Cari

Minggu, 10 Mei 2015

Waspada, Infeksi Kehamilan Picu Katarak Saat Bayi Lahir

Jakarta, HanTer - Penyakit katarak tidak hanya terjadi pada orang dengan usia lanjut (lansia), tapi juga oleh bayi baru lahir atau balita.

Dokter spesialis mata, Ni Retno Setyoningrum, mengatakan, katarak pada bayi bisa terjadi akibat penyakit bawaan orangtua maupun infeksi saat proses kehamilan.

Ia menjelaskan, jenis katarak yang diderita bayi ini adalah katarak kongenital atau penyakit selaput mata, yang merupakan suatu kondisi di mana lensa mata yang semula bersifat jernih berubah menjadi keruh dan kondisi ini terdeteksi setelah kelahiran.

“Sebagian besar penyakit katarak diderita oleh pasien berusia lebih dari 60 tahun, tetapi katarak bawaan bisa dialami oleh anak-anak sejak kecil, dan ini perlu untuk diwaspadai untuk mencegah kebutaan,” kata dokter dari Jakarta Eye Center (JEC) ini, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Meski jumlah penderitanya sedikit, yakni hanya 0.4 persen dari seluruh kelahiran hidup, ia mengatakan, katarak kongenital tidak bisa diremehkan begitu saja karena dapat mengakibatkan kebutaan permanen pada anak-anak.
Diperlukan peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit ini dan diimbau melakukan pemeriksaan mata anak sedini mungkin.

Ia menuturkan, penyebab katarak kongenital bermacam-macam. Umumnya, karena terjadi infeksi pada kehamilan trisemester pertama. Infeksi bisa diakibatkan oleh virus rubella, toxoplasma, dan cytomegalovirus. Sementara, faktor lainnya disebabkan oleh faktor keturunan atau genetik, masalah metabolisme, ibu hamil penderita diabetes, trauma (benturan), inflamasi atau reaksi obat.

“Khusus untuk infeksi kehamilan akibat rubella, bukan hanya bisa sebabkan katarak kongenital, tapi juga tuli dan masalah pada jantung,” ujarnya.

Ia menyarankan kepada setiap ibu hamil untuk memeriksakan diri kepada dokter guna mencegah infeksi kehamilan akibat virus rubella. Jika anak yang dilahirkan terlanjur mengalami katarak, harus ditangani sedini mungkin. Pasalnya, dampak sosial dari kebutaan yang diakibatkan kataran sangat buruk bagi perkembangan anak.

“Seorang bayi yang menderita katarak dan tidak segera dilakukan langkah operasi akan mengakibatkan munculnya gejala ambliopia. Sederhananya, jika orang sampai ambliopia, pakai kacamata apapun penglihatan tidak bisa kembali normal,” kata Ni Retno.

Menurut Retno, ciri-ciri bayi mengalami katarak bisa dikenali dengan kasat mata. Di mana, pupil pada mata anak akan terlihat putih, bukan hitam.

Kondisi ini menyebabkan penglihatan anak tersebut menjadi kabur dan terbatas. Mereka juga sulit untuk mengenali objek yang kecil dan halus. Anak dengan masalah ini menunjukkan gejala silau pada cahaya matahari dan perkembangan fisik yang lambat dari anak normal yang lain.

Ia mengungkapkan, kabar baiknya kebutaan pada katarak kongenital sangat mungkin dicegah. Secara global, terdapat 1,4 juta kebutaan pada anak dan hampir setengahnya dapat di cegah.

Kendati begitu, dalam penanganan pasien anak butuh perhatian khusus yang sedikit lebih ekstra bila dibandingkan dengan pasien dewasa.

“Pada pasien anak, prosedur operasi katarak menjadi lebih kompleks bila dibandingkan dengan pasien dewasa, sehingga prosedur operasi dilakukan dengan anastesi umum untuk menjamin kelancaran dan kenyamanan operasi,” tuturnya.

Tidak hanya itu, pasien juga harus menjalani pemeriksaan pra opersi terlebih dahulu, yang meliputi kondisi awal sebelum dilakukannya operasi.

“Ini untuk memastikan perlu tidaknya ditanam lensa intraokular sampai dengan pemerikasaan kondisi keseluruhan pasien agar benar-benar siap menjalani operasi katarak,” ujarnya.

Berdasarkan data yang ada, di Indonesia sedikitnya terdapat tiga juta orang buta. Sebagian besar dari penderitanya tidak memiliki kemampuan untuk hidup mandiri. Keterbatasan fisik itu membuat upaya mencari pekerjaan sangat sulit.

“Ada sih beberapa pasien buta yang sukses jadi penyanyi atau pemain piano. Tetapi proporsi pasien buta yang tidak punya pekerjaan jauh lebih banyak. Banyak dari mereka yang menggantungkan hidup dari mengemis atau menjadi pengamen,” pungkasnya.
(Sipri)
sumber : http://www.harianterbit.com/hanterhumaniora/read/2015/04/27/26501/40/40/Waspada-Infeksi-Kehamilan-Picu-Katarak-Saat-Bayi-Lahir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar