Cari

Minggu, 17 Agustus 2014

Katarak Tak Hanya Mengintai Lansia

KOMPAS.com - Setahun lalu, Badrudin (35) terkejut ketika ia memeriksakan mata ke dokter. Dalam usia tergolong produktif, ia telah dinyatakan menderita katarak. Selama ini penyakit yang membuat lensa mata keruh dan bisa mengakibatkan kehilangan penglihatan itu rata-rata terjadi pada orang yang telah berusia 60 tahun ke atas.

Dokter pun heran dan mengira saya pernah kecelakaan pada mata atau operasi mata. Saya jawab tak pernah. Lalu, dokter bertanya, apakah saya punya diabetes. Lagi-lagi saya jawab tidak,” kata Badrudin.

Badrudin lalu diminta memeriksa kadar gula dalam darah. Hasilnya, kadar gula darah Badrudin mencapai 280 miligram per desiliter (mg/dl), padahal kadar normal dalam kondisi puasa kurang dari 100 mg/dl. Karyawan distributor lensa kacamata itu dinyatakan menderita diabetes.

Menurut Direktur Utama Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center (JEC) Kedoya dokter Darwan M Purba, Sabtu (9/8), di Jakarta, katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi buram. Karena cahaya sulit menembus lensa dan mencapai retina, bayangan yang ditangkap retina menjadi kabur.

Gejala umum katarak adalah lensa mata memburam mirip kaca susu dan penderita seperti terganggu kabut ketika melihat obyek. Penderita juga lebih peka terhadap cahaya, membutuhkan cahaya terang untuk bisa membaca, dan penglihatan pada satu mata kadang jadi dua (ganda).

Kasus katarak kebanyakan akibat proses degeneratif (kemunduran), seiring usia yang kian lanjut. Gangguan mata itu umumnya menyerang orang berusia 60 tahun ke atas sehingga dianggap sebagai proses alami yang tak bisa dihindari.

Diabetes

Selain usia, ada beberapa faktor yang mempercepat timbulnya katarak, antara lain pemakaian steroid, dampak operasi mata, dan kecelakaan pada mata. Adapun diabetes merupakan faktor risiko paling umum yang mempercepat katarak. ”Dari pengamatan kami, penderita diabetes lebih cepat mengalami katarak dibandingkan yang tak punya diabetes,” kata Purba.

Selain itu, paparan sinar ultraviolet meningkatkan risiko terkena katarak, terutama jika mata tanpa pelindung terpapar sinar matahari cukup lama. Karena itu, nelayan adalah pekerjaan berisiko tinggi kena katarak. ”Nelayan terpapar sinar matahari dari pagi hingga sore saat melaut. Akibatnya, banyak nelayan katarak pada usia 35 tahun,” ujarnya.

Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi katarak semua umur 1,8 persen. Terkait usia, Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) pada 2013 mencatat, prevalensi kebutaan akibat katarak kian tinggi pada kelompok usia lebih tua. Pada kelompok usia 45-59 tahun, prevalensi kebutaan akibat katarak 20 kasus per 1.000 orang. Adapun pada kelompok usia lebih dari 60 tahun 50 kasus per 1.000 orang.

Beragam teknologi

Sejauh ini, operasi mata merupakan satu-satunya jalan untuk sembuh dari katarak. Selama ini, operasi katarak terbukti hanya memiliki risiko komplikasi 1 persen meski dengan bedah pisau. Namun, jika takut dengan pisau bedah, penderita kini punya pilihan untuk menghindarinya dengan teknologi laser.

Teknologi operasi katarak terus berkembang. Teknologi pertama adalah operasi katarak manual, terdiri dari bedah ekstraksi katarak intrakapsul (ICCE) dan bedah ekstraksi katarak ekstrakapsul (ECCE). Pada ICCE, dokter mengeluarkan lensa mata pasien tanpa memberi lensa tanam untuk pengganti sehingga pasien terbantu melihat dengan memakai kacamata.

Dengan metode ECCE, lensa tanam dimasukkan ke kapsul mata guna mengganti lensa yang katarak. Pada kedua metode itu, sayatan kornea dibuat sekitar 1 sentimeter, menyesuaikan dengan ukuran lensa, dan perlu beberapa jahitan.
Minimal invasif

Kemudian, muncul teknologi fakoemulsifikasi. Dokter spesialis mata subspesialis katarak, lasik, dan kornea JEC Kedoya, Ucok P Pasaribu, Selasa (12/8), mengatakan, fakoemulsifikasi tetap memakai pisau untuk menyayat kornea. Bedanya, sayatan jauh lebih kecil dibandingkan operasi manual, yakni 1,8-2 milimeter.

”Sayatan lebih kecil karena lensa mata tak dikeluarkan utuh. Lensa yang katarak dihancurkan lebih dulu dengan jarum tip yang terhubung ke mesin fakoemulsifikasi,” kata Ucok. Mesin itu memakai tenaga ultrasonik dengan frekuensi tinggi. Dengan teknologi itu, risiko infeksi akibat sayatan besar bisa diminimalkan, luka sayatan tak perlu dijahit.

Kini, bedah katarak bisa dibuat tanpa pisau, yakni operasi katarak dengan laser tanpa pisau bedah (bladeless laser cataract surgery). Menurut Ucok, laser untuk menyayat kornea itu berbasis teknologi Femtosecond (diaplikasikan dalam hitungan sepersejuta miliar detik).

Selain untuk menyayat, sinar laser untuk memotong lensa sebelum dihancurkan mesin fakoemulsifikasi. ”Metode ini jauh lebih aman karena dibantu sistem komputerisasi sehingga sayatan lebih presisi sesuai yang diprogramkan di komputer. Risiko infeksi pun amat kecil,” katanya.

Dengan metode tanpa pisau, dokter membuat program rencana sayatan di komputer. Dengan bantuan laser, pinggir kornea disayat selebar lebih kurang 2 mm dan memotong kapsul lensa mata (kapsulotomi). Lalu, lensa mata keruh dipotong dengan laser. Lensa yang terpotong dihancurkan dengan jarum tip yang terhubung ke mesin fakoemulsifikasi.

Hadirnya sejumlah teknologi bedah memberikan pilihan bagi pasien katarak. Apalagi kini usia penderita kian muda. (A03)
sumber: http://health.kompas.com/read/2014/08/13/162038923/Katarak.Tak.Hanya.Mengintai.Lansia.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar