Cari

Jumat, 07 November 2014

Mengenal Katarak Lebih Dekat

Oleh: dr.Dyana Novia
Mata adalah cerminan hati. Tak jarang ada keluarga kita mengalami yang namanya katarak. Katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan di dunia dan penyakit pada mata yang paling sering ditemukan. Di Amerika Serikat, katarak menjadi urutan ketiga dalam menyebabkan kebutaan, hal ini sebenarnya dapat dicegah.
Katarak adalah suatu kondisi di mana terjadinya kekeruhan pada lensa. Hal ini dapat melibatkan kekeruhan lokal ataupun difus yang mengakibatkan lensa menjadi tidak transparan. Lensa mata manusia adalah objek di depan mata yang kecil, berbentuk konveks dan bening seperti gelas yang secara normal dapat dilewati oleh cahaya menuju bagian belakang mata.
Jika terjadi katarak, cahaya tidak dapat menembus lensa mata dan terjadilah gangguan penglihatan. Katarak dapat terjadi pada satu ataupun kedua mata, dan tidak harus terjadi pada saat yang bersamaan.
Usia tua adalah penyebab paling sering. Paparan terhadap sinar UV pada cahaya matahari dapat mempercepat terjadinya katarak. Katarak lebih gampang terjadi pada penderita kencing manis, perokok, peminum alkohol, adanya penyakit pada mata, dan pernah terjadi luka pada mata. Gangguan penglihatan merupakan gejala paling sering.
Keluhan-keluhan lain misalnya kesulitan membaca, penglihatan kabur, kesulitan mengenali muka, kesulitan menonton TV, bermasalah dengan mengendarai mobil terutama pada malam hari, kesulitan melihat pada cahaya terang atau perasaan silau, dan juga seringnya melihat lingkaran hitam di sekitar cahaya. Gejala-gejala seperti rasa nyeri, rasa tidak nyaman, merah, gatal ataupun berair tidak ditemukan pada katarak. Katarak juga dapat terjadi pada semua usia, tetapi paling sering pada usia tua.
Tidak ada terapi obat-obatan ataupun herbal untuk katarak. Kadang-kadang, penggunaan kacamata dapat membantu. Pembedahan adalah satu-satunya terapi yang efektif dan dengan operasi akan menghasilkan kesembuhan pada 95 % kasus. Jika penglihatan kabur sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, maka disarankan untuk dioperasi.
Rasa silau juga menjadi indikasi untuk dioperasi terutama pada penderita yang perlu mengendarai pada malam hari. Pada keadaan-keadaan tertentu seperti terjadinya glaukoma, infeksi mata, lensa bergeser, benda asing dalam lensa, penyakit lensa akibat kencing manis (diabetes), dan terlepasnya retina. Operasi juga dapat dilakukan untuk indikasi kosmetika.
Setelah operasi, pasien dianjurkan untuk menghindari membasuh kepala selama 1 minggu, mengangkat benda berat selama lebih kurang 3 bulan dan menghindari olahraga yang berhubungan dengan kontak tubuh selama lebih kurang 1 tahun. Kacamata hitam, terutama yang dapat menyaring cahaya UV, memberikan perlindungan terhadap terjadinya katarak. Selain itu, disarankan untuk tidak merokok dan mengkonsumsi makanan sehat.
sumber:
http://analisadaily.com/news/read/mengenal-katarak-lebih-dekat/75830/2014/10/27


Rabu, 05 November 2014

Penyebaran Dokter Spesialis Mata dan Jiwa Tidak Merata

Jakarta, HanTer - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan bahwa jumlah dokter spesialis mata dan jiwa perlu diperbanyak untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di Tanah Air.

"Dokter spesialis mata dan jiwa masih langka ditemukan di wilayah tertentu di Indonesia karena penyebarannya tidak merata. Beberapa wilayah tidak memiliki dokter maupun rumah sakit yang khusus menangani penyakit itu," kata Ketua IDI Zaenal Adibin di Jakarta, Selasa (28/10).

Dia mengemukakan jumlah dokter umum di Indonesia mencapai 110.776 orang, sedangkan dokter spesialis 19.367 orang.

Selama ini dokter spesialis yang selalu digadang-gadangkan hanya empat, yakni spesialis anak, penyakit dalam, kandungan dan bedah.

Padahal kebutuhan pelayanan kesehatan untuk masyarakat tidak hanya sebatas itu. Kebutuhan terhadap dokter spesialis lainnya, seperti mata dan jiwa itu berdasarkan pengalaman pelayananan kesehatan yang dilakukan di berbagai daerah.

Permasalahan serius muncul untuk mencetak lebih banyak dokter spesialis, meski sumber daya manusia di Indonesia cukup memadai. Permasalahan itu terkait dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menjadi dokter spesialis.

"Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan peranan pemerintah. Namun kami ingatkan sekali lagi, penyebaran dokter spesialis harus merata, tidak boleh hanya berpusat di wilayah tertentu seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya," ujarnya.

Jumlah masyarakat Indonesia yang mengalami penyakit mata, seperti katarak semakin meningkat, termasuk sakit jiwa akibat depresi dan lainnya.

"Pelayanan kesehatan tidak dapat dilakukan secara maksimal bila jumlah dokter spesialis tidak memadai," ujarnya.

Menurut dia, peranan dokter spesialis sangat besar mendorong kualitas hajat hidup masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai contoh, nelayan yang memiliki penyakit katarak tidak dapat mencari ikan bila tidak dapat melihat.

Pengobatan gratis untuk penyakit katarak maupun pengobatan yang relatif murah akan membantu nelayan tersebut. Penglihatan nelayan itu akan memberi manfaat bagi masyarakat sebab ikan-ikan yang dimakan setiap hari merupakan hasil kerja keras nelayan.

"Banyak nelayan yang kami temukan menderita penyakit katarak. Mereka perlu mendapatkan pengobatan," ujarnya.
 
(Zahroni)
sumber:
http://www.harianterbit.com/read/2014/10/28/10374/0/29/Penyebaran-Dokter-Spesialis-Mata-dan-Jiwa-Tidak-Merata

Senin, 03 November 2014

Angka Kebutaan di Indonesia Masih Relatif Tinggi

TRIBUNNEWS.COM.YOGYAKARTA,  - Angka kebutaan di Indonesia masih relatif tinggi. Hasil riset kesehatan dasar 2013, angka kebutaan di Indonesia mencapai 0.6 persen, dan 35 persen di antaranya kebutaan permanen. Dengan angka tersebut, kesehatan mata di Indonesia masih merupakan masalah sosial yang membutuhkan penanganan dari semua pihak. 

"Angka kebutaan di Indonesia masih lebih tinggi dari Singapura dan Thailand yang sudah di bawah 0,5 persen. Tapi jika dibanding tahun 1990-an, dengan angka kebutaan mencapai 1,47 persen, kita sudah menurun sangat signifikan,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM, Prof dr Suhardjo SU SpM(K), Selasa ( 28/10/2014). 

Lebih lanjut Suhardjo menuturkan, penyebab kebutaan terbanyak berturut-turut adalah katarak, kebutaan kornea, glaukoma dan retinopati. Untuk menurunkan angka kebutaan, lanjut Suharjo, pelayanan pemeriksaan kesehatan mata sebaiknya ada di tingkat pusat pelayanan primer, yakni puskesmas. Hal ini juga sejalan dengan berlakunya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). 

"Sayangnya, gagasan itu belum bisa dilaksanakan karena puskesmas belum siap. Ketersediaan paramedis mata yang terampil belum ada. Paramedis yang ada saat ini masih umum. Oleh karena itu, ke depan dibutuhkan pengembangan profesi paramedis khusus mata yang nantinya akan ditempatkan di pusat pelayanan primer," imbuhnya. 

Selain masalah ketersediaan tenaga paramedis, menurut Suharjo, persoalan pembiayaan juga merupakan masalah dalam upaya menekan angka kebutaan di Indonesia. 

"Saat ini, tarif pengobatan mata dalam BPJS relatif rendah. Semua pembiayaan kebanyakan disamaratakan. Padahal untuk beberapa kasus, butuh peralatan dan obat-obatan yang tidak murah," paparnya. 

Berbagai persoalan kesehatan mata tersebut akan dibahas dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-39 Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia yang akan diselenggarakan di Yogyakarta pada 1 November 2014 mendatang.
sumber:
http://www.tribunnews.com/regional/2014/10/29/angka-kebutaan-di-indonesia-masih-relatif-tinggi


Sabtu, 01 November 2014

Mengenal Glaukoma, Penyebab Kebutaan Mata Permanen

MediaPangandaran.com – Mata merupakan salah satu organ yang berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang sehingga pemeliharaan kesehatan mata harus menjadi salah satu prioritas kesehatan bagi suatu individu. Gangguan penglihatan terutama yang sudah jatuh dalam kategori buta akan menjadi beban hidup bukan hanya untuk penderitanya tetapi juga terhadap orang-orang di sekitarnya.
Salah satu penyebab kebutaan adalah akibat glaukoma yang merupakan penyebab kebutaan terbanyak kedua setelah katarak di dunia maupun di Indonesia. Berbeda dengan katarak yang merupakan penyebab kebutaan yang masih dapat diobati dengan tindakan operasi, glaukoma merupakan penyebab kebutaan yang menetap. Untuk itu penting untuk mengetahui apa itu glaukoma.
Glaukoma merupakan suatu kumpulan gejala penyakit dengan karakteristik terdapat kerusakan saraf mata pusat yang berhubungan dengan terjadinya penyempitan lapang pandang dan hilangnya fungsi penglihatan. Glaukoma dapat merupakan penyakit turunan dan tidak menular. Biasanya mengenai kedua mata dengan stadium yang berbeda. Umumnya terjadi pada semua usia termasuk bayi. Peningkatan tekanan bola mata merupakan faktor risiko utama pada terjadinya glaukoma.
Secara normal, di dalam bola mata terdapat cairan yang bertugas untuk memberikan nutrisi bagi organ yang terdapat di dalam bola mata dan berkontribusi memberikan volume/tekanan pada bola mata. Cairan tersebut diproduksi dan dikeluarkan kembali dalam siklus yang seimbang sehingga tekanan bola mata terjaga dalam nilai normal (16,3 mmHg).
Pada glaukoma terjadi ketidakseimbangan siklus aliran cairan tersebut yang menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan bola mata. Peningkatan tekanan bola mata tersebut mengakibatkan terjadinya penekanan pada saraf mata pusat yang akhirnya dapat menyebabkan kerusakan saraf mata pusat secara perlahan.
Kerusakan saraf mata pusat menjadikan terjadinya penyempitan lapang pandang. Penyempitan lapang pandang ini terjadi secara perlahan, sedikit demi sedikit sampai akhirnya penderita hanya seperti melihat dari lubang kunci bahkan sampai menimbulkan kebutaan.
Penderita glaukoma biasanya tanpa gejala pada tahap awal. Bila sudah tahap lanjut, biasanya penderita sering menabrak benda di sekitarnya, bila berjalan mudah tersandung, dan kesulitan mengendarai kendaraan sendiri akibat terganggunya lapang pandang.
Terdapat empat jenis glaukoma dengan gejala yang berbeda yaitu glaukoma kronis (tanpa gejala), glaukoma dengan serangan akut, glaukoma kongenital, dan glaukoma sekunder (akibat penyakit mata lain atau penyakit sistemik).
 Deteksi dini pada glaukoma merupakan kunci untuk pencegahan kebutaan yang disebabkan oleh glaukoma. Pengontrolan keadaan glaukoma sedini mungkin diharapkan dapat mempertahankan fungsi penglihatan dalam jangka waktu yang lebih panjang dan diharapkan penderita tidak jatuh pada kebutaan. Disarankan pada orang-orang yang berusia 40 tahun ke atas atau memiliki faktor risiko untuk dapat melakukan pemeriksaan mata secara rutin, minimal satu tahun sekali.
sumber:http://mediapangandaran.com/mengenal-glaukoma-penyebab-kebutaan-mata-permanen/4549/


Rabu, 29 Oktober 2014

STORY: Buta Selama 12 Tahun, Pria Ini Akhirnya Sembuh jadiLifejadiStory

Ada yang berkata kalau buta karena penyakit tak bisa disembuhkan. Namun ternyata pernyataan itu salah, dan buktinya ada pada kisah pria yang satu ini.
Katarak membuat penglihatan Winesi March (69 tahun) terganggu selama 12 tahun. Sejak 2 tahun lalu, Winesi benar-benar kehilangan penglihatannya. Dia tidak bisa bekerja atau melihat wajah istrinya lagi. Namun dengan bantuan operasi, kini dia bisa melihat kembali wajah istri yang begitu dicintainya.
Dilansir dari Daily Mail, Kamis (23/10/2014), Winesi benar-benar bahagia dan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu. Senyum terus terlihat dari Winesi saat dokter membuka perban di matanya. Inilah momen saat Winesi melihat kembali wajah istrinya, wajah yang tidak bisa dia lihat dengan sempurna selama 12 tahun ini. Winesi langsung menari-nari gembira setelah memeluk istrinya dan bisa melihat cucunya yang berusia 18 bulan.
“Saya sangat senang bisa melihat istri saya lagi. Saya berkata, ah.. seperti inikah rasanya bisa melihat lagi.” ujar Winesi dengan wajar berbinar.
Operasi katarak dilakukan Winesi di Queen Elizabeth Hospital, Blantyre, Malawi. Operasi ini hanya membutuhkan waktu 6 menit dan biaya yang sangat murah. Namun selama bertahun-tahun, Winesi dan keluarganya yang tinggal di pedesaan tidak tahu bahwa masalah di matanya bisa diatasi dengan operasi. Hingga akhirnya kampanye operasi katarak membuat keluarga Winesi membawanya ke rumah sakit.
“Saya tidak pernah bermimpi hal ini dapat terjadi,” ujar istri Winesi. “Tidak ada informasi di daerah kami tentang perawatan mata,” lanjutnya.
Winesi sendiri bercerita bahwa dia sangat tersiksa saat penglihatannya bermasalah, namun dia masih bisa bekerja sebagai petani. Namun sejak penglihatannya sudah hilang total sejak 2 tahun lalu, Winesi tidak bisa bekerja bahkan harus dibantu saat makan dan ke toilet. Dia juga sangat khawatir tidak ada yang melindungi istrinya. Maka saat tahu kondisi matanya bisa pulih dengan operasi, Winesi memberanikan diri untuk menjalani prosedur ini.
“Sekarang saya bisa melihat lagi dan bisa kembali mengurus pertanian. Saya ingin kembali bekerja dan mulai memasak lagi, melakukan segala hal,” ujar Winesi.
Dengan kondisi sehat seperti sekarang, Winesi tak lagi sedih karena merasa menjadi beban bagi istrinya. Sekarang dia bisa melihat kembali wajah wanita yang begitu dicintai, bisa melihat dan bermain dengan cucunya. Dan yang pasti, Winesi begitu bersyukur diberi kesempatan melihat kembali.
Bagi Anda yang masih memiliki anggota tubuh normal, jagalah dengan baik, jangan sampai Anda menyesal dan baru tersadar kemudian setelah Anda kehilangan salah satu anggota tubuh Anda. Selain itu Anda juga harus lebih bersyukur dengan apa yang Anda miliki sekarang. (tom)
sumber
http://jadiberita.com/46158/story-buta-selama-12-tahun-pria-ini-akhirnya-sembuh.html

Senin, 27 Oktober 2014

Terlalu sering menggunakan Tetes mata

Mata adalah organ penglihatan manusia yang rentan rusak, namun keberadaannya sangat vital. Merawat mata secara benar akan membuat organ penglihatan tersebut lebih sehat, dan terhindar dari gangguan berbagai penyakit. Sayangnya, tak semua orang paham cara membuat mata tetap terjaga kesehatannya.
Beberapa hal yang dianggap wajar sering dilakukan, padahal dapat membuat kondisi mata jadi rentan mengalami gangguan. Ini seperti dibahas oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Jatim, tepat pada World Sight Day 9 Oktober lalu.
Penyakit mata yang sering dialami oleh masyarakat adalah katarak, miopia, serta diabetes mata, demikian berdasarkan catatan dari Poli Mata RSUD dr Soetomo. Dr Delfitri Lutfi SpM juga mendukung data tersebut dengan menyatakan, “Paling tinggi itu katarak. Dari tahun ke tahun selalu nomor 1.”
Penyebab dari penyakit mata katarak ini antara lain adalah usia senja, biasanya terjadi di 50 tahun ke atas. Selain itu juga efek sinar ultraviolet yang mengenai mata secara langsung. Kebiasaan memakai tetes mata terlalu sering juga dapat memicu katarak, tambah dokter Delfitri.
Orang sering memakai tetes mata saat mata mengalami kering, merah, atau iritasi ringan. Seharusnya hal tersebut tak dilakukan sebab obat tetes mata harus diberikan dengan resep dokter. Alasannya, dalam obat tetes mata ada kandungan steroid yang jika berikan berlebihan akan memicu resiko kebutaan.
Dilansir oleh JPNN, alasan steroid sebaiknya tak dipakai berlebihan juga karena ada kandungan gula yang ada dalam steroid pada obat tetes mata. Ini akan mengganggu produksi cairan mata. Padahal cairan mata sangat penting bagi kesehatan mata.
Akibatnya lensa mata bisa keruh dan menimbulkan lapisan katarak. Proses ini memang berlangsung lama dan butuh waktu. Namun mencegah memang lebih baik dari pada mengobati.
sumber
http://sidomi.com/333465/pakai-tetes-mata-terlalu-sering-bikin-katarak/


Jumat, 24 Oktober 2014

Angka Kebutaan Tinggi, Indonesia Bentuk Asosiasi Dokter Mata

Angka kebutaan di Indonesia masih cukup tinggi. Sebagian besar kebutaan disebabkan oleh katarak yang tidak hanya menyerang orang lanjut usia atau dewasa, namun juga anak-anak. Selain menghambat aktivitas, kebutaan juga menjadi salah satu penyebab kemiskinan.

Angka kebutaan di Indonesia masih cukup tinggi, khususnya di Jawa Barat. Salah satu upaya memberantas kebutaan itu, Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung pun membentuk Asosiasi Dokter Mata Indonesia, bersamaan dengan peringatan World Sight Day 2014, yang jatuh pada 9 Oktober kemarin.
Direktur Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung, Hikmat Wangsaatmadja, SpM, Mkes, MM mengatakan, secara nasional jumlah kebutaan mencapai 1,5% dari total penduduk. Namun di Jawa Barat angka kebutaan ini di bawah rata-rata nasional, yakni 1,1% atau sekitar 480.000 orang. Jumlah pengidap di atas satu persen ini dapat dikatakan tinggi.
Padahal sebenarnya kasus kebutaan merupakan hal yang bisa dicegah. Presentase kesembuhannya bahkan bisa mencapai 60% sampai 80%. Sehingga menurut Hikmat, kasus tingginya angka kebutaan ini bukan lagi hanya masalah kesehatan tapi sudah mencakup masalah sosial.
“Masih banyak ketidaktahuan dari yang sakitnya untuk datang memeriksakan diri, untuk datang mau berobat. Kita berantas kebutaan ini untuk menghilangkan kemiskinan, karena orang buta tidak sekolah. Tidak bekerja ya miskin,” kata dr. Hikmat Wangsaatmadja.
Penyebab tertinggi kebutaan di Indonesia adalah katarak. Penyebab kebutaan lainnya yaitu infeksi, kelainan refraksi, gangguan retina, dan glaucoma. Pada umumnya kelainan mata terjadi dengan sendirinya. Meskipun ada faktor lain seperti genetik, makanan, dan lainnya. Misalnya katarak. Kini katarak tidak hanya menyerang orang lanjut usia dan orang dewasa, namun juga anak-anak, bahkan bayi juga bisa terserang katarak. Namun katarak masih bisa disembuhkan. Hanya saja pemahaman sebagian besar masyarakat mengenai penyakit katarak ini masih sangat minim.
“Kurang dari tiga meter untuk melihat kurang itu sebetulnya sudah masuk kriteria buta menurut WHO. Jadi bukan hanya yang gelap sama sekali, bukan itu. Tapi yang penglihatannya kurang dari tiga meter itu sudah bisa dikatakan buta.” kata dr. Mayasari Wahyu Kuntorini, SpM, Dokter Spesialis Mata.
Seorang penderita katarak, yang juga seorang buruh tani asal Majalaya, Kabupaten Bandung, Yani mengatakan, sebelumnya ia tidak tahu jika katarak bisa disembuhkan. Namun setelah mendapat penyuluhan dari relawan penyuluh Pusat Mata Nasional, Yani akhirnya menjalani operasi katarak di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung secara gratis.
“Dulu waktu sebelum umur 30-an kenanya (katarak), masih agak muda lah. Pertamanya (mata) yang kanan kena katarak, yang kirinya menyusul, kata Yani.
Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo terus berupaya mendidik warga untuk melakukan tindakan preventif dan memberikan penyadaran mengenai kebutaan. Selain itu, para petugas kesehatan di level yang bersentuhan dengan masyarakat, seperti puskesmas juga harus melakukan penyuluhan. Karena masalah kebutaan sudah masuk ke dalam ranah masalah sosial, sehingga harus dibentuk suatu komisi kebutaan.
Pentukan asosiasi mata ini diikuti oleh delapan rumah sakit mata di Indonesia, yaitu dari Jakarta, Surabaya, Bali, Yogyakarta, Bandung, dan Makassar. Asosiasi ini akan fokus mengatasi kebutaan yang terjadi di Indonesia.

sumber: http://www.voaindonesia.com/content/angka-kebutaan-tinggi-indonesia-bentuk-asosiasi-dr-mata-/2479486.html

6 Kelainan Mata yang Kerap Dialami Anak

SRIPOKU.COM - Tanda-tanda mata bermasalah pada anak sudah bisa dikenali sejak dini. Contohnya bila setiap menonton teve anak harus mendekat karena kurang terlihat, suka melihat dengan kepala miring atau memicingkan mata, atau ketika sudah sekolah, ia tidak bisa duduk di bangku belakang dan sering maju ke depan untuk melihat ke papan tulis.
“Ada anak yang penglihatannya kabur tapi takut memberi tahu orangtua karena orangtua suka mengancam. Akibatnya, anak juga jadi takut ke dokter,” kata dr. Florence M. Manurung, Sp.M, dari Jakarta Eye Center @Kedoya, Jakarta.
Sebagai orangtua, Anda juga perlu mengenali  beberapa kelainan mata yang kerap dialami anak :
1. Retinopathy of Prematurity  (RoP)
RoP adalah kelainan saraf mata karena kelahiran prematur. Bayi yang lahir prematur, pertumbuhan pembuluh darah retinanya belum sempurna. “Bisa terjadi komplikasi berupa perdarahan ke dalam rongga mata atau retina. Yang paling ditakutkan adalah kebutaan. Tapi, tidak semua bayi prematur terkena RoP.”
Untuk mencegah RoP, bisa dilakukan deteksi dini dengan alat-alat khusus. Pada RoP yang sangat berat bisa dilakukan tindakan bedah retina.
2. Kelainan Refraksi  
Kelainan refraksi adalah penurunan ketajaman penglihatan yang dapat dikoreksi dengan kaca mata. Bisa berupa mata minus, mata plus, maupun silindris. Kelainan refraksi bisa terjadi akibat faktor genetis maupun faktor lingkungan. Misalnya anak yang terlalu banyak membaca, menonton TV, bermain game, sehingga bentuk bola mata berubah. Gejala ini, banyak ditemukan pada anak usia Sekolah Dasar, yaitu 6 - 12 tahun.
Tanda-tanda kelainan refraksi mirip dengan mata malas, misalnya setiap kali menonton TV anak harus mendekat, suka melihat dengan kepala miring atau memicingkan mata, atau ketika sudah sekolah, ia tidak bisa duduk di bangku belakang.
3. Mata Malas ( ambliopia )
Sering juga disebut lazy eye , mata malas adalah gangguan mata berupa penurunan tajam penglihatan akibat adanya gangguan perkembangan penglihatan selama masa kanak-kanak. Gangguan ini umumnya mengenai salah satu mata saja, namun kadang-kadang ditemukan juga pada kedua mata. Penyebab mata malas bermacam-macam, mulai dari kelainan refraksi, mata juling, dan lainnya. Namun harus dibedakan antara mata juling dengan mata malas. Mata juling berkaitan dengan posisi yang salah, sementara mata malas lebih karena fungsi yang berkurang.
Untuk mengatasi mata malas, anak harus menggunakan matanya yang malas dengan terapi oklusi (patching ), yaitu menutup mata yang penglihatannya baik atau dengan tetes atropin pada mata yang baik.
Florence menegaskan, “Mata malas bisa disembuhkan dan bukan penyakit mata akibat keturunan. Namun pada anak dengan keluhan ini, sebisa mungkin harus diperbaiki sebelum anak berusia 4 tahun karena di usia itu otak masih fleksibel.”
4. Tumor Mata ( Retinoblastoma )
Sering juga disebut cat’s eye , retinoblastoma adalah penyakit tumor ganas primer pada anak yang tumbuh dengan cepat berasal dari sel retina mata. Penyakit ini tidak hanya dapat mengakibatkan kebutaan, melainkan juga kematian. Bila ditangani dengan tepat pada stadium dini, angka penyembuhan kanker ini dapat mencapai 95 - 98 persen dan penderita dapat mencapai usia dewasa.
Disebut cat’s eye (mata kucing) karena gejala atau tanda yang muncul di antaranya bola mata berwarna putih mengilat, sehingga kerap juga dikira katarak. Tindakan yang dilakukan adalah mengangkat bola mata.
5. Katarak
Ternyata, tak cuma orang dewasa yang bisa terkena katarak. Anak-anak pun bisa. Penyakit katarak terjadi karena kekeruhan lensa mata. Bisa terjadi mulai dari proses dalam kandungan, misalnya karena infeksi atau malnutrisi pada usia kanak-kanak. Katarak pada anak harus segera ditangani agar-anak dapat melihat dengan normal.
6. Glaukoma Kongenital
Disebut juga dengan buftalmos , yang berasal dari kata “buftal ” atau mata sapi. Gejalanya antara lain bola mata membesar. “Orang menganggap anaknya lucu seperti boneka karena matanya yang lebar, padahal bisa jadi itu karena ada kelainan glaukoma kongenital,” kata Florence. Ini terjadi karena aliran cairan mata di dalam tidak lancar dan mampet sehingga bola mata membesar. Jika dibiarkan tanpa tindakan, saraf ke otak bisa rusak akibat tekanan yang tinggi. Keluhan ini akan diatasi dengan operasi membuka saluran.
Selain kelainan-kelainan di atas, ada beberapa gangguan pada mata yang juga kerap menyerang anak antara lain konjungtivitis (mata merah), low vision , dan mata juling (strabismus ).
Hasto Prianggoro
sumber:
http://palembang.tribunnews.com/2014/10/24/6-kelainan-mata-yang-kerap-dialami-anak

Minggu, 07 September 2014

Mengenal Penyakit Katarak

Katarak biasanya tumbuh secara perlahan dan tidak menyebabkan rasa sakit. Pada tahap awal kondisi ini hanya akan mempengaruhi sebagian kecil bagian dari lensa mata anda dan mungkin saja tidak akan mempengaruhi pandangan anda. Saat katarak tumbuh lebih besar maka noda putih akan mulai menutupi lensa mata dan mengganggu masuknya cahaya ke mata.
  1. Pandangan mata yang kabur, suram atau seperti ada bayangan awan atau asap.
  2. Sulit melihat pada malam hari
  3. Sensitif pada cahaya
  4. Terdapat lingkaran cahaya saat memandang sinar
  5. Membutuhkan cahaya terang untuk membaca atau ketika beraktifitas
  6. Sering mengganti kacamata atau lensa kontak karena ketidaknyamanan tersebut
  7. Warna memudar atau cenderung menguning saat melihat
  8. Pandangan ganda jika melihat dengan satu mata
Beberapa faktor menyebabkan terkena katarak antara lain :

  • Usia
  • Diabetes
  • Sejarah keluarga dengan katarak
  • Pernah mengalami cedera atau radang pada mata
  • Pernah mengalami operasi mata
  • Penggunaan corticosteroids dalam jangka waktu lama
  • Terkena sinar matahari secara berlebihan
  • Terkena radiasi ion
  • Merokok

Minggu, 31 Agustus 2014

Enam Cara Alami Atasi Katarak

VIVAlife - Penyakit katarak banyak disebabkan oleh faktor usia, atau turunan genetika. Banyak penderita katarak tidak menyadari, jika mereka mengalami gejala, atau menderita katarak. 
Hal ini biasanya dipicu, karena gejala katarak yang sulit dikenali, namun lalu lama kelamaan penglihatan mata akan terasa mulai kabur. Di sinilah, baru para penderita baru menyadari jika mereka mengidap katarak.
Gejala awal katarak yang banyak disepelekan oleh banyak orang adalah rasa gatal di mata, mata sering berair, dan pada malam hari mata tidak mampu melihat langsung silau cahaya.
Salah satu cara yang banyak diambil dalam pengobatan katarak adalah melalui jalur operasi. Namun, bagi Anda yang takut berkunjung ke ruang bedah, Anda dapat mengobati katarak dengan cara alamiah, seperti dilansir dari laman Style Craze di bawah ini:
Jus wortel
Memliki kandungan vitamin A yang tinggi, wortel memang dikenal sebagai obat ampuh untuk urusan kesehatan mata, tak terkecuali untuk masalah katarak. Anda cukup mengonsumsi satu gelas jus wortel setiap hari dan Anda bisa melihat gejala katarak perlahan berkurang. 
Adas manis
Cara lain untuk mengobati katarak adalah dengan mengkonsumsi Adas manis. Dengan mengonsumsi minimal enam gram adas manis setiap dua hari sekali, Anda akan merasakan adanya perubahan pada mata Anda.
Bawang putih
Mengonsumsi bawang putih mentah akan membantu mengurangi derita katarak. Hal ini, karena bawang putih mengandung bahan antioksidan dan antibiotik yang sangat baik dalam menyembuhkan penyakit. Cukup konsumsi 2-3 siung bawang putih setiap hari untuk mengurangi dan menyembuhkan katarak secara perlahan.
Jus labu kuning
Jus labu bisa juga dijadikan obat katarak. Kandungannya yang kaya akan vitamin A sangat baik untuk mata. Anda mungkin memerlukan blender dan banyak air untuk menjadikan labu benar-benar halus. Caranya yaitu dengan mengkonsumsinya setiap hari secara rutin sebanyak satu gelas.
Meneteskan madu
Menesteskan madu ke dalam mata juga bisa menjadi solusi lainnya. Teknik ini telah digunakan sejak lama oleh masyarakat Mesir Kuno. Madu mengandung antioksidan tinggi serta dapat mencegah terjadinya infeksi.
Bayam
Dengan mengonsumsi bayam, bukan hanya tubuh saja yang ternutrisi, tetapi juga mata. Ini karena bayam banyak mengandung karotenoid ,sehingga dapat membantu penyembuhan penyakit katarak. Cukup dua porsi per hari akan membantu penyembuhan penyakit. (asp)

Jumat, 29 Agustus 2014

Katarak Sulit Dideteksi Sebelum Usia 50

MATA mengalami kekeruhan adalah salah satu tanda dari penyakit katarak. Biasanya, penyakit katarak ditemukan ketika memasuki usia 50 tahun. Tetapi, bagaimana bila dilakukan deteksi dini?
Dr. Ucok P. Pasaribu, SpM, Opthalmologist Jakarta Eye Center @ Kedoya mengungkapkan bahwa penyakit katarak sulit ditemukan sebelum usia 50 tahun, meskipun melakukan deteksi dini. Namun, menurut Dr Ucok, pastinya rata-rata penyakit katarak mulai ditemukan pada usia 50 tahun ke atas.

"Pastinya rata-rata orang-orang yang berada di usia di atas 50 tahun sudah mulai terkena katarak," kata Dr Ucok pada konferensi pers "Akreditasi Internasional JEC @ Kedoya dari Joint Commission International (JCI)” di JEC Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu (9/8/2014).

Dr Ucok menjelaskan bahwa biasanya ketika memasuki usia 50 tahun ke atas, kekeruhan pada lensa mata mulai ditemukan. Namun sayang, biasanya penyakit katarak tidak disertai gejala, sehingga seseorang masih bisa beraktivitas. Lalu, bagaimana bila dideteksi sejak dini?

"Kekeruhan pada lensa mata biasanya terjadi di atas usia 50 tahun walaupun tanpa gejala. Tetapi kalau diperiksa oleh dokter mata, pasti sudah mulai terlihat. Paling tidak, dia sudah aware jika deteksi dini yang membuat mereka periksa matanya 1 tahun sekali," jelasnya.

Menurut Dr Ucok, dengan melakukan deteksi dini, berarti seseorang harus memeriksa kesehatan matanya secara berkala. Lalu, apa manfaat mendeteksi dini gangguan pada mata?

"Kalau deteksi dini itu kita harus periksa secara berkala. Kalau sudah terganggu, menjadi diketahui bila mata ada gangguan," tutupnya.
(tty)
sumber : http://health.okezone.com/read/2014/08/09/482/1022247/katarak-sulit-dideteksi-sebelum-usia-50

Minggu, 24 Agustus 2014

Baksos Kemenpora di Sulteng

Parigi Moutong, GATRAnews – Hari Sabtu (09/8) pagi, Menpora Roy Suryo didampingi Istrinya Ismarindayani Priyanti bersama jajaran pejabat eselon I dan II Kemenpora beserta Wakil Gubernur Sulteng H. Sudarto, Bupati Parigi Moutong Samsurizal Tombolotutu melakukan jalan sehat dan senam pagi bersama masyarakat Parimo di alun-alun lapangan Tinombo.

Usai makan pagi di Kediaman Raja Tonombo Menpora Roy Suryo bersama rombongan melanjutkan kegiatan Pembukaan Bakti Sosial Kesehatan Operasi Katarak, Pemeriksaan IVA dan Penanganan Cryo Kangker Leher Rahim serta Donor Darah di RSU Tinombo Pimpinan dr. Sudarmi sebagai bagian dari Kegiatan Lintas Khatulistiwa Pemuda tahun 2014 di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah.

Penelitian World Health Organitation (WHO) menurut Menpora Roy Suryo menyebutkan bahwa katarak adalah salah satu penyebab kebutaan sebesar 48%. "Di Amerika Serikat usia diatas 45 tahun yang terserang katarak lebih dari 45% diatas 50 tahun lebih dari 65% dan diatas 70 tahun bisa mencapai 90%, katarak penting untuk ditanggulangi dan dihilangkan sedini mungkin, agar tidak mengganggu produktivitas," harap Roy Suryo. Kegiatan ini adalah bagian dari program Lintas Khatulistiwa Pemuda 2014, menurut Menpora program ini adalah untuk mengedepankan kembali rasa patriotisme dan nasionalisme khususnya dikalangan pemuda di Parigi Moutong.

Setelah membuka kegiatan bakti sosial dan berdonor darah di RSU Tinombo Menpora Roy Suryo bersama rombongan melanjutkan kegiatan Peresmian Dermaga Tinombo dengan Pemecahan Rekor MURI Menyelam Tanpa Alat Bantu. Kepala Otoritas Pelabuhan Utama Makasar I Nyoman Gede Saputra mewakili Dirjen Perhubungan Laut mengatakan, pembangunan pelabuhan berasal dari APBN dengan panjang 70 meter dan lebar 8 meter. "Pembangunan pelabuhan diharapkan menumbuhkan pembangunan ekonomi khususnya di wilayah Tinombo," katanya.

Menurut Menpora, untuk Pemecahan Rekor Dunia - Indonesia Nomor Rekor 6575/R.MURI/VIII/2014 yakni menyelam dengan peserta terbanyak tanpa alat bantu sejumlah 525 peserta di Dermaga Tinombo, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah ini. Tidak jauh dari Dermaga yang telah diresmikan Menpora Roy Suryo berjalan kaki bersama rombongan menuju Gedung Olahraga Bulutangkis Kecamatan Tinombo untuk peresmian GOR Bulutangkis dan serta Membuka Turnamen Bulutangkis Menpora Cup 2014. "Kita patut bersyukur telah didirikan Gedung Olahraga Bulutangkis hasil swadaya masyarakat di Kecamatan Tinombo Kabupaten Parigi Mountong ini. Bulutangkis adalah olahraga andalan Indonesia dan Indonesia di kenal ke seluruh dunia karena prestasi bulutangkisnya," kata Roy Suryo.

Jumat, 22 Agustus 2014

126 Penderita Katarak Jalani Operasi Mata

indosiar.com, Parigi Moutong - (Selasa : 12/08/2014) Program Peduli Kasih Indosiar, terus melakukan upaya pemberantasan penyakit katarak di tanah air. Bekerjasama Perhimpunan Dokter Mata Indonesia, Klinik Kana dan pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, 126 penderita katarak berhasil dioperasi.
Operasi katarak di Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah ini, berlangsung dua hari, dan telah berakhir 9 Agustus tiga hari lalu, dan melibatkan 13 dokter ahli mata, dari fakultas kedokteran Universitas Indonesia.
I Wayan Mahesa, salah satu dari pasien katarak yang dioperasi. Pria berusia 21 tahun ini mengalami kelumpuhan dan dan menderita katarak sejak kecil. Selain Wayan Mahesa, masih ada 125 penderita katarak lain yang menjalani operasi yang didanai dari bantuan pemirsa Indosiar ini.
Seperti diketahui, penyakit katarak, yang disebabkan penuaan selaput mata dan sinar ultra volet matahari ini, pencegahannya hanya bisa dilakukan dengan
mengurangi beraktifitas di bawah terik matahari. Sedangkan penyembuhannya, hanya dengan melalui operasi. (Tim Liputan/Sup)

SALUTE

sumber :http://www.indosiar.com/fokus/126-penderita-katarak-jalani-operasi-mata_119594.html

Rabu, 20 Agustus 2014

Jagalah Kesehatan Matamu dengan Sayur dan Buah

1. Jus wortel
Sudah banyak yang tahu bahwa sayur oranye yang satu ini kaya akan vitamin A sehingga sangat baik mengobati mata, tidak terkecuali dengan penyakit katarak. Anda cukup mengonsumsi satu gelas jus wortel setiap hari dan buktikan bahwa katarak Anda semakin membaik.

2. Bawang putih
Makan bawang putih mentah-mentah akan membantu mengurangi derita katarak. Hal ini karena bawang putih mengandung bahan antioksidan, antibiotik dan sangat baik dalam menyembuhkan penyakit. Cukup makan 2-3 siung bawang putih setiap hari untuk mengurangi dan menyembuhkan katarak secara perlahan.

3. Jus labu
Jus labu bisa juga dijadikan obat katarak. Kandungannya yang kaya akan vitamin A sangat baik untuk mata. Anda mungkin memerlukan blender dan banyak air untuk menjadikan labu benar-benar halus. Minum setiap satu hari sekali Ladies.

4. Makan bayam
Bukan hanya tubuh saja yang ternutrisi, bayam juga sangat baik untuk mata. Ini karena bayam banyak mengandung karotenoid sehingga dapat membantu penyembuhan penyakit katarak. Anda bisa merebus sebentar dan makan seperti biasa. Cukup dua porsi per hari akan membantu penyembuhan penyakit.

Selasa, 19 Agustus 2014

Peringati HUT Kemerdekaan RI Pemkot Gelar Operasi Katarak Gratis

SRIPOKU.COM, PAGARALAM -- Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-69, Pemerintah Kota (Pemkot) Pagaralam menggelar sejumlah kegiatan termasuk kegiatan bakti sosial. Sebanyak 75 masyarakat miskin mendapatkan layanan operasi katarak gratis hasil kerja sama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pagaralam, RSUD Besemah dan RS Khusus Mata Provinsi Sumsel.
Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Kesehatan (Yankes) RSUD Besemah, Khas Monalisa mengatakan, saat ini sudah ada 75 masyarakat yang mendaftar untuk mendapatkan pelayanan operasi katarak gratis. Operasi katarak diperuntukan bagi masyarakat kurang mampu.
"Sudah ada sekitar 75 penderita Katarak yang mendaftar untuk dioeprasi gratis. Dari jumlah tersebut akan kita data sebelum nantinya operasi dilakukan," ujarnya, kepada Sripoku.com, Selasa (12/8/2014).
Untuk operasi katarak dilakukan tim dari Rumah Sakit Khusus Mata Provinsi Sumsel. Untuk menangani seluruh pasien katarak, diterjunkan tiga tim medis yang setiap tim terdiri dari satu orang dokter.
"Ada tiga tim yang diturunkan Rumah Sakit Khusus Mata Provinsi Sumsel. Diharapkan, dalam waktu yang ada ini seluruh pendaftar bisa mendapatkan pelayanan ini," jelasnya.
Sebelum melakukan operasi, agar memenuhi prosedur pihaknya terlebih dahulu melakukan pemeriksaan kesehatan, persetujuan warga dan syarat-syarat lainnya. Dengan begitu, pelayanan kesehatan gratis ini bisa dimanfaatkan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.

Sumber ;
http://palembang.tribunnews.com/2014/08/12/peringati-hut-kemerdekaan-ri-pemkot-gelar-operasi-katarak-gratis

Punya Hipertensi & Diabetes, Urungkan Dulu Niat Operasi Katarak

KATARAK identik dialami oleh para lanjut usia (lansia) dimana fungsi mata tak lagi sempurna. Katarak adalah lensa mata yang menjadi keruh sehingga cahaya tidak dapat menembusnya, bervariasi sesuai tingkatannya dari sedikit sampai keburaman total.

Dalam perkembangannya, katarak yang terkait usia penderita dapat menyebabkan pengerasan lensa. Ini menyebabkan penderitanya mengalami miopi, berwarna kuning menjadi coklat/putih secara bertahap dan keburaman lensa dapat mengurangi persepsi akan warna biru.

Karenanya, puluhan lansia di Depok, Jawa Barat, terlihat ikut serta mengikuti kegiatan bakti sosial yang digelar Kodim 05/08 Depok beserta Kodam Jaya. Karena nyaris tak bisa melihat lagi, mereka pun harus digendong mendaftar pengobatan dan operasi katarak. Salah satunya Nurani (69) warga Limo, Depok, yang menunggu giliran untuk dioperasi. (Baca: 2030, Jumlah Penderita Diabetes Dunia Diperkirakan Capai 552 Juta)

"Saya sudah enggak bisa baca tulisan kalau kecil-kecil walaupun dekat, apalagi jauh. Sudah enam bulanan ini dua-duanya begitu," katanya di lokasi kegiatan bakti sosial, Sabtu (21/6/2014).

Namun, sejumlah pasien terpaksa batal mengikuti operasi sebab saat diukur, tensi darahnya cukup tinggi dan mempunyai masalah penyakit gula atau diabetes. Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail yang menghadiri acara tersebut menjelaskan bahwa para pasien katarak memang tidak diperbolehkan operasi jika mengalami penyakit degeneratif, seperti darah tinggi dan diabetes.

"Perlu diketahui, Kodim 05/08 senantiasa bekerja harmonis, kompak, dan kuat melakukan kegiatan yang terkait aksi bakti sosial, karya bakti bersama sinergi dengan pemerintah. Untuk pasien katarak tentu harus diseleksi, tekanan darah tinggi, sudah terlalu diabet, maka dokter pasti tidak berani, berisiko, sebab proses luka tak cepat sembuh," ungkap Nur Mahmudi.

Ia mengklaim bahwa sebagai Kota Ramah Lansia, Depok juga berupaya memfasilitasi pasien katarak dengan Dinas Kesehatan. Katarak umumnya diderita lanjut usia sehingga harus diberikan semangat memotivasi sebagai Kota Ramah Lansia dengan menjaring pasien di Posbindu dan Puskesmas. (Baca: Deteksi Dini Sejak Awal Cegah Diabetes)

"Ada 111 pasien hari ini yang menjalani operasi katarak, dari 265 yang diseleksi, yang layak 111 warga," jelasnya.

Pangdam Jaya Mayjen TNI Mulyono mengatakan, program pembangunan juga harus menyentuh aspek kehidupan masyarakat. Masih ada kelompok masyarakat tertentu dengan penghasilan cukup rendah, yang membutuhkan perhatian dan pelayanan sosial, salah satunya kesehatan. (Baca: Ini Fakta Diabetes yang Perlu Anda Tahu)

"Tak sedikit menunda kesehatan dirinya, karena keterbatasan biaya. Donor darah 375 pasien, khitanan 174 pasien, pengobatan katarak 111 pasien, pengobatan umum 665 pasien, dan santunan yatim 100 orang," tutupnya. (ftr)

sumber: http://health.okezone.com/read/2014/06/21/482/1002191/punya-hipertensi-diabetes-urungkan-dulu-niat-operasi-katarak

 

Minggu, 17 Agustus 2014

Katarak Tak Hanya Mengintai Lansia

KOMPAS.com - Setahun lalu, Badrudin (35) terkejut ketika ia memeriksakan mata ke dokter. Dalam usia tergolong produktif, ia telah dinyatakan menderita katarak. Selama ini penyakit yang membuat lensa mata keruh dan bisa mengakibatkan kehilangan penglihatan itu rata-rata terjadi pada orang yang telah berusia 60 tahun ke atas.

Dokter pun heran dan mengira saya pernah kecelakaan pada mata atau operasi mata. Saya jawab tak pernah. Lalu, dokter bertanya, apakah saya punya diabetes. Lagi-lagi saya jawab tidak,” kata Badrudin.

Badrudin lalu diminta memeriksa kadar gula dalam darah. Hasilnya, kadar gula darah Badrudin mencapai 280 miligram per desiliter (mg/dl), padahal kadar normal dalam kondisi puasa kurang dari 100 mg/dl. Karyawan distributor lensa kacamata itu dinyatakan menderita diabetes.

Menurut Direktur Utama Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center (JEC) Kedoya dokter Darwan M Purba, Sabtu (9/8), di Jakarta, katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi buram. Karena cahaya sulit menembus lensa dan mencapai retina, bayangan yang ditangkap retina menjadi kabur.

Gejala umum katarak adalah lensa mata memburam mirip kaca susu dan penderita seperti terganggu kabut ketika melihat obyek. Penderita juga lebih peka terhadap cahaya, membutuhkan cahaya terang untuk bisa membaca, dan penglihatan pada satu mata kadang jadi dua (ganda).

Kasus katarak kebanyakan akibat proses degeneratif (kemunduran), seiring usia yang kian lanjut. Gangguan mata itu umumnya menyerang orang berusia 60 tahun ke atas sehingga dianggap sebagai proses alami yang tak bisa dihindari.

Diabetes

Selain usia, ada beberapa faktor yang mempercepat timbulnya katarak, antara lain pemakaian steroid, dampak operasi mata, dan kecelakaan pada mata. Adapun diabetes merupakan faktor risiko paling umum yang mempercepat katarak. ”Dari pengamatan kami, penderita diabetes lebih cepat mengalami katarak dibandingkan yang tak punya diabetes,” kata Purba.

Selain itu, paparan sinar ultraviolet meningkatkan risiko terkena katarak, terutama jika mata tanpa pelindung terpapar sinar matahari cukup lama. Karena itu, nelayan adalah pekerjaan berisiko tinggi kena katarak. ”Nelayan terpapar sinar matahari dari pagi hingga sore saat melaut. Akibatnya, banyak nelayan katarak pada usia 35 tahun,” ujarnya.

Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi katarak semua umur 1,8 persen. Terkait usia, Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) pada 2013 mencatat, prevalensi kebutaan akibat katarak kian tinggi pada kelompok usia lebih tua. Pada kelompok usia 45-59 tahun, prevalensi kebutaan akibat katarak 20 kasus per 1.000 orang. Adapun pada kelompok usia lebih dari 60 tahun 50 kasus per 1.000 orang.

Beragam teknologi

Sejauh ini, operasi mata merupakan satu-satunya jalan untuk sembuh dari katarak. Selama ini, operasi katarak terbukti hanya memiliki risiko komplikasi 1 persen meski dengan bedah pisau. Namun, jika takut dengan pisau bedah, penderita kini punya pilihan untuk menghindarinya dengan teknologi laser.

Teknologi operasi katarak terus berkembang. Teknologi pertama adalah operasi katarak manual, terdiri dari bedah ekstraksi katarak intrakapsul (ICCE) dan bedah ekstraksi katarak ekstrakapsul (ECCE). Pada ICCE, dokter mengeluarkan lensa mata pasien tanpa memberi lensa tanam untuk pengganti sehingga pasien terbantu melihat dengan memakai kacamata.

Dengan metode ECCE, lensa tanam dimasukkan ke kapsul mata guna mengganti lensa yang katarak. Pada kedua metode itu, sayatan kornea dibuat sekitar 1 sentimeter, menyesuaikan dengan ukuran lensa, dan perlu beberapa jahitan.
Minimal invasif

Kemudian, muncul teknologi fakoemulsifikasi. Dokter spesialis mata subspesialis katarak, lasik, dan kornea JEC Kedoya, Ucok P Pasaribu, Selasa (12/8), mengatakan, fakoemulsifikasi tetap memakai pisau untuk menyayat kornea. Bedanya, sayatan jauh lebih kecil dibandingkan operasi manual, yakni 1,8-2 milimeter.

”Sayatan lebih kecil karena lensa mata tak dikeluarkan utuh. Lensa yang katarak dihancurkan lebih dulu dengan jarum tip yang terhubung ke mesin fakoemulsifikasi,” kata Ucok. Mesin itu memakai tenaga ultrasonik dengan frekuensi tinggi. Dengan teknologi itu, risiko infeksi akibat sayatan besar bisa diminimalkan, luka sayatan tak perlu dijahit.

Kini, bedah katarak bisa dibuat tanpa pisau, yakni operasi katarak dengan laser tanpa pisau bedah (bladeless laser cataract surgery). Menurut Ucok, laser untuk menyayat kornea itu berbasis teknologi Femtosecond (diaplikasikan dalam hitungan sepersejuta miliar detik).

Selain untuk menyayat, sinar laser untuk memotong lensa sebelum dihancurkan mesin fakoemulsifikasi. ”Metode ini jauh lebih aman karena dibantu sistem komputerisasi sehingga sayatan lebih presisi sesuai yang diprogramkan di komputer. Risiko infeksi pun amat kecil,” katanya.

Dengan metode tanpa pisau, dokter membuat program rencana sayatan di komputer. Dengan bantuan laser, pinggir kornea disayat selebar lebih kurang 2 mm dan memotong kapsul lensa mata (kapsulotomi). Lalu, lensa mata keruh dipotong dengan laser. Lensa yang terpotong dihancurkan dengan jarum tip yang terhubung ke mesin fakoemulsifikasi.

Hadirnya sejumlah teknologi bedah memberikan pilihan bagi pasien katarak. Apalagi kini usia penderita kian muda. (A03)
sumber: http://health.kompas.com/read/2014/08/13/162038923/Katarak.Tak.Hanya.Mengintai.Lansia.
 

Kamis, 14 Agustus 2014

Data Penderita Katarak

MUSI RAWAS - Dinas Kesehatan (Dinkes) Mura tahun ini tengah melakukan penjaringan terhadap masyarakat penderita penyakit katarak di sejumlah wilayah. Kegiatan tersebut merupakan program Pemprov Sumsel dalam upaya mengentaskan atau bebas penyakit katarak.

Kepala Dinkes Mura, Tjahyo Kuntjoro melalui Kasi Pelayanan Dasar dan Rujukan, Renaldi Oktavianus menjelaskan kegiatan tersebut sudah berjalan sejak lima tahun terakhir. Bahkan untuk penderita katarak yang telah ditangani atau dioperasi sejak 2011 hingga 2013 jumlahnya sudah mencapai 400 orang. 

"Sudah 400 penderita katarak yang kita operasi. Rata-rata mereka yang ditangani usianya sudah lanjut yakni 50 ke atas. Adapula usia produktif 20-40 tahun," kata Renaldi, Kamis (3/7).

Menurutnya, untuk tahun ini pihaknya akan terus melanjutkan program operasi katarak. Dimana sejak Januari yang ditargetkan hingga Desember, pihaknya tengah melakukan penjaringan berkoordinasi dengan petugas Puskesmas. Dan kapan pelaksanaan dilakukan, pihaknya belum mengetahui waktunya.

"Untuk sekarang kita belum ada rekap. Dan untuk kegiatannya, kita tunggu jadwalnya, tapi penjaringan sudah kita lakukan sejak Januari kemarin hingga dengan Desember," jelasnya. (wek)

sumber : http://sumeks.co.id/gelora/sfc/agnd/18025-data-penderita-katarak

Rabu, 06 Agustus 2014

Menkes: Setiap Tahun Diperlukan Operasi Katarak Bagi 240 Ribu Pasien

Jakarta - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan kasus katarak di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan peningkatan umur harapan hidup masyarakat sehingga jumlah lanjut usia dan risiko penyakit degeneratif juga meningkat, termasuk katarak.

"Diperkirakan setiap tahun diperlukan operasi katarak terhadap 240 ribu orang," kata Nafsiah dalam sambutan Bakti Sosial di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (20/6/2014).

Saat ini, lanjutnya, pelayanan operasi katarak yang ada di Indonesia mampu menjangkau sekitar 170 ribu orang. Dikaitkan dengan kebutuhan untuk operasi katarak bagi 240 ribu orang, ada kesenjangan hingga 70 ribu orang.

Kesenjangan ini, katanya, disebabkan luasnya wilayah dan kondisi geografis Indonesia dan masih terbatasnya pemahaman sebagian penduduk Indonesia bahwa ada kebutaan yang dapat diobati.

"Masalah kesehatan mata lain yang masih menjadi tantangan adalah kelaianan refraksi atau penurunan ketajaman penglihatan," sambungnya.

Kelainan refraksi ini dapat ditemukan pada semua kelompok usia. Pada usia anak sekolah, kelainan refraksi sangat mempengaruhi kemampuan mereka untuk membaca dan menyerap materi pelajatan.

"Kelainan refraksi ini dapat diatasi dengan memberikan kacamata koreksi sehingga fungsi penglihatan kembali normal," Sementara bibir sumbing merupakan salah satu jenis cacat bawaan. Nafsiah mengatakan, presentase kasus bibir sumbing pada balita berusia 2-5 tahun menurut hasil Riskesdas 2013 adalah 0,08 persen.

"Operasi bibir bagi balita yang mengalami cacat bawaan ini tentu akan sangat membantu mereka untuk dapat berbicara dengan baik dan memperbaiki struktur wajah atau kecantikan atau kegantengannya begitulah," paparnya.

Guna mengatasi masalah katarak, kelainan refraksi dan bibir sumbing ini, pemerintah meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu, termasuk pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Oleh karena itu, kegiatan bakti sosial yang dilakukan Polda Metro Jaya dengan melakukan operasi katarak, bibir sumbing dan pemberian kacamata minus ini tentu sangat membantu masyarakat dan ini kita apresiasi sekali," pungkasnya.

Jumat, 01 Agustus 2014

7 Penyebab teratas munculnya penyakit katarak

Merdeka.com - Mata merupakan jendela Anda dalam melihat dunia. Walaupun begitu, terkadang Anda tidak pernah menyadari pentingnya funsgi mata hingga Anda mengalami gangguan kesehatan mata.

Ada banyak masalah yang mampu mempengaruhi kualitas penglihatan Anda. salah satu masalah yang paling umum adalah katarak. katarak terjadi ketika protein yang ada di dalam mata Anda menghalangi pandangan Anda. Bahkan katarak dapat menjadi salah satu penyebab umum kebutaan.

Berikut adalah penyebab teratas munculnya katarak seperti dilansir dari boldsky.com.

Usia
Usia adalah salah satu penyebab utama munculnya katarak. Protein lensa Anda akan semakin menurun ketika usia Anda bertambah. Selain faktor tersebut, faktor lingkungan juga dapat menyebabkan katarak.

Trauma
Trauma akan mengakibatkan pembengkakan, penebalan, dan munculnya warna putih di serat lensa. Warna putih yang terbentuk pada akhirnya dapat menyebabkan katarak.

Genetika
Genetika juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kataraka. Sebab kelainan kromosom mampu mempengaruhi kualitas lensa mata Anda.

Penyakit kulit
Beberapa penyakit kulit tertentu mampu mempengaruhi kesehatan lensa mata Anda sepertii dermatitis atopik, ichthyosis, pemfigus, dan eksim.

Infeksi
Jenis infeksi tertentu seperti kusta, toksoplasmosis, dan cysticercosis dapat memicu timbulnya katarak. Oleh karena itu apabila Anda mengalaminya, sebaiknya segera obati penyakit tersebut sebelum infeksi penyakit ini menyebar.

Diabetes
Diabetes kerap kali dituding menjadi penyakit yang dapat menyebabkan katarak. Sebab enzim aldosa reduktase yang ada di dalam tubuh penderita diabetes mampu memicu timbulnya penyakit katarak.

Penggunaan obat tertentu
Ada beberapa jenis obat tertentu yang mampu mempengaruhi penglihatan mata Anda. Obat-obatan seperti kortikosteroid terbukti mampu menyebabkan timbulnya katarak.

Itulah beberapa penyebab munculnya penyakit katarak. Mengetahui penyebab munculnya penyakit ini dapat menjadi cara untuk mencegah penyakit katarak sebelum bertambah parah.

sumber :  http://www.merdeka.com/sehat/7-penyebab-teratas-munculnya-penyakit-katarak.html

Rabu, 30 Juli 2014

Bisa Bikin Bayi Cacat, Ibu Hamil Dilarang Dekat-dekat Pasien Campak Jerman

Jakarta, Sama halnya dengan tokso, rubella juga merupakan bagian dari infeksi TORCH yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil. Bagaimana tidak, risiko kecacatan bagi bayi yang ibunya terkena virus rubella bisa dikatakan mengkhawatirkan.

Menurut Prof dr Sunartini Hapsara, Sp.A (K), Ph.D., rubella atau biasa disebut dengan campak jerman ini cukup dikenal di masyarakat karena dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi, terutama katarak, tuli dan kelainan jantung.

"Bahkan gejala ini sudah bisa dilihat persis setelah si bayi lahir. Bila ada katarak, entah pada salah satu mata atau keduanya; kelainan jantung atau mikrosepali (ukuran kepala yang lebih kecil dari bayi normal), itu berarti si anak tertular virus rubella dari ibunya," tegasnya dalam Seminar Sehari 'Yuk Kenali Ciri-ciri Gangguan TORCH pada Anak' di RS Akademik UGM Yogyakarta dan ditulis Selasa (1/4/2014). Seminar ini terselenggara berkat kerja sama RS Akademik UGM dengan komunitas Rumah Ramah Rubella.

Dan kemampuan virus rubella ini ternyata juga tergolong istimewa karena dapat menembus barrier plasenta (yang seharusnya tak dapat sembarang ditembus oleh virus atau bakteri tertentu) sehingga langsung bisa mempengaruhi janin.

"Apalagi bila terinfeksinya di minggu-minggu awal kehamilan, kelainan yang disebabkan bisa mayor atau besar. Kalaupun baru terinfeksi di minggu-minggu terakhir, janin tetap utuh namun fungsi organ si bayi akan berkurang seperti jantung bocor atau tak bisa mendengar," imbuh Prof Sunartini.

Tercatat 85-90 persen kasus rubella kongenital (bawaan lahir) terjadi pada bayi yang tertular virus campak jerman pada trimester pertama kehamilan. Namun untuk kelainan bawaan akibat rubella, Prof Sunartini menuturkan keempat infeksi TORCH memiliki kelainan bawaan yang hampir sama, yaitu katarak, gangguan pendengaran, kelainan jantung dan mikrosefali. "Kadang bayi lahir tanpa gejala atau asimtomatik, baru belakangan gejala muncul," sambungnya.

Tak ingin ini terjadi, lakukan tes TORCH sebelum menikah. Di samping itu pemberian vaksin MMR (campak, rubella dan mumps), terutama bila sudah memasuki usia subur misal selepas SMA atau paling lambat tiga bulan sebelum hamil.

"Ibu hamil sangat disarankan menghindari kontak dengan anak atau ibu yang menderita campak jerman karena dapat menular. Kalau di luar negeri gitu orang yang menderita rubella akan membatasi kontaknya dengan ibu hamil, kalau di sini jarang ada yang mau mengaku," keluh Prof Sunartini.

(lil/vit)
sumber
http://health.detik.com/read/2014/04/01/200335/2542561/1299/bisa-bikin-bayi-cacat-ibu-hamil-dilarang-dekat-dekat-pasien-campak-jerman?991104topnews

Senin, 30 Juni 2014

Sering Terpapar Matahari, Nelayan Rawan Derita Katarak

[BATAM] Nelayan di Provinsi Kepulauan Riau rawan terkena derita katarak, karena frekuensi terpapar sinar matahari yang tinggi, kata Manajemen Seksi Penanggulangan Buta Katarak Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia Riko Yuniandri di Batam, Sabtu.

"Paparan sinar matahari yang tinggi merupakan salah satu pemicu katarak," kata Riko Yuniandri disela-sela operasi katarak mata gratis di Batam, Sabtu.

Katarak merupakan penyakit yang sulit dihindari, karena merupakan proses penuaan tubuh. Namun, untuk meminimalkan atau memperlambat prosesnya, maka masyarakat harus menghindari paparan matahari langsung.

Ia mengatakan Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita katarak tertinggi kedua di ASEAN. Jumlah penderitanya mencapai 1,5 persen total pnduduk, atau sekitar 2 juta jiwa.

Seksi Penanggulangan Buta Katarak Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (SPBK Perdami) menghitung, setiap tahun jumlah warga yang terancam kebutaan akibat katarak bertambah 240.000 jiwa.

"Dan sebagian besar penderita katarak adalah berada di daerah miskin dengan konsidi sosial yang lemah sehingga tidak memungkinkan penderitanya melakukan operasi," kata dia.

Di tempat yang sama, Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani mengatakan sekitar tiga persen penduduknya menderita katarak, dan sebagian besarnya adalah nelayan.

"Paling banyak yang menderita katarak adalah nelayan, karena mereka sering terkena sinar matahari," kata Gubernur. [Ant/N-6]

SUMBER :
http://www.suarapembaruan.com/home/sering-terpapar-matahari-nelayan-rawan-derita-katarak/56124

Jumat, 27 Juni 2014

70 Persen Kebutaan karena Katarak

Mataram (ANTARA News) - Hasil survei The Fred Hollows Fondation (FHF), menyebutkan kebutaan karena katarak yang diderita masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 70 persen.

"Itu hasil survei FHF yang disampaikan Pak Iskandar, Manager Program FHF untuk Indonesia," kata Wakil Gubernur NTB H Muh Amin, di Mataram, Rabu.

Pada Selasa (3/6), Iskandar dan Kordinator Program NTB Dedy Haryadi, mendampingi Koordinator Program FHF untuk Asia Tenggara Barnaby Coddy, menemui Wakil Gubernur NTB, guna menyampaikan program pencegahan dan pengobatan penyakit mata bagi penderita katarak dan gloukoma di NTB.  FHF merupakan yayasan yang dibentuk dari kerja sama Pemerintah Australia dengan Indonesia.

Pada kesempatan itu Iskandar mengungkapkan hasil survei, pengobatan dan sosialisasi kepada masyarakat NTB terkait penyakit mata seperti katarak dan glaukoma.

Kegiatan survei itu dilakukan sejak April--Mei 2014, di beberapa kabupaten/kota di wilayah NTB, sebagai lokasi pelaksanaan program pencegahan dan pengobatan penyakit mata bagi penderita katarak dan gloukoma. NTB merupakan lokasi ketiga, setelah sebelumnya dilaksanakan di Sulawesi dan Jawa Barat, dan telah disepakati untuk dilanjutkan pada tahun anggaran 2015.

Dari hasil survei dan pelaksanaan kegiatan itu, diketahui 4,5 persen masyarakat NTB mengalami kebutaan dan setiap tahunnya jumlah itu bertambah, sedangkan kebutaan karena katarak mencapai 70 persen.

"Hasil survei FHF itu cukup mengejutkan, dan tentu harus disikapi secara baik dan terarah," ujar Amin.

Pihak FHF juga mengungkapkan temuan adanya banyak masyarakat yang tidak menyadari betapa pentingnya memeriksa mata terutama bagi penderita katarak yang takut berobat karena biaya tinggi.

Untuk itu, FHF berharap adanya kesadaran masyarakat yang menderita katarak agar mau menjalani operasi, dan hal itu perlu didukung berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.

"Tentu pemerintah daerah perlu mendorong semua pihak terkait untuk membantu penderita katarak agar mau melakukan operasi dan pengobatan lebih lanjut," ujar Amin. (*)

Selasa, 24 Juni 2014

Katarak Juga Bisa Dialami Anak

KOMPAS.com – Katarak, timbulnya selaput keruh pada lensa mata yang ditandai dengan gejala pandangan kabur, acap terjadi pada orang yang sudah berumur. Tapi jangan salah, katarak bisa terjadi pada anak-anak, bahkan di dalam kandungan, dari ibu yang terkena virus.

Apa sebenarnya katarak? Katarak adalah gangguan pada indera penglihatan yang ditandai dengan keausan pada lensa mata. Lensa menjadi berselaput (keruh). Akibatnya, cahaya yang masuk ke dalam mata sulit mencapai retina sehingga terpencar dan pandangan menjadi kabur.

Pada tahap awal, karena tidak menimbulkan rasa sakit, seseorang seringkali tidak menyadari dirinya menderita katarak. Tapi, katarak  yang dibiarkan terus berkembang hingga bertahun-tahun membuat lensa mata menjadi semakin keruh.  Biasanya menimpa kedua mata meskipun tidak langsung sekaligus.

Apa saja gejala yang diderita? Penglihatan kabur seperti ada kabut yang mengalangi, penglihatan terganggu di saat gelap atau terang sekali, mata terlalu peka terhadap cahaya, lensa mata berubah menjadi buram, saat membaca perlu cahaya yang lebih terang, dan pandangan menjadi ganda.

Sebenarnya apa yang menjadi penyebabnya? Pertambahan usia, biasanya terjadi pada usia 60 tahun ke atas. Katarak juga bisa terjadi pada anak-anak, bahkan bayi yang ketika masih di dalam kandungan, ibunya terinfeksi virus. Mata sering terkena paparan sinar matahari tanpa perlindungan, trauma pada mata yang mengenai lensa, faktor genetik (turunan), gangguan metabolisme tubuh seperti diabetes, dan penggunaan obat-obatan seperti kortikosteroid dalam jangka panjang.

Ini, yang bisa kita lakukan untuk menangani katarak. Melakukan pemeriksaan mata secara teratur, banyak mengonsumsi sayuran dan buah yang kaya vitamin A, C, dan E. Mengatur pencahayaan lampu untuk memperjelas penglihatan, dan kalau terasa mengganggu, hindari mengemudi pada malam hari.

Segera hubungi dokter bila mendapati gejala-gejala seperti tadi, dan dokter akan melakukan hal-hal berikut ini. Memeriksa kondisi mata dengan biomikroskop yang diletakkan langsung di depan mata kita, katarak taraf awal akan diobati dengan obat tetes yang sifatnya tidak menyembuhkan tetapi memperlambat proses perkembangannya.

Bila katarak sudah mengganggu, dilakukan pembedahan. Dalam tindakan ini, lensa yang keruh diangkat lalu sebagai pengganti ditanamkan lensa intraokuler. Lamanya pembedahan biasanya tidak sampai satu jam. Setelah operasi, penglihatan berangsur-angsur akan semakin tajam. Tapi, pascaoperasi penderita perlu menjaga matanya agar tidak terkena infeksi.

Katarak yang dibiarkan tanpa perawatan bisa menyebabkan komplikasi seperti glaukoma atau uveitis yang berakibat kebutaan. (Intisari Extra)

Sumber :
Editor :
Lusia Kus Anna

http://health.kompas.com/read/2014/06/10/1448083/Katarak.Juga.Bisa.Dialami.Anak?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Minggu, 22 Juni 2014

Tiap Tahun 240 Ribu Warga Indonesia Katarak

Padangsidimpuan,  Sebanyak 0,76 persen penduduk Indonesia mengalami kebutaan dan lebih dari 60 persen disebabkan katarak.
“Bila jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 250 juta maka lebih dari 2 juta orang penderita katarak dan setiap tahun terjadi penambahan lebih 240 ribu, ” ujar Deputi Admin Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Abidinsyah Siregar pada kegiatan operasi katarak gratis bagi warga kurang mampu, yang dilaksanakan Kodam I / BB melalui Kodim 0212/TS bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan A New Vation (ANV) dari Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi) Sumatera Utara dan Tambang Emas Martabe Batang Toru di Rumah Sakit Umum (RSU) Angkatan Darat (AD) Losung Batu Padangsidimpuan, Kamis (5/6).
Hadir dalam acara itu, Dandim 0212/TS, Letkol Inf. A.T. Chrishardjoko, Kabid Admin BKKBN Sumut Rosmawati, Kasubdit Advokasi & KIE BKKBN Sumut Antoni, mewakili Bupati Tapsel, mewakili Walikota P.Sidimpuan, para perwira di jajaran Kodim 0212/TS, Direktur Operasi Tambang Emas Martabe Tim Duffy, staf Tambang Emas Martabe serta ratusan orang pasien katarak dari warga kurang mampu.
Abidinsyah mengatakan, angka penderita katarak ini menempatkan Indonesia pada posisi tertinggi kedua jumlah penderita katarak terbanyak di Asia Tenggara. Padahal katarak dapat disembuhkan dengan operasi.
“Mata merupakan jendela dunia. Sejatinya dijaga dengan baik namun gangguan penglihatan tidak bisa terhindari dan bisa terjadi pada semua orang, salah satunya katarak. Kekeruhan pada lensa mata ini harus ditindak dengan jalan operasi, “ katanya.
Dijelaskan, adanya bantuan dari Tambang Emas Martabe Kabupaten Tapsel yang bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan ANV dari Walubi Sumut ini diharapkan bisa membantu mengembalikan penglihatan para penderita katarak agar bisa kembali beraktivitas.
“Dengan adanya bantuan ini, senantiasa di sisi anda semakin menunjukkan bahwa jajaran TNI dari Kodam I / BB maupun Tambang Emas Martabe tetap berusaha terus senantiasa berada di sisi masyarakat, ” ungkapnya.
Dandim 0212/TS Letkol Inf. A.T. Chrishardjoko mengatakan, operasi katarak gratis yang yang difasilitasi Tambang Emas Martabe ini guna meredam laju kebutaan yang dialami banyak masyarakat desa yang kurang mampu.
“Program ini merupakan program sosial TNI AD dari Kodam I / BB bekerjasama dengan berbagai pihak guna menolong dan memberikan bantuan kepada masyarakat kurang mampu di Sumut, “ ujar Dandim atas nama Panglima, Dandim juga mengucapkan terima kasih kepada Tambang Emas Martabe dan lembaga kemanusiaan ANV dari Walubi Sumut yang telah banyak membantu masyarakat kurang mampu dalam melakukan kegiatan social di Sumut khususnya di wilayah teritorial Kodim 0212/TS, sehingga masyarakat dapat terhindar dari kebutaan.
“Kiranya kegiatan ini tidak sampai di sini saja. Mungkin masih banyak program lain yang dapat kita laksanakan seperti operasi bibir sumbing, operasi kanker Rahim, yang seuanya banyak dialami masyarakat pedesaan dan warga kurang mampu yang mengharapkan uluran tangan dari kita semua, “ ujarnya.
Direktur Operasi Tim Duffy, mewakili manajemen Tambang Emas Martabe menyatakan, berbagai persiapan sudah dilakukan Tambang Emas Martabe dalam rangka program social sejak April 2014 lalu, yaitu dengan memfasilitasi pemeriksaan mata dan skrining katarak di berbagai daerah.
Ditambahkan, untuk kegiatan kali ini, sebanyak 364 orang terdiagnosa katarak dan saat ini menjalani operasi. “Kami berharap, bersama dengan para mitra kerja yang peduli, kami terus berupaya meningkatkan pemahaman dan ketrampilan masyarakat untuk mencegah tantangan kesehatan yang dapat dicegah atau disembuhkan, ” terangnya.
Mewakili pasien Bhakti Siregar mengungkapkan rasa terimakasih kepada Kodim 0212/TS dan Tambang Emas Martabe yang melaksanakan pengobatan mata secara gratis kepada warga kurang mampu. “ Kami berani dan yakin untuk menjalani operasi katarak dan kami ingin bisa melihat jelas agar dapat maksimal bekerja dan berladang guna kehidupan keluarga kami bisa terus berjalan,“ tuturnya. (hih)/(Analisa).
SUMBER :http://apakabarsidimpuan.com/2014/06/tiap-tahun-240-ribu-warga-indonesia-katarak/

Jumat, 20 Juni 2014

Kebutaan Katarak di Indonesia Tertinggi di ASEAN

Medan - Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/Bukit Barisan, Mayjen TNI Istu Hari S, mengatakan, kebutaan katarak di negara Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara (Asean).
"Tingginya kebutaan karena katarak disebabkan mahalnya biaya pengobatan bagi keluarga yang kurang mampu," katanya ketika meninjau Operasi Katarak Dalam Rangka Memperingati HUT Ke-64 Kodam I/BB di Rumah Sakit Tentara Jalan Putri Hijau Medan, Rabu (11/6).
Pangdam menyebutkan, penyelenggaraan operasi katarak yang keempat kalinya Kodam I/BB bekerja sama dengan Tilgangga Institute of Ophthalmology Nepal dan Walubi Cabang Sumut karena terpanggil untuk peduli terhadap masyarakat yang mengalami gangguan katarak.
Kegiatan bakti sosial tersebut, menurut dia, meliputi pemeriksaan mata dan operasi katarak gratis bagi masyarakat yang kurang mampu di wilayah kota Medan dan sekitarnya, dengan target 1.000 mata.
"Bakti sosial ini merupakan langkah yang tepat, untuk membantu meringankan beban masyarakat dalam mengatasi kesehatan mata, juga diharapkan dapat lebih memperkokoh kemanunggalan TNI-Rakyat yang
sudah terjalin baik," kata jenderal bintang dua itu.
Karumkit TK II Putri Hijau Kolonel dr. Chairul Akmal, Sp, THT, selaku Ketua Panitia Bhaksoskes Operasi Katarak mengatakan kegiatan bhakti sosial kesehatan operasi katarak dalam rangka memperingati HUT Ke 64 Kodam I/BB tahun 2014.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung di empat tempat, yakni Gunung Sitoli, Teluk Dalam, Padang Sidempuan dan Rumkit TK II Putri Hijau Medan.
"Target mata katarak yang dioperasi sebanyak 2.000 mata. Mata katarak yang sudah dioperasi, yakni sebanyak 459 mata di Lokasi Gunung Sitoli dan Teluk Dalam, dan 603 mata di lokasi Padang Sidempuan, ucap dia.
Kemudian, jelas Chairul, di lokasi Rumkit TK II Putri Hijau Medan sampai dengan saat ini sebanyak 1.290 orang pasien yang sudah diskrening, 686 orang memenuhi syarat, 500 orang yang sudah dioperasi, 186 orang yang belum dioperasi.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Gubernur Sumut HT Erry Nuradi, Irdam I/BB Kolonel Inf Amrin, dan Para Asisten Kasdam I/BB.
Penulis: /AF
Sumber:Antara

Rabu, 28 Mei 2014

Phaco Emulsifikasi Infiniti, Alat Operasi Katarak Pertama di RS Negeri di Jambi

OPERASI mata katarak saat ini sudah bisa di RSUD Abdul Manap yang kini sudah memeliki alat Phaco Emulsifikasi Infiniti. Untuk ukuran RS negeri di Jambi, baru RSUD Abdul Manap yang memiliki alat tersebut. Seperti apa alat tersebut?

PENYAKIT mata katarak biasanya harus dirujuk keluar daerah untuk melakukan operasi, ini dikarenakan tidak adanya alat yang canggih yang digunakan untuk operasi tersebut. Namun saat ini Rumah Sakit umum Daerah (RSUD) Abdul Manap telah memiliki alat untuk operasi mata katarak tersebut,  berupa Phaco Emulsifikasi Infiniti yang baru dioperasikan sejak awal Maret lalu.
Dari seluruh RSUD yang ada di Provinsi Jambi,  baru RSUD Abdul Manap yang memiliki alat untuk operasi mata katarak ini.  Dokter mata RSUD Abdul Manap, dr. Vonna Riasari, menjelaskan, dengan menggunkan Phaco Emulsifikasi Infiniti operasi yang dilakukan tidak perlu memakan waktu yang lama, yaitu antara 15 sampai 20 menit saja. Luka yang ditimbulkan akibat operasi menggunakan alat terbaru tersebut juga tidak terlalu besar, sehingga penyembuhan juga relatif lebih cepat dari pada operasi lainya. Setelah operasipun rehabilitasi penglihatan lebih cepat, demikian juga peradangan yang ditimbulkan sangat minimal.
Vonna menyebutkan bahwa alat Phaco Emulsifikasi Infiniti sebenarnya sudah ada sejak awak Januari lalu, hanya saja baru dioperasikan sejak awal Maret lalu. Karena dokter dan asisten harus mengikuti uji fungsi dan pelatihan menggunakan alat Phaco Emulsifikasi Infiniti terlebih dulu sebelum melakukan operasi sebenarnya.
"Sejauh ini sudah 14 pasien penderita katarak yang dioperasi, hasil operasi sangat memuaskan, penyembuhan pasca operasi sangat cepat, hanya beberapa hari saja," sebut dr. Vonna saat dibincangi Jambi Ekspres akhir pekan lalu.
RSUD Abdul Manap memang merupakan RSUD yang pertama memiliki alat Phaco Emulsifikasi Infiniti tersebut, ini menandakan bahwa kelas RSUD sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan meningkatnya pelayanan di RSUD ini juga ditandai dengan hadirnya tenaga dokter dan alat-alat yang belum ada di RSUD Abdul Manap sebelumnya. Upaya peningkatan pelayanan RSUD Abdul Manap terus dilakukan untuk melayani pasien.
Vonna menambahkan, penggunaan alat operasi katarak berupa Phaco Emulsifikasi Infiniti dilengkapi dengan kaset mesin yang digunakan untuk operasi. Kaset mesin tersebut harus dibuang setelah satu kali pakai, sehingga harganya juga sedikit lebih mahal dari operasi biasanya. Bahkan untuk ruang operasi juga tidak bisa dicampurkan dengan ruang operasi lainnya. "Setiap setelah operasi ruangan harus disterilkan, lama waktu mensterilkan yaitu 24 jam. Kalau tidak disterilkan bisa berdampak pada hasil operasi mata akibat infeksi," tandasnya.