Cari

Senin, 29 Agustus 2016

Kelebihan Garam Tingkatkan Risiko Katarak

Terlalu banyak mengonsumsi garam meningkatkan risiko katarak dan kerusakan retina. Demikian hasil penelitian Penido Burnier Institute di Brasil yang dirilis Pravda.

Di Brasil, katarak dan kabur lensa mata, tumbuh lebih cepat daripada populasi 60 tahun ke atas, meskipun penyakit ini berhubungan dengan penuaan. Menurut dokter spesialis mata Penido Burnier Institute, Leoncio Queiroz Neto, salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kedua hal itu adalah konsumsi garam yang tinggi.Survei yang dilakukan Brazilian Institute of Geography and Statistics menunjukkan bahwa Brasil terus mengonsumsi garam lebih dari yang direkomendasikan, bahkan setelah pengurangan terbaru natrium pada beberapa makanan olahan. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) merekomendasikan 5 gram garam per hari, namun warga Brasil mengonsumsi dua kali lipat yakni 12 gram per hari.

Menurut Leoncio, garam mengatur cairan ekstraseluler dan zat dalam tubuh kita. Penggunaan yang tidak sesuai dapat mengantisipasi pembentukan katarak dan menghalangi pemeliharaan tekanan osmotik antara sel-sel kristal sehingga membuat penglihatan menjadi buram. Para ahli menilai, Brasil tidak melihat hal ini sebagai hal yang serius karena efeknya tidak dirasakan langsung.

Selain mengontrol asupan garam, untuk mencegah katarak adalah menggunakan lensa dengan perlindungan ultraviolet dalam kegiatan luar ruangan. Lensa gelap tanpa perlindungan ultraviolet lebih buruk daripada tidak menggunakan apa-apa karena memungkinkan penetrasi radiasi ke mata.

sumber: 
http://rona.metrotvnews.com/read/2014/10/07/301722/kelebihan-garam-tingkatkan-risiko-katarak


Jumat, 26 Agustus 2016

Sinar Matahari Tingkatkan Risiko Sakit Mata

Liputan6.com, Jakarta Sebagian besar masyarakat hidup dengan berkegiatan di luar ruangan. Misalnya untuk makan, bekerja, hingga sekedar jalan-jalan. Tapi tahukah Anda bahwa sering berkegiatan di luar pada siang hari meningkatkan potensi sakit mata?

Dilansir dari Health Day pada Rabu (8/10/2014), penelitian terbaru menunjukkan bahwa radiasi ultraviolet berpotensi untuk meningkatkan risiko penyakit mata, seperti katarak dan glaukoma.
Penelitian yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan dari Harvard Medical School, Massachusetts Eye dan Ear Infirmary ini berkesimpulan bahwa mereka yang tinggal jauh dari garis khatulistiwa berpotensi 11 persen mengalami katarak dan galaukoma.

Penelitian juga menunjukkan bahwa jika setiap jam per minggu dihabiskan di luar ruangan selama musim panas, maka risiko mengalami penyakit mata akan meningkat 4 persen.
Meskipun demikian, para peneliti juga mengatakan bahwa selain sinar UV, penyakit mata juga disebabkan karena faktor genetik dan lingkungan.

Dengan hasil penelitian ini, para ilmuwan menyimpulan bahwa penggunaan kacamata anti-UV semakin harus segara diterapkan untuk mencegah semakin meluasnya penyakit mata.

sumber : http://health.liputan6.com/read/2116122/hati-hati-sinar-matahari-tingkatkan-risiko-sakit-mata


Senin, 22 Agustus 2016

Meningkatkan Kualitas Hidup Penderita Katarak

Selasa, 02 Agustus 2016, 16:15 WIB
Penderita katarak di Indonesia setiap tahunnya terus meningkat sebanyak 0,1 persen dari total jumlah penduduk. Kementerian Kesehatan bahkan menyebutkan bahwa katarak menjadi penyebab 50 persen kebutaan di negara ini.

Sejauh ini, pemerintah bersama-sama dengan pihak swasta sudah berusaha menurunkan angka penderita katarak melalui berbagai macam cara, salah satunya dengan melakukan operasi katarak gratis. Cara ini juga dijalankan oleh Gerakan Matahati dan Jakarta Eye Center (JEC),  baru-baru ini.

Sejalan dengan visi pemerintah mewujudkan Indonesia bebas buta katarak pada 2020, Gerakan Matahati dan Jakarta Eye Center (JEC) melakukan Kick Off 910 Operasi Katarak Gratis di RS Mata JEC Kedoya, Jakarta. Presiden Direktur JEC Korporat & Direktur Utama JEC Kedoya Johan A Hutauruk mengatakan, katarak atau kekeruhan lensa mata masih menjadi salah satu penyebab kebutaan terbanyak di dunia. Untuk itu, sebagai pusat layanan kesehatan mata, JEC selalu menyambut baik keterlibatan dan dukungan dari berbagai pihak untuk menekan angka kebutuaan akibat katarak.

"Kali ini kami bekerja sama dengan Gerakan Matahati. Kami berharap ke depannya akan semakin banyak mitra kerja yang turut mendukung kegiatan ini sehingga dapat mempercepat tercapainya visi pemerintah dalam mewujudkan Indonesia bebas buta katarak," kata Johan di Jakarta.

Gerakan Matahati merupakan lembaga yang mengupayakan pelaksanaan operasi gratis bagi penderita katarak yang tidak mampu. Selain Jakarta, kegiatan ini akan berlangsung di beberapa kota secara bertahap hingga tercapai 910 orang.

Ketua pelaksana Matahati, Wandi S Brata, mengatakan, Gerakan Matahati telah rutin membantu pelaksanaan operasi katarak bagi masyarakat tidak mampu sejak awal berdirinya pada 2008.

"Sampai Maret 2016, Matahati telah melakukan 14.825 operasi bagi sekitar 18.025 pasien tidak mampu. Kami ingin berbagi kasih kepada mereka yang memerlukan tindakan operasi katarak," katanya. Dia berharap, kegiatan 910 Operasi Katarak tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup pasien katarak.

Selain itu, sebagai rumah sakit mata yang telah mendapatkan standar Joint Commission International (JCI) dari AS, JEC Kedoya hendak menerapkan layanan kesehatan mata berstandar internasional dalam setiap pelaksanaan tindakan operasi, mulai dari tahap pra, intra, hingga pascaoperasi. "Standar pelayanan internasional ini juga berlaku dalam pelaksanaan Bakti Katarak tahun ini. Penerapan teknologi terkini dalam prosedur operasi mempercepat proses pengangkatan katarak dan waktu pemulihan pascaoperasi relatif lebih singkat," kata Ketua Service Katarak dan Bedah Refraktif JEC sekaligus Direktur Utama JEC Menteng, Dr Setiyo Budi Riyanto, SpM (K). rep: Aprilia Safitri Ramdhani ed: Khoirul Azwar

sumber : 
http://www.republika.co.id/berita/koran/csr-koran/16/08/02/ob9z1312-meningkatkan-kualitas-hidup-penderita-katarak

Jumat, 19 Agustus 2016

Awas, Katarak Tak Hanya Serang Lansia, Anak Muda Pun Bisa Terkena, Ini Penyebabnya

SURYA.co.id | SURABAYA 
Katarak, penyakit mata yang bisa menyebabkan kebutaan, menjadi ancaman tersendiri bagi masyarakat Indonesia.
Data yang ada, 1 persen dari total jumlah masyarakat di Indonesia menderita katarak dan sebagian di antaranya mengalami kebutaan.
Hal itu disampaikan Kepala Rumah Sakit (Karumkit) RSAL Ramelan Surabaya Laksmana pertama TNI dr IDG Nalendra dalam acara bakti sosial (baksos) operasi gratis katarak bagi 150 masyarakat Jawa Timur, Rabu (3/8/2016).
Menurut Nalendra, penyakit katarak ini menjadi ancaman tersendiri, sebab penyakit jenis ini tidak bisa dideteksi sejak dini.
Mayoritas penderitanya, mulai terasa terganggu pandangannya saat memasuki usia lanjut atau mulai 40 tahun ke atas.
"Gejala penderita katarak adalah salah satu matanya kabur saat digunakan melihat," katanya.
Meski banyak data yang menyebut penderita katarak ini adalah orang tua , bukan berarti usia muda tidak bisa terserang.
Nalendra mengatakan, saat ini, sudah banyak orang yang masih berusia sekitar 25 tahun lebih terserang katarak.
"Faktornya mungkin karena infeksi, atau kelainan sejak lahir. Makanya harus waspada," imbuhnya.
Untuk menghilangkan katarak ini satu-satunya cara lewat operasi.
Sayangnya, tidak banyak orang yang mau operasi karena beberapa alasan, mulai dari takut dan sebagainya.
Namun, tertinggi karena alasan biaya, sehingga mereka tidak melakukan operasi.
"Kalau tidak dioperasi bisa bahaya, bisa menyebabkan kebutaan," jelasnya.
 
Operasi Katarak Cukup dengan Rp.3.750.000/mataJAKARTA

info lebih lanjut:
Philips: 0855 789 10 25
Ravael: 0813 190 429 60

Senin, 15 Agustus 2016

Gubernur Syahrul Minta Bupati Anggarkan Operasi Katarak di APBD

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo menginstruksikan agar kepala daerah di kabupaten/kota menganggarkan operasi katarak secara gratis di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Hal itu diungkapkan Syahrul Yasin Limpo saat menghadiri workshop Advokasi Program Kesehatan Mata di Makassar Golden Hotel, Selasa (9/8/2016).
“Katarak akan terjadi pada semua orang karena faktor usia. Namun, semua bisa dicegah kalau strategi, masalah penanganan mata, baik dari segi pencegahan maupun penanganan kesehatan mata bisa dilakukan, termasuk operasi katarak,” ujar Syahrul Yasin Limpo.
Olehnya itu, Syahrul Yasin Limpo telah menginstruksikan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami) Sulsel, Lions Club, dan Komite Mata Nasional, untuk merumuskan seperti apa konsep yang bisa dilakukan untuk mencegah tingginya gangguan kesehatan mata, khususnya kebutaan akibat katarak.
“Masa ada rumah sakit yang belum punya peralatan untuk operasi mata. Itu kelewatan,”kata Syahrul.
Menurutnya, salah satu indra yang penting adalah mata. Karena itu, rumah sakit harus ada perawatan khusus mata.
“Nanti Kadis Kesehatan menyurati rumah sakit agar menyiapkan alat dan kabupaten/kota harus konsentrasi disitu,” tegas Syahrul.
(dian mega/pojoksulsel)
sumber: http://sulsel.pojoksatu.id/read/2016/08/09/gubernur-syahrul-minta-bupati-anggarkan-operasi-katarak-di-apbd/
semoga berjalan dengan baik