Cari

Jumat, 07 Maret 2014

ISPA dan Katarak, Penyakit yang Sering Ditemukan di Indonesia


Kupang Tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terkait kesehatan masih terbilang rendah terutama wilayah perbatasan ataupun pinggiran. Alhasil, penyakit yang ditemukan pun beragam. Setelah melakukan ekspedisi ke 16 provinsi Tim Ekspedisi Kemanusiaan Kelompok Marjinal (EKKM) 2014 Kementerian Sosial Republik Indonesia menemukan berbagai penyakit yang menyerang anak-anak dan lansia.

"Setiap daerah itu selalu ditemukan masalah sosial dan gangguan kesehatan. Seperti di Aceh misalnya masih banyak yang mengalami penyakit dalam. Buleleng dan Lampung banyak Lansia yang katarak," kata Ketua Tim Ekspedisi sekaligus Direktur Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Orang Dengan Kecacatan, Nahar, SH, Msi, Jumat (28/2/2014).

Salah satu relawan yang terlibat dalam ekspedisi ini mengatakan gangguan ISPA  (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan katarak masih banyak ditemukan di daerah perbatasan.

"Setelah berkeliling 16 provinsi masalah ISPA yang paling sering ditemui selain itu katarak juga banyak dialami lansia di daerah-daerah. Sakit tulang belakang juga banyak dikeluhkan masyarakat terutama daerah yang masih banyak profesi meladangnya," kata drg. Anita dari Lembaga Sosial Suara Kebenaran Internasional, Medan.

Untuk mengatasi hal ini, tim ekspedisi yang sudah menyambangi lintas Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur memberikan bantuan seperti alat bersih dan sehat dan beberaoa kebutuhan lainnya.

"Bakti sosial ini masuk ke dalam ruang lingkup kegiatan ekspedisi EKKM 2014, untuk anak-anak kami memberikan alat bersih dan sehat, vitamin untuk perkembangan otak, buku cerita dan lansia diberikan kacamata, alat bersih dan sehat serta kebutuhan lainnya. Selain itu Orang Dengan Kecacatan (ODK) juga diberikan bantuan, ada juga pelayanan kesehatan," kata drg. Anita.
(Mia/Mel)
Sumber: Liputan6.com

 Health News Mon, 03 Mar 2014 08:42:00 WIB 
http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed|0|0|5|8989

--------------------------------------------------------0--------------------------------------------------------------

Rabu, 05 Maret 2014

Usia Penderita Katarak di Indonesia Lebih Muda

Jakarta -  Gangguan penglihatan yang disebabkan oleh katarak umumnya berkaitan dengan proses degeneratif atau penuaan. Namun, berbeda dengan negara maju yang umumnya dialami usia lanjut, di Indonesia usia
penderita katarak jauh lebih muda.
Ketua Seksi Penanggulangan Buta Katarak Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (SPBK-Perdami), Yeni Dwi Lestari, mengatakan di negara maju penderita katarak berusia 50-60 tahun ke atas, sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia sudah dimulai dari usia 40 tahun.
Hal ini, kata dia, dipicu oleh semakin tingginya penderita Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis. Penderita kencing manis lebih berisiko tinggi dibanding orang normal.
"Artinya, semakin tinggi penderita kencing manis, semakin tinggi pula kasus katarak," kata Yeni seusai acara penyerahan donasi oleh Presiden Direktur Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaadmadja, berupa dana
sebesar Rp 385 juta untuk pembelian alat operasi katarak kepada SPBK-Perdami, di Jakarta, Selasa (25/2).
Yeni mengatakan, katarak merupakan kekeruhan lensa mata yang menyebabkan gangguan penglihatan. Jika sudah parah, selaput katarak dapat menghalangi masuk cahaya secara total, sehingga mengakibatkan kebutaan.
Di Indonesia, katarak merupakan sumber kebutaan yang paling umum. Setiap tahunnya terdapat 210.000 penderita katarak baru yang muncul.
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita katarak tertinggi di ASEAN, yaitu 1,5% dari seluruh penderita katarak di dunia. Angka kebutaan di Indonesia pun diperkirakan 1,5% dari seluruh penduduk, di mana sebagian besar atau 50% di antaranya disebabkan oleh katarak.
"Ini berkaitan dengan proses penuaan, karena di Indonesia usia harapan hidup semakin tinggi," katanya.
Para penderita katarak kebanyakan menyebar di daerah pesisir karena terpapar sinar matahari berlebihan, dan daerah terpencil karena akses terhadap layanan kesehatan kurang. Terutama di wilayah timur Indonesia
yang kondisi fasilitas kesehatan kurang memadai. Kondisi ini menyebabkan kesadaran dan kemampuan untuk mencegah maupun mengobati katarak masih terbatas. Ketika sudah mengalami kebutaan baru masyarakat mencari pengobatan.
Kasusnya pun cenderung meningkat. Penelitian yang dilakukan Perdami menunjukkan beberapa daerah di Sulawesi dan Jawa Barat mengalami kenaikan. Karenanya, ia menganjurkan masyarakat untuk mencegah risiko
terkena katarak di usia lebih awal, yaitu dengan kurangi terpapar sinar matahari dan perbaiki gaya hidup untuk mengindari kencing manis. Kalaupun sudah parah segera lakukan operasi.
Menurutnya, penanganan kebutaan di Indonesia belum jadi program prioritas Kementerian Kesehatan. Sampai sekarang belum ada subdit atau unit khusus mengatasi penyakit mata ini. Padahal setiap orang tua berisiko katarak. Namun yang perlu dicegah adalah kebutaan akibat katarak, yaitu dengan cara operasi.
Untuk mengobati kebutaan, penderita harus melakukan pembedahan untuk mengeluarkan lensa yang keruh tersebut, dan kemudian menggantinya dengan lensa tanam buatan.
"Operasi katarak dapat dilakukan dengan mikroskop dan mesin fako-emulsifikasi, yang memanfaatkan getaran ultrasonik untuk menghancurkan selaput katarak," ungkapnya
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaadmadja mengatakan, kebutuhan akan peralatan operasi katarak dengan harga terjangkau sangat diperlukan. Banyaknya kebutuhan ini mendorong BCA untuk memberikan donasi, berupa dana tunai guna membeli peralatan operasi, yaitu mikroskop dan mesin fako-emulsifikasi. Donasi ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan sekaligus dalam rangkaian kegiatan HUT ke-57 BCA tahun ini.
"Teknologi canggih ini diharapkan dapat memudahkan tenaga medis dan relawan untuk melakukan operasi katarak," Jahja.
Pasalnya, kata dia, minimnya peralatan operasi selama ini menjadi kesulitan organisasi profesi memberikan layanan operasi gratis kepada masyarakat. Alat ini sangat membantu Perdami memberikan layanan lebih luas ke semua daerah.

Selasa, 04 Maret 2014

Obat Terbatas, Pasien Terpaksa Bayar Klaim


Bengkulu : Kisruh tentang mekanisme tranfusi darah di RSUD M Yunus Bengkulu rupanya merembet ke permasalahan lain. Yaitu keterbatasan obat dan lensa pasien yang melakukan operasi katarak.
Para pasien BPJS yang dioperasi mata untuk mengangkat katarak di bola matanya harus membeli lensa tersebut dan beberapa jenis obat dengan biaya sendiri.
“Kami menerima permintaan klaim pembelian Intra Okuler Lens (IOL) dari pasien yang membeli sendiri. Padahal uang untuk itu sudah include dengan klaim biaya operasi sesuai ddengan INACBG sebesar Rp9 juta untuk satu kali operasi katarak,” jelas koordinator BPJS RSUD M Yunus Drg Jahrotin.
Selain ketidaktersediaan lensa IOL, RSUD M Yunus juga tidak menyediakan beberapa jenis obat termasuk obat tetes mata dan benang jahit operasi.
“Dalam aturan, semua obat disiapkan pihak rumah sakit dan kami membayar sesuai dengan topup biaya tindakan. Padahal klaim tagihan BPJS rumah sakit ini pada bulan Januari 2014 saja sudah mencapai Rp4,5 miliar,” lanjutnya.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD M Yunus Dr Syafriadi mengakui memang pihaknya tidak mampu menyediakan Lensa IOL dan beberapa jenis obat tersebut karena keterbatasan dana.
“Item klaim pembelian IOL kami tidak tahu. Yang jelas klaim kami satu paket tindakan operasi dan obat. Kami pun terpaksa membeli obat dengan harga regular sebab belum ada kesimpulan untuk membeli obat murah, jika dipaksakan kami akan bangkrut,” tegas Syafriadi.
Menurut dia, anggaran yang disiapkan oleh BPJS masih kurang dan harus ditinjau kembali. Memang ada beberapa unit tagihan yang dinaikkan, namun beberapa item tagihan justru sangat rendah.
Sumber: Liputan6.com
Health News Mon, 24 Feb 2014 16:04:00 WIB
Oleh Yuliardi Hardjo Putra

http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed|0|0|5|8985

 --------------------------------------------------------0------------------------------------------------------------