Cari

Senin, 30 Juni 2014

Sering Terpapar Matahari, Nelayan Rawan Derita Katarak

[BATAM] Nelayan di Provinsi Kepulauan Riau rawan terkena derita katarak, karena frekuensi terpapar sinar matahari yang tinggi, kata Manajemen Seksi Penanggulangan Buta Katarak Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia Riko Yuniandri di Batam, Sabtu.

"Paparan sinar matahari yang tinggi merupakan salah satu pemicu katarak," kata Riko Yuniandri disela-sela operasi katarak mata gratis di Batam, Sabtu.

Katarak merupakan penyakit yang sulit dihindari, karena merupakan proses penuaan tubuh. Namun, untuk meminimalkan atau memperlambat prosesnya, maka masyarakat harus menghindari paparan matahari langsung.

Ia mengatakan Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita katarak tertinggi kedua di ASEAN. Jumlah penderitanya mencapai 1,5 persen total pnduduk, atau sekitar 2 juta jiwa.

Seksi Penanggulangan Buta Katarak Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (SPBK Perdami) menghitung, setiap tahun jumlah warga yang terancam kebutaan akibat katarak bertambah 240.000 jiwa.

"Dan sebagian besar penderita katarak adalah berada di daerah miskin dengan konsidi sosial yang lemah sehingga tidak memungkinkan penderitanya melakukan operasi," kata dia.

Di tempat yang sama, Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani mengatakan sekitar tiga persen penduduknya menderita katarak, dan sebagian besarnya adalah nelayan.

"Paling banyak yang menderita katarak adalah nelayan, karena mereka sering terkena sinar matahari," kata Gubernur. [Ant/N-6]

SUMBER :
http://www.suarapembaruan.com/home/sering-terpapar-matahari-nelayan-rawan-derita-katarak/56124

Jumat, 27 Juni 2014

70 Persen Kebutaan karena Katarak

Mataram (ANTARA News) - Hasil survei The Fred Hollows Fondation (FHF), menyebutkan kebutaan karena katarak yang diderita masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 70 persen.

"Itu hasil survei FHF yang disampaikan Pak Iskandar, Manager Program FHF untuk Indonesia," kata Wakil Gubernur NTB H Muh Amin, di Mataram, Rabu.

Pada Selasa (3/6), Iskandar dan Kordinator Program NTB Dedy Haryadi, mendampingi Koordinator Program FHF untuk Asia Tenggara Barnaby Coddy, menemui Wakil Gubernur NTB, guna menyampaikan program pencegahan dan pengobatan penyakit mata bagi penderita katarak dan gloukoma di NTB.  FHF merupakan yayasan yang dibentuk dari kerja sama Pemerintah Australia dengan Indonesia.

Pada kesempatan itu Iskandar mengungkapkan hasil survei, pengobatan dan sosialisasi kepada masyarakat NTB terkait penyakit mata seperti katarak dan glaukoma.

Kegiatan survei itu dilakukan sejak April--Mei 2014, di beberapa kabupaten/kota di wilayah NTB, sebagai lokasi pelaksanaan program pencegahan dan pengobatan penyakit mata bagi penderita katarak dan gloukoma. NTB merupakan lokasi ketiga, setelah sebelumnya dilaksanakan di Sulawesi dan Jawa Barat, dan telah disepakati untuk dilanjutkan pada tahun anggaran 2015.

Dari hasil survei dan pelaksanaan kegiatan itu, diketahui 4,5 persen masyarakat NTB mengalami kebutaan dan setiap tahunnya jumlah itu bertambah, sedangkan kebutaan karena katarak mencapai 70 persen.

"Hasil survei FHF itu cukup mengejutkan, dan tentu harus disikapi secara baik dan terarah," ujar Amin.

Pihak FHF juga mengungkapkan temuan adanya banyak masyarakat yang tidak menyadari betapa pentingnya memeriksa mata terutama bagi penderita katarak yang takut berobat karena biaya tinggi.

Untuk itu, FHF berharap adanya kesadaran masyarakat yang menderita katarak agar mau menjalani operasi, dan hal itu perlu didukung berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.

"Tentu pemerintah daerah perlu mendorong semua pihak terkait untuk membantu penderita katarak agar mau melakukan operasi dan pengobatan lebih lanjut," ujar Amin. (*)

Selasa, 24 Juni 2014

Katarak Juga Bisa Dialami Anak

KOMPAS.com – Katarak, timbulnya selaput keruh pada lensa mata yang ditandai dengan gejala pandangan kabur, acap terjadi pada orang yang sudah berumur. Tapi jangan salah, katarak bisa terjadi pada anak-anak, bahkan di dalam kandungan, dari ibu yang terkena virus.

Apa sebenarnya katarak? Katarak adalah gangguan pada indera penglihatan yang ditandai dengan keausan pada lensa mata. Lensa menjadi berselaput (keruh). Akibatnya, cahaya yang masuk ke dalam mata sulit mencapai retina sehingga terpencar dan pandangan menjadi kabur.

Pada tahap awal, karena tidak menimbulkan rasa sakit, seseorang seringkali tidak menyadari dirinya menderita katarak. Tapi, katarak  yang dibiarkan terus berkembang hingga bertahun-tahun membuat lensa mata menjadi semakin keruh.  Biasanya menimpa kedua mata meskipun tidak langsung sekaligus.

Apa saja gejala yang diderita? Penglihatan kabur seperti ada kabut yang mengalangi, penglihatan terganggu di saat gelap atau terang sekali, mata terlalu peka terhadap cahaya, lensa mata berubah menjadi buram, saat membaca perlu cahaya yang lebih terang, dan pandangan menjadi ganda.

Sebenarnya apa yang menjadi penyebabnya? Pertambahan usia, biasanya terjadi pada usia 60 tahun ke atas. Katarak juga bisa terjadi pada anak-anak, bahkan bayi yang ketika masih di dalam kandungan, ibunya terinfeksi virus. Mata sering terkena paparan sinar matahari tanpa perlindungan, trauma pada mata yang mengenai lensa, faktor genetik (turunan), gangguan metabolisme tubuh seperti diabetes, dan penggunaan obat-obatan seperti kortikosteroid dalam jangka panjang.

Ini, yang bisa kita lakukan untuk menangani katarak. Melakukan pemeriksaan mata secara teratur, banyak mengonsumsi sayuran dan buah yang kaya vitamin A, C, dan E. Mengatur pencahayaan lampu untuk memperjelas penglihatan, dan kalau terasa mengganggu, hindari mengemudi pada malam hari.

Segera hubungi dokter bila mendapati gejala-gejala seperti tadi, dan dokter akan melakukan hal-hal berikut ini. Memeriksa kondisi mata dengan biomikroskop yang diletakkan langsung di depan mata kita, katarak taraf awal akan diobati dengan obat tetes yang sifatnya tidak menyembuhkan tetapi memperlambat proses perkembangannya.

Bila katarak sudah mengganggu, dilakukan pembedahan. Dalam tindakan ini, lensa yang keruh diangkat lalu sebagai pengganti ditanamkan lensa intraokuler. Lamanya pembedahan biasanya tidak sampai satu jam. Setelah operasi, penglihatan berangsur-angsur akan semakin tajam. Tapi, pascaoperasi penderita perlu menjaga matanya agar tidak terkena infeksi.

Katarak yang dibiarkan tanpa perawatan bisa menyebabkan komplikasi seperti glaukoma atau uveitis yang berakibat kebutaan. (Intisari Extra)

Sumber :
Editor :
Lusia Kus Anna

http://health.kompas.com/read/2014/06/10/1448083/Katarak.Juga.Bisa.Dialami.Anak?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Minggu, 22 Juni 2014

Tiap Tahun 240 Ribu Warga Indonesia Katarak

Padangsidimpuan,  Sebanyak 0,76 persen penduduk Indonesia mengalami kebutaan dan lebih dari 60 persen disebabkan katarak.
“Bila jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 250 juta maka lebih dari 2 juta orang penderita katarak dan setiap tahun terjadi penambahan lebih 240 ribu, ” ujar Deputi Admin Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Abidinsyah Siregar pada kegiatan operasi katarak gratis bagi warga kurang mampu, yang dilaksanakan Kodam I / BB melalui Kodim 0212/TS bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan A New Vation (ANV) dari Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi) Sumatera Utara dan Tambang Emas Martabe Batang Toru di Rumah Sakit Umum (RSU) Angkatan Darat (AD) Losung Batu Padangsidimpuan, Kamis (5/6).
Hadir dalam acara itu, Dandim 0212/TS, Letkol Inf. A.T. Chrishardjoko, Kabid Admin BKKBN Sumut Rosmawati, Kasubdit Advokasi & KIE BKKBN Sumut Antoni, mewakili Bupati Tapsel, mewakili Walikota P.Sidimpuan, para perwira di jajaran Kodim 0212/TS, Direktur Operasi Tambang Emas Martabe Tim Duffy, staf Tambang Emas Martabe serta ratusan orang pasien katarak dari warga kurang mampu.
Abidinsyah mengatakan, angka penderita katarak ini menempatkan Indonesia pada posisi tertinggi kedua jumlah penderita katarak terbanyak di Asia Tenggara. Padahal katarak dapat disembuhkan dengan operasi.
“Mata merupakan jendela dunia. Sejatinya dijaga dengan baik namun gangguan penglihatan tidak bisa terhindari dan bisa terjadi pada semua orang, salah satunya katarak. Kekeruhan pada lensa mata ini harus ditindak dengan jalan operasi, “ katanya.
Dijelaskan, adanya bantuan dari Tambang Emas Martabe Kabupaten Tapsel yang bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan ANV dari Walubi Sumut ini diharapkan bisa membantu mengembalikan penglihatan para penderita katarak agar bisa kembali beraktivitas.
“Dengan adanya bantuan ini, senantiasa di sisi anda semakin menunjukkan bahwa jajaran TNI dari Kodam I / BB maupun Tambang Emas Martabe tetap berusaha terus senantiasa berada di sisi masyarakat, ” ungkapnya.
Dandim 0212/TS Letkol Inf. A.T. Chrishardjoko mengatakan, operasi katarak gratis yang yang difasilitasi Tambang Emas Martabe ini guna meredam laju kebutaan yang dialami banyak masyarakat desa yang kurang mampu.
“Program ini merupakan program sosial TNI AD dari Kodam I / BB bekerjasama dengan berbagai pihak guna menolong dan memberikan bantuan kepada masyarakat kurang mampu di Sumut, “ ujar Dandim atas nama Panglima, Dandim juga mengucapkan terima kasih kepada Tambang Emas Martabe dan lembaga kemanusiaan ANV dari Walubi Sumut yang telah banyak membantu masyarakat kurang mampu dalam melakukan kegiatan social di Sumut khususnya di wilayah teritorial Kodim 0212/TS, sehingga masyarakat dapat terhindar dari kebutaan.
“Kiranya kegiatan ini tidak sampai di sini saja. Mungkin masih banyak program lain yang dapat kita laksanakan seperti operasi bibir sumbing, operasi kanker Rahim, yang seuanya banyak dialami masyarakat pedesaan dan warga kurang mampu yang mengharapkan uluran tangan dari kita semua, “ ujarnya.
Direktur Operasi Tim Duffy, mewakili manajemen Tambang Emas Martabe menyatakan, berbagai persiapan sudah dilakukan Tambang Emas Martabe dalam rangka program social sejak April 2014 lalu, yaitu dengan memfasilitasi pemeriksaan mata dan skrining katarak di berbagai daerah.
Ditambahkan, untuk kegiatan kali ini, sebanyak 364 orang terdiagnosa katarak dan saat ini menjalani operasi. “Kami berharap, bersama dengan para mitra kerja yang peduli, kami terus berupaya meningkatkan pemahaman dan ketrampilan masyarakat untuk mencegah tantangan kesehatan yang dapat dicegah atau disembuhkan, ” terangnya.
Mewakili pasien Bhakti Siregar mengungkapkan rasa terimakasih kepada Kodim 0212/TS dan Tambang Emas Martabe yang melaksanakan pengobatan mata secara gratis kepada warga kurang mampu. “ Kami berani dan yakin untuk menjalani operasi katarak dan kami ingin bisa melihat jelas agar dapat maksimal bekerja dan berladang guna kehidupan keluarga kami bisa terus berjalan,“ tuturnya. (hih)/(Analisa).
SUMBER :http://apakabarsidimpuan.com/2014/06/tiap-tahun-240-ribu-warga-indonesia-katarak/

Jumat, 20 Juni 2014

Kebutaan Katarak di Indonesia Tertinggi di ASEAN

Medan - Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/Bukit Barisan, Mayjen TNI Istu Hari S, mengatakan, kebutaan katarak di negara Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara (Asean).
"Tingginya kebutaan karena katarak disebabkan mahalnya biaya pengobatan bagi keluarga yang kurang mampu," katanya ketika meninjau Operasi Katarak Dalam Rangka Memperingati HUT Ke-64 Kodam I/BB di Rumah Sakit Tentara Jalan Putri Hijau Medan, Rabu (11/6).
Pangdam menyebutkan, penyelenggaraan operasi katarak yang keempat kalinya Kodam I/BB bekerja sama dengan Tilgangga Institute of Ophthalmology Nepal dan Walubi Cabang Sumut karena terpanggil untuk peduli terhadap masyarakat yang mengalami gangguan katarak.
Kegiatan bakti sosial tersebut, menurut dia, meliputi pemeriksaan mata dan operasi katarak gratis bagi masyarakat yang kurang mampu di wilayah kota Medan dan sekitarnya, dengan target 1.000 mata.
"Bakti sosial ini merupakan langkah yang tepat, untuk membantu meringankan beban masyarakat dalam mengatasi kesehatan mata, juga diharapkan dapat lebih memperkokoh kemanunggalan TNI-Rakyat yang
sudah terjalin baik," kata jenderal bintang dua itu.
Karumkit TK II Putri Hijau Kolonel dr. Chairul Akmal, Sp, THT, selaku Ketua Panitia Bhaksoskes Operasi Katarak mengatakan kegiatan bhakti sosial kesehatan operasi katarak dalam rangka memperingati HUT Ke 64 Kodam I/BB tahun 2014.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung di empat tempat, yakni Gunung Sitoli, Teluk Dalam, Padang Sidempuan dan Rumkit TK II Putri Hijau Medan.
"Target mata katarak yang dioperasi sebanyak 2.000 mata. Mata katarak yang sudah dioperasi, yakni sebanyak 459 mata di Lokasi Gunung Sitoli dan Teluk Dalam, dan 603 mata di lokasi Padang Sidempuan, ucap dia.
Kemudian, jelas Chairul, di lokasi Rumkit TK II Putri Hijau Medan sampai dengan saat ini sebanyak 1.290 orang pasien yang sudah diskrening, 686 orang memenuhi syarat, 500 orang yang sudah dioperasi, 186 orang yang belum dioperasi.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Gubernur Sumut HT Erry Nuradi, Irdam I/BB Kolonel Inf Amrin, dan Para Asisten Kasdam I/BB.
Penulis: /AF
Sumber:Antara