Cari

Rabu, 25 September 2013

Statin Meningkatkan Risiko Katarak?

Statin Meningkatkan Risiko Katarak?

Liputan6.com, Statin, obat kolesterol menurut studi dapat meningkatkan risiko katarak. Studi ini dikutip Reuters, Jumat (20/9/2013), namun para peneliti tidak dapat membuktikan bahwa obat ini memang penyebab gangguan kondisi mata ini.

Namun mereka menemukan sekitar 27 persen pengguna statin seperti Zocor dan Lipitor berisiko katarak dibandingkan dengan yang tidak mengonsumsi statin.
"Hasilnya konsisten bahwa orang yang mengonsumsi statin didiagnosis berisiko katarak," ujar Penulis Senior Studi dari UT Southwestern Medical Center dan VA Medical Center Dallas di Texas, dr. Ishak Mansi.

Statin adalah obat populer yang menghalangi zat yang dibutuhkan tubuh penghasil kolesterol dalam arteri dan akhirnya menyebabkan serangan jantung dan stroke.
Sekitar seperempat dari orang dewasa Amerika Serikat berusia 45 tahun mengonsumsi statin untuk diabetes atau riwayat masalah kardiovaskular.

Para peneliti telah mengamati hubungan antara statin dan katarak sebelumnya dengan hasil yang beragam. Sementara beberapa studi mengatakan statin menurunkan risiko terkena katarak sedangkan penelitian lainnya menemukan obat ini meningkatkan risiko penyakit lainnya.
Untuk penelitian baru ini, Mansi dan rekan-rekannya menggunakan data catatan medis orang antara usia 30 dan berusia 85 tahun yang terdaftar sistem kesehatan di San Antonio, Texas.
Dalam satu analisis, mereka membandingkan selama 90 hari sekitar 7.000 pengguna statin dan 7.000 yang tidak.

Hasilnya sekitar 36 persen orang-orang yang mengonsumsi statin didiagnosis menderita katarak. Sedangkan pada kelompok orang yang tidak mengonsumsi statin sebanyak 34 persen didiagnosa katarak.

Para peneliti menemukan bahwa risiko terkena katarak meningkat dengan lamanya waktu seseorang mengonsumsi statin.

Mengenai penelitian tersebut Kepala Oftalmologi di Columbia University Medical Center di New York, Dr Jack Cioffi mengatakan penelitian ini dilakukan dengan sangat baik namun memiliki beberapa keterbatasan.

"Penelitian ini memiliki keterbatasan, tidak dijelaskan bagaimana statin dapat meningkatkan risiko katarak," ujar Cioffi.
(Mia/Abd)

SUMBER : http://health.liputan6.com/read/698472/statin-meningkatkan-risiko-katarak

Kamis, 12 September 2013

Indonesia Nomor Dua di Dunia Soal Jumlah Penderita Katarak

Indonesia Nomor Dua di Dunia Soal Jumlah Penderita Katarak

BOGOR (Pos Kota) – Masyarakat Indonesia menempati urutan pertama di Asia Tengara dan nomor dua di dunia untuk penderita katarak.Angka penderita katarak ini sangat ironi dan berbanding terbalik dengan kondisi alam Indonesia yang kaya raya.
Pasalnya penyebab tingginya angka penderita katarak, akibat ekonomi warga yang masih di bawah kecukupan.
Merespon masalah sosial ini, sebanyak 50 warga penderita katarak menjalani operasi gratis yang dilakukan RSIA Ummi Bogor Empang Rabu (11/9) siang.Hadir pada acara operasi katarak Menteri Sosial RI, Salim Segat Al-jufri.
Kepada wartawan di RSIA Ummi Bogor.
Dengan menempati urutan kedua dunia penderita katarak setelah Ethiopia, pemerintah sudah melakukan berbagai langkah, termasuk menggandeng berbagai komponen. Oleh karena itu,, Menteri Salim memberi apresiasi kepada Bank Mandiri Syariah atas kepeduliannya berbagi untuk warga tidak mampu sehingga operasi ini bisa berjalan.
Menurut Salim Segaf, permasalahan sosial di Indonesia sangat besar.
Pada kesempatan ini, Menteri Salim memberikan bantuan Rp49 juta bagi 98 orang dengan nominal masing-masing sebesar Rp500 ribu.Ia berharap, bantuan akan berkelanjutan agar kedepan, kemiskinan dapat diberdayakan untuk menuju hidup yang lebih baik lagi. (yopi)
Teks : Menteri Sosial Salim Segat Al-jufri beri bantuan kepada 98 orang masing-masing Rp 500 ribu

sumber :http://www.poskotanews.com/2013/09/12/indonesia-nomor-dua-di-dunia-soal-jumlah-penderita-katarak/

Rabu, 04 September 2013

1.023 Warga Pedalaman Operasi Katarak

Metrotvnews.com, Banjarmasin:  Kodam IV Mulawarman kembali menggelar operasi katarak kepada 1.023 warga miskin dan pedalaman di Kalimantan Selatan.

TNI memprioritaskan pembangunan SDM di wilayah perbatasan.

Operasi katarak yang digelar Korem 101/Antasari, Selasa (3/9), bekerja sama dengan Lembaga New Vision dipusatkan di Rumah Sakit dr Soedarsono, Banjarmasin.

Dari 2.620 warga yang mendaftarkan diri untuk dioperasi, hanya 1.023 orang yang memenuhi syarat.

"Kegiatan bhakti sosial operasi katarak ini, merupakan upaya TNI untuk membantu pemerintah dalam pelayanan dan peningkatan kesehatan masyarakat, terutama masyarakat miskin dan berada di wilayah pedalaman, serta perbatasan," tutur Pangdam IV Mulawarman Mayor Jenderal Dicky Wainal Usman, di sela-sela peninjauan kegiatan operasi katarak di RS dr Soeharsono, Banjarmasin. (Denny S)

Editor: Edwin Tirani


Sumber : http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/09/03/3/179209/-1.023-Warga-Pedalaman-Operasi-Katarak

Selasa, 03 September 2013

Ilmuwan Indonesia Temukan Cara Baru Cegah Katarak pada Anak

Ilmuwan Indonesia Temukan Cara Baru Cegah Katarak pada Anak

Amerika Serikat - Para peneliti mengidentifikasi neuron jenis penghambat, yang menjadi kunci penting dalam perkembangan kemampuan melihat pada anak.
Dengan menemukan peran utama jenis inhibitory neuron yang menjadi kunci dalam memediasi bagian penting dari pengembangan penglihatan, Dr. Taruna Ikrar, PhD ilmuwan asal Indonesia, yang bekerja sebagai Staff Academik dan Saintis di UC Irvine dan juga sebagai, dengan bekerjasama dengan group neurobiologists di UCLA telah menemukan pendekatan baru untuk memperbaiki gangguan penglihatan pada anak-anak yang menderita katarak atau amblyopia.
Pendekatan baru ini bahkan dapat dilakukkan sebagai pencegahan sejak awal, sehingga kelak dapat mengurangi kecacatan pada penglihatan anak tersebut.
Sebagai mana diketahui, bahwa anak-anak yang menderita amblyopia dan katarak dalam perkembangannya dapat mengakibatkan cacat permanen pada penglihatan, bahkan sekalipun telah dilakukan operasi pengangkatan katarak atau dan memperbaiki aksis amblyopia (Kelemahan penglihatan).
Kekurangan ini sering merupakan akibat dari perkembangan system saraf otak yang tidak benar atau dengan kata lain terjadi suatu kesalahan dapat perkembangan system saraf dalam fase pertumbuhan anak tersebut.
Demikian pula karena kelemahan visual selama masa kanak-kanak. Sebaliknya, ketika terjadi katarak pada orang dewasa akan dilakukan pembedahan koreksi atau pemulihan penglihatan.
Pada penemuan tersebut, ditemukan fenomena menarik yang ditunjukkan oleh jenis atau tipe tertentu pada inhibitory neuron (neuron penghambat), yang mengontrol fase atau waktu, "periode kritis," dari pertumbuhan dan perkembangan dalam fase awal penglihatan, sebelum anak berusia 7 tahun.
Hasil penelitian ini diterbitkan di Nature secara online pada tanggal 25 Agustus 2013. Nature Minggu ke-4 Agustus 2013.
Para peneliti menemukan bahwa fungsi yang tidak tepat dari neuron atau saraf kunci selama periode kritis dalam perkembangan yang bertanggungjawab terhadap kecacatan penglihatan ini.
Selain itu, dalam tes pada tikus, Dr. Taruna Ikrar bersama teamnya menggunakan senyawa obat tertentu dalam percobaan tersebut, untuk membuka kembali fase atau periode kritis ini yang menunjukkan modifikasi dan pengaruh obat tersebut dapat merangsang dan mengobati kecacatan saraf, yang diakibatkan oleh gangguan penglihatan mata selama fase awal pengembangannya.
Demikian pula, mereka menunjukkan bahwa obat yang ditargetkan pada neuron yang spesifik dan menjadi kunci pengaturan periode kritis tersebut, menunjukkan mengalami perbaikan gangguan penglihatan sentral pada anak-anak yang pernah menderita amblyopia atau katarak awal.
"Jenis neuron yang spesifik tersebut, meregulasi fase atau periode kritis selama perkembangan anak, yang selam ini masih menjadi misteri," kata Dr. Taruna Ikrar. "Terobosan kami menguraikan jalan baru untuk perawatan yang dapat mengembalikan penglihatan normal pada anak-anak yang memiliki gangguan penglihatan awal."
Penulis: Faisal Maliki Baskoro/FMB
Sumber:PR
http://www.beritasatu.com/kesehatan/135414-ilmuwan-indonesia-temukan-cara-baru-cegah-katarak-pada-anak.html

Minggu, 01 September 2013

Temuan Terbaru Ilmuwan Indonesia untuk Cegah Gangguan Penglihatan Sejak Dini

Jakarta, Gangguan penglihatan pada anak-anak yang menderita katarak atau amblyopia kerap memicu cacat permanen pada mata. Temuan terbaru dari ilmuwan Indonesia yang dimuat di jurnal internasional Nature memberikan harapan untuk mencegahnya.

Para peneliti mengidentifikasi neuron jenis penghambat, yang menjadi kunci penting dalam perkembangan kemampuan melihat pada anak. Dengan menemukan peran utama jenis inhibitory neuron yang menjadi kunci dalam memediasi bagian penting dari pengembangan penglihatan, Dr. Taruna Ikrar, PhD ilmuwan asal Indonesia, yang bekerja sebagai Staf Akademik dan Saintis di UC Irvine, yang bekerjasama dengan group neurobiologists di UCLA telah menemukan pendekatan baru untuk memperbaiki gangguan penglihatan pada anak-anak yang menderita katarak atau amblyopia. Bahkan dapat melakukan pencegahan sejak awal, sehingga kelak dapat mengurangi kecacatan pada penglihatan anak tersebut.

Sebagai mana diketahui, anak-anak yang menderita amblyopia dan katarak dalam perkembangannya dapat mengakibatkan cacat permanen pada penglihatan, bahkan sekalipun telah dilakukan operasi pengangkatan katarak atau dan memperbaiki aksis amblyopia (Kelemahan penglihatan). Kekurangan ini sering merupakan akibat dari perkembangan system saraf otak yang tidak benar atau dengan kata lain terjadi suatu kesalahan dapat perkembangan sistem saraf dalam fase pertumbuhan anak tersebut.

Demikian pula karena kelemahan visual selama masa kanak-kanak. Sebaliknya, ketika terjadi katarak pada orang dewasa akan dilakukan pembedahan koreksi atau pemulihan penglihatan.

Pada penemuan tersebut, ditemukan fenomena menarik yang ditunjukkan oleh jenis atau tipe tertentu pada inhibitory neuron (neuron penghambat), yang mengontrol fase atau waktu, "periode kritis," dari pertumbuhan dan perkembangan dalam fase awal penglihatan, sebelum anak berusia 7 tahun. Hasil penelitian ini diterbitkan di Nature secara online pada tanggal 25 Agustus 2013 dan Edisi cetak Nature Minggu ke-4 Agustus 2013.

Para peneliti menemukan bahwa fungsi yang tidak tepat dari neuron atau saraf kunci selama periode kritis dalam perkembangan yang bertanggungjawab terhadap kecacatan penglihatan ini. Selain itu, dalam tes pada tikus, Dr. Taruna Ikrar bersama teamnya menggunakan senyawa obat tertentu dalam percobaan tersebut, untuk membuka kembali fase atau periode kritis ini yang menunjukkan modifikasi dan pengaruh obat tersebut dapat merangsang dan mengobati kecacatan saraf, yang diakibatkan oleh gangguan penglihatan mata selama fase awal pengembangannya.

Demikian pula, mereka menunjukkan bahwa obat yang ditargetkan pada neuron yang spesifik dan menjadi kunci pengaturan periode kritis tersebut, menunjukkan mengalami perbaikan gangguan penglihatan sentral pada anak-anak yang pernah menderita amblyopia atau katarak awal.

"Jenis neuron yang spesifik tersebut, meregulasi fase atau periode kritis selama perkembangan anak, yang selam ini masih menjadi misteri," kata Dr Taruna Ikrar.

"Terobosan kami menguraikan jalan baru untuk perawatan yang dapat mengembalikan penglihatan normal pada anak-anak yang memiliki gangguan penglihatan awal," lanjutnya.

Bersama sejawatnya, Dr Nicholas dan Dr Xu dari UC Irvine dan Drs Sandra, Elaine, Prof Jusho dari UCLA, Penelitian ini dibiayai oleh National Eye Institute (Grant EY016052) dan Institute National For Neurologic and Stroke Disorders (Grant NS078434).