Cari

Jumat, 30 Agustus 2013

Katarak pada Penderita Diabetes Melitus

Katarak pada Penderita Diabetes Melitus

SEORANG pasien laki-laki berumur 60 tahun datang dengan keluhan utama mata kabur sejak 1 tahun yang lalu. Penglihatan seperti kabut. Selain itu pasien juga mengeluh silau terutama pada malam hari saat tersorot lampu kendaraan. 


Pasien ini memiliki riwayat sakit diabetes melitus sudah hampir 10 tahun. Setelah diperiksa menggunakan senter, terlihat lensa pada matanya mengalami kekeruhan sehingga lensa tidak transparan dan pupil tampak berwarna putih. Pasien ini terdiagnosis menderita katarak. 



Katarak merupakan kelainan mata yang ditandai dengan kekeruhan lensa, terutama disebabkan oleh proses degenerasi yang berkaitan dengan usia. Namun demikian, katarak dapat juga disebabkan oleh proses radang intraokular, trauma, infeksi dalam kandungan, dan faktor keturunan. Selain itu, katarak dapat dipermudah timbulnya pada situasi dan kondisi tertentu misalnya: penyakit diabetes mellitus, merokok, hipertensi, peningkatan asam urat serum, radiasi sinar ultraviolet B, myopia tinggi, kekurangan anti oksidan, dan lain-lain. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama. 



Akibat kekeruhan lensa mata, sinar yang masuk ke selaput jala akan terganggu, dengan demikian terjadilah gangguan tajam penglihatan. Gangguan tajam penglihatan yang terjadi dapat ringan dengan keluhan silau, terutama kalau terkena sinar yang sangat terang. Pasien juga mengeluh penglihatan seperti berasap. Hal ini sesuai dengan luas serta letaknya kekeruhan lensa. Namun pada saatnya kekeruhan lensa akan meluas dan menimbulkan gangguan tajam penglihatan sampai tingkat kebutaan.



Survei 



Survei kesehatan indera penglihatan di Indonesia tahun 1993 - 1996 menunjukkan angka kebutaan 1,47%. Penyebab utama kebutaan adalah katarak (1,02%), glaucoma (0,16%), kelainan refraksi (0,14%), kelainan retina 0,09%, dan kelainan kornea 0,06% (Depkes 1997). Diperkirakan 12 orang menjadi buta tiap menit di dunia dan 4 orang di antaranya berasal dari Asia tenggara. Jumlah ini akan meningkat menjadi dua kali pada tahun 2020, hal ini berkaitan dengan jangka umur harapan hidup yang meningkat. Diperkirakan bahwa 80% dari seluruh kasus kebutaan dapat dipulihkan kembali, termasuk di sini terutama kebutaan katarak. Kebutaan tidak hanya berdampak pada individu, namun juga menimbulkan masalah kesehatan masyarakat, sosial dan ekonomis.



Pada pasien diatas diketahui memiliki riwayat sakit diabetes melitus selama 10 tahun dimana diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan timbulnya hiperglikemia (peningkatan glukosa dalam darah yang berlebihan) akibat gangguan sekresi insulin, dan atau peningkatan resistensi seluler terhadap insulin. Hiperglikemia kronik dan gangguan metabolik DM lainnya akan menyebabkan kerusakan jaringan dan organ, seperti di mata, ginjal, syaraf, dan sistem vaskular.



Glukosa diperlukan oleh mata dalam memproduksi ATP yang sangat bermanfaat dalam menjaga kejernihan lensa. Ketersediaan glukosa pada lensa akan menjaga kejernihan lensa, tetapi apabila glukose diambil, lensa akan menjadi keruh dalam beberapa jam walaupun oksigen tersedia cukup. Bila ada gangguan metabolisme pada lensa akibat proses kimia, trauma mekanik, atau elektrik maupun radiasi akan terjadi kekeruhan lensa. 



Sedangkan, kadar glukosa yang terlalu tinggi dalam darah (hiperglikemi) akan mengakibatkan terjadinya penimbunan sorbitol (hasil dari metabolisme glukosa) dalam lensa yang akan menyebabkan terjadinya pembengkakan lensa akibat masuknya air. Pada awalnya mata mampu melakukan kompensasi, tetapi pada saat yang sama pasien telah mengalami perubahan tajam penglihatan. Penyulit lanjut berupa pembengkakan dan kerusakan serabut lensa dan pasien akan mengeluh adanya glare atau silau. Perubahan selanjutnya timbul kekeruhan lensa atau katarak diabetes.



Tidak ada obat untuk menghilangkan katarak, karena hanya bisa hilang dengan operasi dan diganti dengan lensa yang jernih. Sebelum melakukan operasi, dokter akan melakukan pemeriksaan dahulu secara lengkap. Mulai dari pemeriksaan gula darah, pemeriksaan fungsi retina, serta pemeriksaan ukuran lensa tanam. Dan hasil operasi akan bagus bila fungsi retina dan organ lainnya dalam kondisi baik. Pada pasien dengan diabetes melitus hendaknya menunggu operasi hingga kadar gula darahnya terkontrol yaitu dibawah 200 mg/dl, untuk menghindari terjadinya komplikasi setelah operasi. 

* dr. Ayu Thea Primanita Mawan

Sumber : http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=24&id=79163

Tidak ada komentar:

Posting Komentar