Cari

Rabu, 29 Oktober 2014

STORY: Buta Selama 12 Tahun, Pria Ini Akhirnya Sembuh jadiLifejadiStory

Ada yang berkata kalau buta karena penyakit tak bisa disembuhkan. Namun ternyata pernyataan itu salah, dan buktinya ada pada kisah pria yang satu ini.
Katarak membuat penglihatan Winesi March (69 tahun) terganggu selama 12 tahun. Sejak 2 tahun lalu, Winesi benar-benar kehilangan penglihatannya. Dia tidak bisa bekerja atau melihat wajah istrinya lagi. Namun dengan bantuan operasi, kini dia bisa melihat kembali wajah istri yang begitu dicintainya.
Dilansir dari Daily Mail, Kamis (23/10/2014), Winesi benar-benar bahagia dan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu. Senyum terus terlihat dari Winesi saat dokter membuka perban di matanya. Inilah momen saat Winesi melihat kembali wajah istrinya, wajah yang tidak bisa dia lihat dengan sempurna selama 12 tahun ini. Winesi langsung menari-nari gembira setelah memeluk istrinya dan bisa melihat cucunya yang berusia 18 bulan.
“Saya sangat senang bisa melihat istri saya lagi. Saya berkata, ah.. seperti inikah rasanya bisa melihat lagi.” ujar Winesi dengan wajar berbinar.
Operasi katarak dilakukan Winesi di Queen Elizabeth Hospital, Blantyre, Malawi. Operasi ini hanya membutuhkan waktu 6 menit dan biaya yang sangat murah. Namun selama bertahun-tahun, Winesi dan keluarganya yang tinggal di pedesaan tidak tahu bahwa masalah di matanya bisa diatasi dengan operasi. Hingga akhirnya kampanye operasi katarak membuat keluarga Winesi membawanya ke rumah sakit.
“Saya tidak pernah bermimpi hal ini dapat terjadi,” ujar istri Winesi. “Tidak ada informasi di daerah kami tentang perawatan mata,” lanjutnya.
Winesi sendiri bercerita bahwa dia sangat tersiksa saat penglihatannya bermasalah, namun dia masih bisa bekerja sebagai petani. Namun sejak penglihatannya sudah hilang total sejak 2 tahun lalu, Winesi tidak bisa bekerja bahkan harus dibantu saat makan dan ke toilet. Dia juga sangat khawatir tidak ada yang melindungi istrinya. Maka saat tahu kondisi matanya bisa pulih dengan operasi, Winesi memberanikan diri untuk menjalani prosedur ini.
“Sekarang saya bisa melihat lagi dan bisa kembali mengurus pertanian. Saya ingin kembali bekerja dan mulai memasak lagi, melakukan segala hal,” ujar Winesi.
Dengan kondisi sehat seperti sekarang, Winesi tak lagi sedih karena merasa menjadi beban bagi istrinya. Sekarang dia bisa melihat kembali wajah wanita yang begitu dicintai, bisa melihat dan bermain dengan cucunya. Dan yang pasti, Winesi begitu bersyukur diberi kesempatan melihat kembali.
Bagi Anda yang masih memiliki anggota tubuh normal, jagalah dengan baik, jangan sampai Anda menyesal dan baru tersadar kemudian setelah Anda kehilangan salah satu anggota tubuh Anda. Selain itu Anda juga harus lebih bersyukur dengan apa yang Anda miliki sekarang. (tom)
sumber
http://jadiberita.com/46158/story-buta-selama-12-tahun-pria-ini-akhirnya-sembuh.html

Senin, 27 Oktober 2014

Terlalu sering menggunakan Tetes mata

Mata adalah organ penglihatan manusia yang rentan rusak, namun keberadaannya sangat vital. Merawat mata secara benar akan membuat organ penglihatan tersebut lebih sehat, dan terhindar dari gangguan berbagai penyakit. Sayangnya, tak semua orang paham cara membuat mata tetap terjaga kesehatannya.
Beberapa hal yang dianggap wajar sering dilakukan, padahal dapat membuat kondisi mata jadi rentan mengalami gangguan. Ini seperti dibahas oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Jatim, tepat pada World Sight Day 9 Oktober lalu.
Penyakit mata yang sering dialami oleh masyarakat adalah katarak, miopia, serta diabetes mata, demikian berdasarkan catatan dari Poli Mata RSUD dr Soetomo. Dr Delfitri Lutfi SpM juga mendukung data tersebut dengan menyatakan, “Paling tinggi itu katarak. Dari tahun ke tahun selalu nomor 1.”
Penyebab dari penyakit mata katarak ini antara lain adalah usia senja, biasanya terjadi di 50 tahun ke atas. Selain itu juga efek sinar ultraviolet yang mengenai mata secara langsung. Kebiasaan memakai tetes mata terlalu sering juga dapat memicu katarak, tambah dokter Delfitri.
Orang sering memakai tetes mata saat mata mengalami kering, merah, atau iritasi ringan. Seharusnya hal tersebut tak dilakukan sebab obat tetes mata harus diberikan dengan resep dokter. Alasannya, dalam obat tetes mata ada kandungan steroid yang jika berikan berlebihan akan memicu resiko kebutaan.
Dilansir oleh JPNN, alasan steroid sebaiknya tak dipakai berlebihan juga karena ada kandungan gula yang ada dalam steroid pada obat tetes mata. Ini akan mengganggu produksi cairan mata. Padahal cairan mata sangat penting bagi kesehatan mata.
Akibatnya lensa mata bisa keruh dan menimbulkan lapisan katarak. Proses ini memang berlangsung lama dan butuh waktu. Namun mencegah memang lebih baik dari pada mengobati.
sumber
http://sidomi.com/333465/pakai-tetes-mata-terlalu-sering-bikin-katarak/


Jumat, 24 Oktober 2014

Angka Kebutaan Tinggi, Indonesia Bentuk Asosiasi Dokter Mata

Angka kebutaan di Indonesia masih cukup tinggi. Sebagian besar kebutaan disebabkan oleh katarak yang tidak hanya menyerang orang lanjut usia atau dewasa, namun juga anak-anak. Selain menghambat aktivitas, kebutaan juga menjadi salah satu penyebab kemiskinan.

Angka kebutaan di Indonesia masih cukup tinggi, khususnya di Jawa Barat. Salah satu upaya memberantas kebutaan itu, Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung pun membentuk Asosiasi Dokter Mata Indonesia, bersamaan dengan peringatan World Sight Day 2014, yang jatuh pada 9 Oktober kemarin.
Direktur Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung, Hikmat Wangsaatmadja, SpM, Mkes, MM mengatakan, secara nasional jumlah kebutaan mencapai 1,5% dari total penduduk. Namun di Jawa Barat angka kebutaan ini di bawah rata-rata nasional, yakni 1,1% atau sekitar 480.000 orang. Jumlah pengidap di atas satu persen ini dapat dikatakan tinggi.
Padahal sebenarnya kasus kebutaan merupakan hal yang bisa dicegah. Presentase kesembuhannya bahkan bisa mencapai 60% sampai 80%. Sehingga menurut Hikmat, kasus tingginya angka kebutaan ini bukan lagi hanya masalah kesehatan tapi sudah mencakup masalah sosial.
“Masih banyak ketidaktahuan dari yang sakitnya untuk datang memeriksakan diri, untuk datang mau berobat. Kita berantas kebutaan ini untuk menghilangkan kemiskinan, karena orang buta tidak sekolah. Tidak bekerja ya miskin,” kata dr. Hikmat Wangsaatmadja.
Penyebab tertinggi kebutaan di Indonesia adalah katarak. Penyebab kebutaan lainnya yaitu infeksi, kelainan refraksi, gangguan retina, dan glaucoma. Pada umumnya kelainan mata terjadi dengan sendirinya. Meskipun ada faktor lain seperti genetik, makanan, dan lainnya. Misalnya katarak. Kini katarak tidak hanya menyerang orang lanjut usia dan orang dewasa, namun juga anak-anak, bahkan bayi juga bisa terserang katarak. Namun katarak masih bisa disembuhkan. Hanya saja pemahaman sebagian besar masyarakat mengenai penyakit katarak ini masih sangat minim.
“Kurang dari tiga meter untuk melihat kurang itu sebetulnya sudah masuk kriteria buta menurut WHO. Jadi bukan hanya yang gelap sama sekali, bukan itu. Tapi yang penglihatannya kurang dari tiga meter itu sudah bisa dikatakan buta.” kata dr. Mayasari Wahyu Kuntorini, SpM, Dokter Spesialis Mata.
Seorang penderita katarak, yang juga seorang buruh tani asal Majalaya, Kabupaten Bandung, Yani mengatakan, sebelumnya ia tidak tahu jika katarak bisa disembuhkan. Namun setelah mendapat penyuluhan dari relawan penyuluh Pusat Mata Nasional, Yani akhirnya menjalani operasi katarak di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung secara gratis.
“Dulu waktu sebelum umur 30-an kenanya (katarak), masih agak muda lah. Pertamanya (mata) yang kanan kena katarak, yang kirinya menyusul, kata Yani.
Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo terus berupaya mendidik warga untuk melakukan tindakan preventif dan memberikan penyadaran mengenai kebutaan. Selain itu, para petugas kesehatan di level yang bersentuhan dengan masyarakat, seperti puskesmas juga harus melakukan penyuluhan. Karena masalah kebutaan sudah masuk ke dalam ranah masalah sosial, sehingga harus dibentuk suatu komisi kebutaan.
Pentukan asosiasi mata ini diikuti oleh delapan rumah sakit mata di Indonesia, yaitu dari Jakarta, Surabaya, Bali, Yogyakarta, Bandung, dan Makassar. Asosiasi ini akan fokus mengatasi kebutaan yang terjadi di Indonesia.

sumber: http://www.voaindonesia.com/content/angka-kebutaan-tinggi-indonesia-bentuk-asosiasi-dr-mata-/2479486.html

6 Kelainan Mata yang Kerap Dialami Anak

SRIPOKU.COM - Tanda-tanda mata bermasalah pada anak sudah bisa dikenali sejak dini. Contohnya bila setiap menonton teve anak harus mendekat karena kurang terlihat, suka melihat dengan kepala miring atau memicingkan mata, atau ketika sudah sekolah, ia tidak bisa duduk di bangku belakang dan sering maju ke depan untuk melihat ke papan tulis.
“Ada anak yang penglihatannya kabur tapi takut memberi tahu orangtua karena orangtua suka mengancam. Akibatnya, anak juga jadi takut ke dokter,” kata dr. Florence M. Manurung, Sp.M, dari Jakarta Eye Center @Kedoya, Jakarta.
Sebagai orangtua, Anda juga perlu mengenali  beberapa kelainan mata yang kerap dialami anak :
1. Retinopathy of Prematurity  (RoP)
RoP adalah kelainan saraf mata karena kelahiran prematur. Bayi yang lahir prematur, pertumbuhan pembuluh darah retinanya belum sempurna. “Bisa terjadi komplikasi berupa perdarahan ke dalam rongga mata atau retina. Yang paling ditakutkan adalah kebutaan. Tapi, tidak semua bayi prematur terkena RoP.”
Untuk mencegah RoP, bisa dilakukan deteksi dini dengan alat-alat khusus. Pada RoP yang sangat berat bisa dilakukan tindakan bedah retina.
2. Kelainan Refraksi  
Kelainan refraksi adalah penurunan ketajaman penglihatan yang dapat dikoreksi dengan kaca mata. Bisa berupa mata minus, mata plus, maupun silindris. Kelainan refraksi bisa terjadi akibat faktor genetis maupun faktor lingkungan. Misalnya anak yang terlalu banyak membaca, menonton TV, bermain game, sehingga bentuk bola mata berubah. Gejala ini, banyak ditemukan pada anak usia Sekolah Dasar, yaitu 6 - 12 tahun.
Tanda-tanda kelainan refraksi mirip dengan mata malas, misalnya setiap kali menonton TV anak harus mendekat, suka melihat dengan kepala miring atau memicingkan mata, atau ketika sudah sekolah, ia tidak bisa duduk di bangku belakang.
3. Mata Malas ( ambliopia )
Sering juga disebut lazy eye , mata malas adalah gangguan mata berupa penurunan tajam penglihatan akibat adanya gangguan perkembangan penglihatan selama masa kanak-kanak. Gangguan ini umumnya mengenai salah satu mata saja, namun kadang-kadang ditemukan juga pada kedua mata. Penyebab mata malas bermacam-macam, mulai dari kelainan refraksi, mata juling, dan lainnya. Namun harus dibedakan antara mata juling dengan mata malas. Mata juling berkaitan dengan posisi yang salah, sementara mata malas lebih karena fungsi yang berkurang.
Untuk mengatasi mata malas, anak harus menggunakan matanya yang malas dengan terapi oklusi (patching ), yaitu menutup mata yang penglihatannya baik atau dengan tetes atropin pada mata yang baik.
Florence menegaskan, “Mata malas bisa disembuhkan dan bukan penyakit mata akibat keturunan. Namun pada anak dengan keluhan ini, sebisa mungkin harus diperbaiki sebelum anak berusia 4 tahun karena di usia itu otak masih fleksibel.”
4. Tumor Mata ( Retinoblastoma )
Sering juga disebut cat’s eye , retinoblastoma adalah penyakit tumor ganas primer pada anak yang tumbuh dengan cepat berasal dari sel retina mata. Penyakit ini tidak hanya dapat mengakibatkan kebutaan, melainkan juga kematian. Bila ditangani dengan tepat pada stadium dini, angka penyembuhan kanker ini dapat mencapai 95 - 98 persen dan penderita dapat mencapai usia dewasa.
Disebut cat’s eye (mata kucing) karena gejala atau tanda yang muncul di antaranya bola mata berwarna putih mengilat, sehingga kerap juga dikira katarak. Tindakan yang dilakukan adalah mengangkat bola mata.
5. Katarak
Ternyata, tak cuma orang dewasa yang bisa terkena katarak. Anak-anak pun bisa. Penyakit katarak terjadi karena kekeruhan lensa mata. Bisa terjadi mulai dari proses dalam kandungan, misalnya karena infeksi atau malnutrisi pada usia kanak-kanak. Katarak pada anak harus segera ditangani agar-anak dapat melihat dengan normal.
6. Glaukoma Kongenital
Disebut juga dengan buftalmos , yang berasal dari kata “buftal ” atau mata sapi. Gejalanya antara lain bola mata membesar. “Orang menganggap anaknya lucu seperti boneka karena matanya yang lebar, padahal bisa jadi itu karena ada kelainan glaukoma kongenital,” kata Florence. Ini terjadi karena aliran cairan mata di dalam tidak lancar dan mampet sehingga bola mata membesar. Jika dibiarkan tanpa tindakan, saraf ke otak bisa rusak akibat tekanan yang tinggi. Keluhan ini akan diatasi dengan operasi membuka saluran.
Selain kelainan-kelainan di atas, ada beberapa gangguan pada mata yang juga kerap menyerang anak antara lain konjungtivitis (mata merah), low vision , dan mata juling (strabismus ).
Hasto Prianggoro
sumber:
http://palembang.tribunnews.com/2014/10/24/6-kelainan-mata-yang-kerap-dialami-anak