Cari

Rabu, 05 Maret 2014

Usia Penderita Katarak di Indonesia Lebih Muda

Jakarta -  Gangguan penglihatan yang disebabkan oleh katarak umumnya berkaitan dengan proses degeneratif atau penuaan. Namun, berbeda dengan negara maju yang umumnya dialami usia lanjut, di Indonesia usia
penderita katarak jauh lebih muda.
Ketua Seksi Penanggulangan Buta Katarak Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (SPBK-Perdami), Yeni Dwi Lestari, mengatakan di negara maju penderita katarak berusia 50-60 tahun ke atas, sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia sudah dimulai dari usia 40 tahun.
Hal ini, kata dia, dipicu oleh semakin tingginya penderita Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis. Penderita kencing manis lebih berisiko tinggi dibanding orang normal.
"Artinya, semakin tinggi penderita kencing manis, semakin tinggi pula kasus katarak," kata Yeni seusai acara penyerahan donasi oleh Presiden Direktur Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaadmadja, berupa dana
sebesar Rp 385 juta untuk pembelian alat operasi katarak kepada SPBK-Perdami, di Jakarta, Selasa (25/2).
Yeni mengatakan, katarak merupakan kekeruhan lensa mata yang menyebabkan gangguan penglihatan. Jika sudah parah, selaput katarak dapat menghalangi masuk cahaya secara total, sehingga mengakibatkan kebutaan.
Di Indonesia, katarak merupakan sumber kebutaan yang paling umum. Setiap tahunnya terdapat 210.000 penderita katarak baru yang muncul.
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita katarak tertinggi di ASEAN, yaitu 1,5% dari seluruh penderita katarak di dunia. Angka kebutaan di Indonesia pun diperkirakan 1,5% dari seluruh penduduk, di mana sebagian besar atau 50% di antaranya disebabkan oleh katarak.
"Ini berkaitan dengan proses penuaan, karena di Indonesia usia harapan hidup semakin tinggi," katanya.
Para penderita katarak kebanyakan menyebar di daerah pesisir karena terpapar sinar matahari berlebihan, dan daerah terpencil karena akses terhadap layanan kesehatan kurang. Terutama di wilayah timur Indonesia
yang kondisi fasilitas kesehatan kurang memadai. Kondisi ini menyebabkan kesadaran dan kemampuan untuk mencegah maupun mengobati katarak masih terbatas. Ketika sudah mengalami kebutaan baru masyarakat mencari pengobatan.
Kasusnya pun cenderung meningkat. Penelitian yang dilakukan Perdami menunjukkan beberapa daerah di Sulawesi dan Jawa Barat mengalami kenaikan. Karenanya, ia menganjurkan masyarakat untuk mencegah risiko
terkena katarak di usia lebih awal, yaitu dengan kurangi terpapar sinar matahari dan perbaiki gaya hidup untuk mengindari kencing manis. Kalaupun sudah parah segera lakukan operasi.
Menurutnya, penanganan kebutaan di Indonesia belum jadi program prioritas Kementerian Kesehatan. Sampai sekarang belum ada subdit atau unit khusus mengatasi penyakit mata ini. Padahal setiap orang tua berisiko katarak. Namun yang perlu dicegah adalah kebutaan akibat katarak, yaitu dengan cara operasi.
Untuk mengobati kebutaan, penderita harus melakukan pembedahan untuk mengeluarkan lensa yang keruh tersebut, dan kemudian menggantinya dengan lensa tanam buatan.
"Operasi katarak dapat dilakukan dengan mikroskop dan mesin fako-emulsifikasi, yang memanfaatkan getaran ultrasonik untuk menghancurkan selaput katarak," ungkapnya
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaadmadja mengatakan, kebutuhan akan peralatan operasi katarak dengan harga terjangkau sangat diperlukan. Banyaknya kebutuhan ini mendorong BCA untuk memberikan donasi, berupa dana tunai guna membeli peralatan operasi, yaitu mikroskop dan mesin fako-emulsifikasi. Donasi ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan sekaligus dalam rangkaian kegiatan HUT ke-57 BCA tahun ini.
"Teknologi canggih ini diharapkan dapat memudahkan tenaga medis dan relawan untuk melakukan operasi katarak," Jahja.
Pasalnya, kata dia, minimnya peralatan operasi selama ini menjadi kesulitan organisasi profesi memberikan layanan operasi gratis kepada masyarakat. Alat ini sangat membantu Perdami memberikan layanan lebih luas ke semua daerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar