Cari

Selasa, 08 November 2016

Penyandang Tunanetra di Jabar Tinggi, Netty: Bisa Dicegah dan Disembuhkan

Bandung - Sebanyak 430 ribu warga di Jawa Barat merupakan penyandang tunanetra. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar atau setara 1,5 persen penduduk di Indonesia. Kondisi ini tentunya menjadi perhatian khusus bagi Pemprov Jabar.

Ketua Bank Mata Jabar Netty Prasetyani Heryawan mengatakan penyandang tunanetra di Jabar sebagian besar disebabkan oleh katarak atau gangguan penglihatan karena paparan sinar ultraviolet berlebihan yang berlangsung secara terus menerus.

"Ada enampuluh persen disebabkan oleh katarak, sementara sisanya disebabkan oleh glaukoma, refraksi dan faktor genetis," ujarnya usai menghadiri acara pemberian 1.000 Al-Quran digital index braille, di Trans Luxury Hotel, Jalan Gatot Subroto, Senin (7/11/2016).

Berdasarkan data yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kasus kebutaan karena faktor genetis hanya berkisar 2 persen. Jumlah tersebut terbilang sangat kecil sehingga mengindikasikan bahwa kebutaan bisa dicegah dan disembuhkan.

Beberapa upaya tengah dilakukan bank mata guna menanggulangi masalah tunanetra itu. Di antaranya dengan melakukan operasi katarak gratis dan berbagai penyuluhan langsung sebagai upaya pencegahan terjadinya kelainan pada mata.

"Untuk pencegahan kita assement warga yang sudah mulai mengalami gangguan glaukoma kerusakan retina, dan refraksi. Salah satunya membagikan kaca mata gratis, tetapi kendalanya masalah anggaran," tutur Netty.

Yayasan Baitul Alkhairiyah yang konsen membantu para penyandang tunanetra siap membantu kendala yang tengah dihadapi pemerintah Provinsi Jawa Barat guna menanggulangi masalah keterbatasan penglihatan itu. Yayasan ini berencana memberikan bantuan berupa kacamata khusus bagi para penyandang tunanetra. 

"Intinya kami siap membantu para penyandang tunanetra. Setelah pembagian Alquran digital inedx braille ke depannya, kami pun berencana memberikan bantuan seperti kacamata untuk tunanetra bekerja sama dengan beberapa donor dari luar negeri," ujar Ketua Yayasan Baitul Alkhairiyah Nadia Bawazir.Yayasan Baitul Al Khairiyah menyumbangkan Alquran Digital Index Braille kepada 1.000 penyandang tunanetra di Jawa Barat. Bantuan diberikan terdiri dari pena braile dan buku panduan berisi indeks surat Alquran. Kedua alat tersebut nantinya berfungsi untuk menuntun tunanetra membaca Alquran.

"Kami kasih satu paket buku panduan dan pena braille itu. Karena tidak bisa hanya satu alat saja, butuh dua-duanya," kata Pembina Yayasan Baitul Al Khairiyah Nina Bawazir.

Dia menjelaskan kegunaan pena braille itu mendeteksi indeks surat Alquran yang tertera pada buku panduan. Nantinya, sambung dia, pena braille itu akan mengkonversinya melalui suara sesuai dengan surat yang ditunjuk oleh pena braile. "Jadi mereka tinggal mengarahkan surat yang ingin dibaca atau didengar. Pena braille itu juga bisa mendeteksi terjemahan dalam bahasa Indonesia. Buku panduan itu berjumlah sepuluh halaman," tuturnya.

"Mereka juga bisa memilih beberapa nama-nama syiekh (Qari) sesuai keinginan masing-masing," ucap Nina menambahkan.Ketua Yayasan Baitul Al Khairiyah Nadia Bawazir mengatakan Alquran Digital Index Braille ini merupakan produksi negara Singapura. Mereka sengaja memesan untuk dibagikan kepada penyandang tunanetra di Indonesia khususnya Jabar. "Kami pesan khusus dalam bahasa Indonesia baik panduan dan suaranya (untuk terjemahan). Harganya 100 dolar perpaket," ucap Nadia.

Ia mengatakan sejauh ini pihaknya baru membagikan kepada 1.300 penyandang tunanetra di Jabar. Kedepannya, sambung dia, ia berharap akan terus bertambah berkat kerjasama dengan lembaga sosial dan Dubes dari Kuwait. "Mereka berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan kami. Sejauh ini sudah ada 18 kabupaten/kota yang terdata oleh kami untuk menerima bantuan," ujar Nadia. 
(bbn/bbn) 
sumber: http://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3339608/penyandang-tunanetra-di-jabar-tinggi-netty-bisa-dicegah-dan-disembuhkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar