ada yang dibiayai ikatan dinas dari pemda dan kesehatan. Kita sudah sekolahkan dan menunggu mereka selesai dan kembali ke Sanggau," katanya.   Ia juga berharap untuk dokter spesialis mata dan lainnya yang disekolahkan dapat mengabdikan diri di daerahnya sendiri agar kebutuhan layanan katarak bisa lebih maksimal. (sgg)

Sumber: http://www.pontianakpost.com/pro-kalbar/sanggau/7250-penderita-katarak-capai-1-2-persen.

Jumat, 30 Agustus 2013

Katarak pada Penderita Diabetes Melitus

Katarak pada Penderita Diabetes Melitus

SEORANG pasien laki-laki berumur 60 tahun datang dengan keluhan utama mata kabur sejak 1 tahun yang lalu. Penglihatan seperti kabut. Selain itu pasien juga mengeluh silau terutama pada malam hari saat tersorot lampu kendaraan. 


Pasien ini memiliki riwayat sakit diabetes melitus sudah hampir 10 tahun. Setelah diperiksa menggunakan senter, terlihat lensa pada matanya mengalami kekeruhan sehingga lensa tidak transparan dan pupil tampak berwarna putih. Pasien ini terdiagnosis menderita katarak. 



Katarak merupakan kelainan mata yang ditandai dengan kekeruhan lensa, terutama disebabkan oleh proses degenerasi yang berkaitan dengan usia. Namun demikian, katarak dapat juga disebabkan oleh proses radang intraokular, trauma, infeksi dalam kandungan, dan faktor keturunan. Selain itu, katarak dapat dipermudah timbulnya pada situasi dan kondisi tertentu misalnya: penyakit diabetes mellitus, merokok, hipertensi, peningkatan asam urat serum, radiasi sinar ultraviolet B, myopia tinggi, kekurangan anti oksidan, dan lain-lain. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama. 



Akibat kekeruhan lensa mata, sinar yang masuk ke selaput jala akan terganggu, dengan demikian terjadilah gangguan tajam penglihatan. Gangguan tajam penglihatan yang terjadi dapat ringan dengan keluhan silau, terutama kalau terkena sinar yang sangat terang. Pasien juga mengeluh penglihatan seperti berasap. Hal ini sesuai dengan luas serta letaknya kekeruhan lensa. Namun pada saatnya kekeruhan lensa akan meluas dan menimbulkan gangguan tajam penglihatan sampai tingkat kebutaan.



Survei 



Survei kesehatan indera penglihatan di Indonesia tahun 1993 - 1996 menunjukkan angka kebutaan 1,47%. Penyebab utama kebutaan adalah katarak (1,02%), glaucoma (0,16%), kelainan refraksi (0,14%), kelainan retina 0,09%, dan kelainan kornea 0,06% (Depkes 1997). Diperkirakan 12 orang menjadi buta tiap menit di dunia dan 4 orang di antaranya berasal dari Asia tenggara. Jumlah ini akan meningkat menjadi dua kali pada tahun 2020, hal ini berkaitan dengan jangka umur harapan hidup yang meningkat. Diperkirakan bahwa 80% dari seluruh kasus kebutaan dapat dipulihkan kembali, termasuk di sini terutama kebutaan katarak. Kebutaan tidak hanya berdampak pada individu, namun juga menimbulkan masalah kesehatan masyarakat, sosial dan ekonomis.



Pada pasien diatas diketahui memiliki riwayat sakit diabetes melitus selama 10 tahun dimana diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan timbulnya hiperglikemia (peningkatan glukosa dalam darah yang berlebihan) akibat gangguan sekresi insulin, dan atau peningkatan resistensi seluler terhadap insulin. Hiperglikemia kronik dan gangguan metabolik DM lainnya akan menyebabkan kerusakan jaringan dan organ, seperti di mata, ginjal, syaraf, dan sistem vaskular.



Glukosa diperlukan oleh mata dalam memproduksi ATP yang sangat bermanfaat dalam menjaga kejernihan lensa. Ketersediaan glukosa pada lensa akan menjaga kejernihan lensa, tetapi apabila glukose diambil, lensa akan menjadi keruh dalam beberapa jam walaupun oksigen tersedia cukup. Bila ada gangguan metabolisme pada lensa akibat proses kimia, trauma mekanik, atau elektrik maupun radiasi akan terjadi kekeruhan lensa. 



Sedangkan, kadar glukosa yang terlalu tinggi dalam darah (hiperglikemi) akan mengakibatkan terjadinya penimbunan sorbitol (hasil dari metabolisme glukosa) dalam lensa yang akan menyebabkan terjadinya pembengkakan lensa akibat masuknya air. Pada awalnya mata mampu melakukan kompensasi, tetapi pada saat yang sama pasien telah mengalami perubahan tajam penglihatan. Penyulit lanjut berupa pembengkakan dan kerusakan serabut lensa dan pasien akan mengeluh adanya glare atau silau. Perubahan selanjutnya timbul kekeruhan lensa atau katarak diabetes.



Tidak ada obat untuk menghilangkan katarak, karena hanya bisa hilang dengan operasi dan diganti dengan lensa yang jernih. Sebelum melakukan operasi, dokter akan melakukan pemeriksaan dahulu secara lengkap. Mulai dari pemeriksaan gula darah, pemeriksaan fungsi retina, serta pemeriksaan ukuran lensa tanam. Dan hasil operasi akan bagus bila fungsi retina dan organ lainnya dalam kondisi baik. Pada pasien dengan diabetes melitus hendaknya menunggu operasi hingga kadar gula darahnya terkontrol yaitu dibawah 200 mg/dl, untuk menghindari terjadinya komplikasi setelah operasi. 

* dr. Ayu Thea Primanita Mawan

Sumber : http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=24&id=79163

Rabu, 28 Agustus 2013

Operasi Lasik Aman Hilangkan Gangguan Mata

Operasi Lasik Aman Hilangkan Gangguan Mata

Senin, 26 Agustus 2013
JAKARTA (Suara Karya): Operasi lasik yang dapat menghilangkan mata minus, plus dan silinder, tidak menyebakan katarak. Namun, katarak memang sering muncul lebih awal pada seseorang yang memiliki mata minus yang tinggi.
"Lasik dan katarak itu dua hal yang berbeda. Tetapi memang katarak muncul lebih awal pada orang yang minus tinggi. Dan, mereka yang melakukan operasi lasik itu biasanya yang matanya minus tinggi," kata dr Anneta Mariza, SpM dari Klinik Mata Nusantara (KMN) usai melakukan i-lasik terhadap artis Sigi Wimala, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Hal itu terkait dengan rumor yang beredar bahwa operasi lasik dapat menimbulkan katarak. Sehingga orang yang menderita minus tinggi enggan melakukan lasik. Padahal, lasik merupakan operasi yang paling aman dan cepat untuk menghilangkan gangguan mata minus, mata plus dan mata silinder.
Dr Arnetta menjelaskan, katarak adalah penyakit yang membuat mata terasa berkabut sehingga mengganggu penghilangan. Penyakit tersebut umumnya terjadi pada setiap orang yang memasuki usia tua, tanpa terkecuali. Apalagi mereka yang tinggal di daerah tropis, yang kaya matahari.
"Setiap orang akan terkena katarak sebagai bagian dari proses penuaan. Namun, pada sebagian orang katarak bisa muncul pada orang usia yang lebih muda atau awal usia 40 tahun. Dan kebanyakan mereka yang mengalami mata minus tinggi. Jadi tidak perlu takut operasi lasik," tuturnya.
Karena itu, dr Arnetta menegaskan, seseorang operasi lasik atau tidak jika usianya menjelang lanjut akan terkena katarak. (Tri Wahyuni)

 
 
sumber: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=333133




Cegah Kebutaan dengan Mematikan Gen

Cegah Kebutaan dengan Mematikan Gen

TEMPO.CO, Massachusetts - Sebuah penelitian menunjukkan sindrom Macular degeneration atau penglihatan berkurang karena penuaan dapat dicegah dengan mematikan salah satu gen dalam sistem kekebalan tubuh. Para peneliti dari Massachusetts Eye dan Ear, Amerika Serikat, menggunakan tikus guna menemukan gen yang memiliki susunan "sistem pelengkap" dari kekebalan tubuh yang akan dimatikan.

Gen pada sistem kekebalan yang dimatikan adalah penyebab sindrom penurunan penglihatan. Hasil penelitian ini sudah ditebitkan dalam jurnal Human Molecular Genetics, Jumat, 16 Agustus 2013. Macular degenerations bisa terjadi pada dalam beberapa bentuk. Bahkan, ada pula yang menyebutkan bahwa Macular degenerations merupakan penyakit bawaan yang dapat mempengaruhi penglihatan anak-anak dan remaja.

Di negara maju, Macular degeneration telah dinyatakan sebagai penyebab kebutaan selama 65 tahun. Sebelumnya, sebuah studi genetika menunjukkan, beberapa komponen dari "sistem kekebalan" merupakan faktor utama pada kebutaan akibat macular degeneration.

Jika ada anggota keluarga yang memiliki sindrom seperti ini, memang sebaiknya lebih waspada dengan mencegahnya sebelum menurun pada generasi berikutnya. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya resiko Macular Degeneration adalah, merokok, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan obesitas. Cara mencegah Macular degeneration ini adalah dengan menghindari faktor risikonya.

THIRD AGE | RINDU P HESTYA
Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2013/08/19/060505427/Cegah-Kebutaan-Dengan-Mematikan-Gen

Senin, 26 Agustus 2013

27 Warga Lengkiti Ikut Operasi Katarak, Habiskan Dana Rp162 Juta

PALEMBANG -  Sebanyak 27 pasien penderita katarak yang berasal dari Kecamatan Lengikiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Induk mendapat bantuan operasi  katarak gartis.  Kegiatan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat  (PNPM) Mandiri ini menghabiskan dana sekitar Rp162 juta. Konsultan PNPM Mandiri, Dedi Suryadi ST mengatakan, bantuan ini di berikan untuk masyarakat yang kurang mampu. Operasi katarak ini pun dilaksanakan di Rumah Sakit Mata Provinsi Sumsel.  “Mereka yang melaksanakan operasi ini mesti menginap karena waktu yang di butuhkan sekitar tiga hari. 
“ Kegiatan ini dilaksanakan karena untuk partisipasi masyarakat Kecamatan Lengkiti OKU Induk. Dana yang digunakan juga berasal dari PNPM Mandiri yang kita sumbang untuk pembiayaan pengobatan gratis ini,”ujarnya yang di temui di sela – sela kegiatan, senin (26/8). Menurut Dedi, banyak masyarakat lengkiti yang menderita katarak, namun susahnya untuk mengarahkan masyarakat tersebut untuk melakukan pengobatan membuat hanya 27 orang yang terdata untuk melakukan operasi ini. 
“ Masih banyak masyarakat yang primitif serta rasa takut yang berlebihan untuk mengajak mereka berobat dan melakukan operasi ini. Sekitar 10 orang yang tidak mau melakukan operasi katarak, sebab mereka takut tidak sehat malah bertambah parah,” terang Dedi. (cj7/afi). Baca selengkapnya di Sumatera Ekspres dan Sumatera Ekspres Online, besok (27/8).

Ditulis oleh Redaktur Sumeks   
Senin, 26 Agustus 2013 19:00








http://sumeks.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=17788:27-warga-lengkiti-ikut-operasi-katarak-habiskan-dana-rp162-juta-&catid=60:news-update&Itemid=134

Kamis, 01 Agustus 2013

Buta Sejak Lahir, Kakek Bisa Melihat Setelah Dioperasi Katarak

Montreal, Kebutaan sejak lahir umumnya dianggap sebagai penyakit yang tak tersembuhkan. Namun dengan operasi katarak sederhana, ternyata seorang pria berumur 68 tahun asal Montreal, Kanada yang terlahir buta akhirnya dapat melihat untuk pertama kalinya.

Pierre-Paul Thomas terlahir dengan penyakit bawaan yang disebut nystagmus, suatu kondisi di mana mata bergerak tanpa terkontrol sehingga mengganggu penglihatan. Akibatnya, penderita akan kehilangan kontrol gerakan matanya sehingga penglihatan tidak dapat fokus.

Gangguan ini dapat terjadi pada masa bayi atau pada orang dewasa setelah terserang stroke, cedera di kepala, atau kekurangan vitamin. Apalagi setelah jatuh saat menuruni tangga di rumah, sebagian tulang di wajah Thomas retak, termasuk tulang di sekitar matanya.

Dia harus dibawa ke unit gawat darurat rumah sakit untuk menjalani beberapa operasi bedah plastik. Hasilnya lumayan bagus, walau masih ada beberapa kerusakan kulit kepala yang tersisa. Usai operasi, dia terperanjat ketika ditawari dokter untuk memperbaiki penglihatannya.

"Nah, sementara kita mengobati bagian ini, apakah Anda ingin kami untuk memperbaiki mata Anda juga?" kata Lucie Lessard, MD, seorang ahli bedah plastik ternama seperti dilansir Montreal Gazette, Selasa (30/7/2013).

Tentu saja Thomas yang selama ini hanya bisa melihat bayangan abu-abu dan hitam amat tertarik. Dengan operasi katarak sederhana yang telah digunakan secara luas sejak awal tahun 1900-an, Thomas bisa melihat dengan jelas untuk pertama kalinya.

Dev Cheema, MD, direktur klinik oftalmologi di Rumah Sakit Montreal General, menjelaskan bahwa katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan. Dia menduga bahwa Thomas sebenarnya mungkin masih bisa melihat di usia muda, walau saraf optiknya rusak akibat nystagmus. Tapi yang mengganggu penglihatannya saat ia semakin tua adalah katarak.

"Yang harus kami lakukan adalah menghapus katarak dan Thomas bisa melihat. Rasanya bahagia bisa melakukan sesuatu seperti ini. Selalu ada cerita yang positif untuk dituturkan ketika datang ke optalmologi (dokter mata)," katanya.

Kini Thomas dapat mengagumi warna, bunga-bunga yang bermekaran, dan wajah keluarganya untuk pertama kali. Dalam sebuah video, Thomas mengakui bahwa sebelum operasi, segalanya terlihat abu-abu. Tapi dia sekarang bisa melihat segala sesuatu dengan indah.

Thomas memang belum dapat melihat secara sempurna seperti orang normal pada umumnya, karena saat ini belum ada pengobatan untuk nystagmus atau saraf optiknya yang rusak. Tapi dia cukup senang dengan hasil operasi yang diperolehnya saat ini.

"Saya senang. Saya adalah seorang pria yang bahagia. Saya ucapkan terima kasih kepada Montreal General. Mereka telah mengembalikan hidup saya," kata Thomas.


(pah/vit)
Sumber: http://health.detik.com/read/2013/07/30/180148/2319392/763/buta-sejak-lahir-kakek-bisa-melihat-setelah-dioperasi-katarak?880004755